Merawat Kuningan Dalam Ingatan

Gedung-gedung berdiri angkuh. Meninggalkan pucuk-pucuk pohon jauh-jauh. Menantang langit yang abu-abu. Sementara itu, mobil berjalan enggan di tengah jalan tol yang padat. Deru mesin bersahut-sahutan bagai segerompolan gagak yang lapar. Sesekali bunyi klakson, alat bor, dan suara mesin-mesin konstruksi memekakkan telinga. Jakarta yang gerah di daerah Kuningan yang mewah.

Berbicara tentang Kuningan, berbicara tentang sebuah kota yang sedang merias diri. Dimana-mana yang terlihat adalah pembangunan. Yang mulus semakin dimuluskan, yang megah semakin digagahkan. Manusia hanya semut-semut kecil yang berseliweran di antara kaki-kaki modernisasi. Baca lebih lanjut

Kopi Gunung Puntang; Menanam Untuk Merawat

Biji kopi ditanam untuk kelestarian alam serta merawat gunung sebagai sumber kehidupan.  -Murbeng Puntang

Hampir Maghrib ketika saya dan teman-teman dibawa oleh Kang Fauzan ke lapak pengeringan kopi miliknya, setelah sebelumnya menyempatkan mampir ke Haben Nagen usaha gerai kopi yang juga dimiliki oleh Kang Fauzan sendiri. Dasar pengolahan kopi hingga menjadi green bean yaitu metode naturalhoney, dan full-washed dikenalkan oleh Pak Rudi, salah seorang pekerja di sana. Nah, pengetahuan dari Pak Rudi ini menjadi bekal selanjutnya untuk bertamu ke tempat Ayi Sutedja, seorang pembudidaya tanaman kopi Gunung Puntang yang namanya sempat menjadi pembicaraan para Q-grader di ranah internasional pada tahun 2016 lalu. Baca lebih lanjut

Menteng; Kenangan dan Hal-hal yang Menggantikannya

Ada kedamaian yang pelan-pelan menguasai hati saya, saat siang yang cerah itu saya dan sekitar tiga puluh teman dari komunitas Ngopi Jakarta berjalan-jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Selama ini saya sering berkhayal, betapa menyenangkan seandainya bisa melakukan perjalanan ke masa silam. Menyapa mereka yang hidup di zaman itu dan melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Merasakan sendiri menjadi rakyat dari sebuah bangsa yang belum memiliki nama.

Dan di kawasan yang menyimpan banyak kenangan sejarah siang itu, saya membayangkan menjadi musafir dari masa depan yang jauh. Saya menyaksikan dari dekat kesederhanaan orang-orang zaman itu dan menebak-nebak apa yang sulit mereka percaya seandainya berkunjung ke masa kini. Baca lebih lanjut

Napak Tilas dari Cawang ke Kramat Jati

Biasanya jam sembilan malam bus jurusan Sukabumi sudah enggak ada yang lewat. Di depan gereja HKBP itu puluhan penumpang mengantre bus langganan seperti laju Utama, Daya Tunggal, dan Agra Mas. Bagi yang mengarah ke Sukabumi pilihan pun terpaksa beralih ke mobil omprengan yang hanya sampai Pasar Ciawi. Yang ke Bogor masih mending karena tujuannya sampai Terminal Baranang Siang. Selain di depan gereja HKBP di Jalan Perindustrian, jalan terusan tol Cikampek menuju jalan D.I Panjaitan juga biasa menjadi terminal bayangan. Di sekitar simpang besar Cawang itu, beberapa pedagang kaki lima masih asyik menjajakan barang dagangan tanpa rasa takut.

Ketika kemarin menyusun kegiatan NgoJak ini saya senantiasa mengingat cerita di atas. Masa di mana kali pertama menjadi anak urban; berangkat Senin subuh di awal pekan, lantas pulang di Jumat malam di ujung pekan. Begitu seterusnya sampai berita menyedihkan itu tiba, bus AKAP tak boleh melintas kawasan Cawang UKI per tanggal 14 Mei 2009. Ongkos menjadi lebih mahal karena harus ke Kampung Rambutan atau ke Pulogadung dan Kalideres. Namun saya masih mengalami sebuah masa di mana menurunkan penumpang masih bisa dilakukan di simpangan menuju Tol Dalam Kota dan Tol Wiyoto Wiyono, sehingga menuju Cawang UKI tinggal melalui semak-semak yang berakhir tepat di Jalan Mayjen Sutoyo. Baca lebih lanjut

Rumah yang Mengakumulasi Kerinduan

… Suasana Desa Komplang yang gelap, sepi dan tidak menyajikan tawaran “apa pun” untuk dinikmati menjadikan Sapardi memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah. Ia menegaskan, “Mungkin karena suasana ‘aneh’ itu menyebabkan saya memiliki waktu luang banyak dan ‘kesendirian’ yang tak bisa saya dapatkan di tengah kota.”

Akan tetapi, tampaknya, keputusannya untuk lebih banyak tinggal di rumah dan menikmati “kesendirian” itu tidak menghentikan kegiatan kluyuran-nya. Adapun kluyuran yang dimaksud bukan kluyuran dalam arti fisik di dunia nyata, melainkan di dunia batinnya sendiri. Dengan kata lain, Saparti terus-menerus melakukan pengembaraan. Jelasnya, dengan sanubarinya, sambil membongkar-pasang kata, untuk mendengarkan secara lebih jelas dan terang, bisikan yang diucapkannya padanya (Soemanto, 2006: 7-8). Baca lebih lanjut