Merawat Kuningan Dalam Ingatan

Gedung-gedung berdiri angkuh. Meninggalkan pucuk-pucuk pohon jauh-jauh. Menantang langit yang abu-abu. Sementara itu, mobil berjalan enggan di tengah jalan tol yang padat. Deru mesin bersahut-sahutan bagai segerompolan gagak yang lapar. Sesekali bunyi klakson, alat bor, dan suara mesin-mesin konstruksi memekakkan telinga. Jakarta yang gerah di daerah Kuningan yang mewah.

Berbicara tentang Kuningan, berbicara tentang sebuah kota yang sedang merias diri. Dimana-mana yang terlihat adalah pembangunan. Yang mulus semakin dimuluskan, yang megah semakin digagahkan. Manusia hanya semut-semut kecil yang berseliweran di antara kaki-kaki modernisasi. Baca lebih lanjut

Beristirahatlah, Jakarta!

Wajah-wajah kelelahan nampak dalam setiap peron stasiun KRL, halte busway, angkot, ojek-ojek online yang nantinya akan membawa mereka kembali pulang ke naungan masing-masing. Pada setiap sore, menjelang malam, mendekati pergantian hari, terus berulang lagi di keesokan hari. Dalam lelahnya, mereka memisahkan dari dunia nyata dan membangun tembok sendiri-sendiri. Dunia yang terdiri dari; ‘dirinya-dan-gawainya’.

Bermacam informasi -yang tak jarang dibaca dari portal berita karbitan- dilahap dalam waktu sepersekian jam di perjalanan. Dilanjut dengan membuka media sosial, membaca lagi tautan-tautan berita yang dibagikan oleh lingkaran pertemanan setelah dibubuhi caption lengkap dengan tagar terhadap suatu isu yang lagi hangat-hangatnya. Lalu atas dasar karena merasa ikut tahu dengan isu tersebut, atau hasrat ingin memberikan pandangan lain, tidak sepakat atas opini teman, maka tak afdol rasanya jika tak turut memberikan komentar. Yang padahal, ternyata mereka ini berada dalam kondisi serba diburu waktu, dan media-media pada gawainya hanya dijadikan tempat pelarian dari kelelahan. Baca lebih lanjut

Besar Kecil

Tidak ada yang salah dengan kategorisasi, selama indikatornya diletakkan pada ordinat dan subordinat yang obyektif. Yang keliru adalah perasaan dan pengakuan. Yang salah arah adalah manusia yang merasa besar sehingga merasa boleh dan perlu bertingkah sebagaimana orang besar dalam pemikirannya.

Anak-anak kelak akan menghadapi kebingungannya sendiri. Di rumah, mereka diajari untuk mengambil barang sendiri, membawa tas dan peralatannya tanpa bantuan orang lain, diminta tumbuh besar dan mandiri. Orang-orangtuanya berkata sungguh-sungguh, “Ayo, kamu sudah besar, Nak.”

Tapi, realitas di luar sana juga begitu sungguh-sungguh menyuguhkan paradoks. Mereka yang dibukakan pintu ketika masuk hotel, pintu mobilnya terbuka oleh tangan orang lain, tasnya dijinjingkan, makanannya dibawakan petugas berseragam jaket dan helm, dan menyeberang jalannya di depan pusat belanja perlu bantuan petugas berpentungan dan peluit. Hingga ketika mereka naik lift di mal-mal, mereka akan malu untuk protes lagi, “Padahal, aku mau pencet lift-nya sendiri,” karena ada petugas yang digaji untuk wara-wiri naik-turun hanya di dalam lift.

Apa makna besar dan apa makna kecil sesungguhnya? Ketika manusia tumbuh dari setetes sperma yang berjumpa ovum, lalu tumbuh dalam rahim, dilahirkan dan mendapati tinggi badannya selalu beranjak naik; itukah ‘besar’? Atau, ketika manusia bersusah payah menambah bintang di pundaknya, menempelkan gelar di depan dan belakang namanya, berkeringat untuk naik dari golongan I ke IV, menyisihkan uang untuk berlibur di gedung berbintang dan wisata cemerlang, punya banyak pengikut di dunia maya atau nyata, bekerja keras siang malam untuk naik mobil dan tidur di rumah mewah; itukah ‘besar’? Baca lebih lanjut

Mandi-mandi di Kampung Tugu

Stasiun Jakarta Kota sebagai titik berkumpul sejak pagi. Lalu menuju Stasiun Tanjung Priok sebagai tempat singgah perkenalan peserta yang mengikuti acara Ngojak edisi “Mandi-Mandi Kampung Tugu”. Di Stasiun Tanjung Priok, dua mobil angkutan umum pun disewa. Baru setengah perjalanan rupanya teringat ada yang ketinggalan, “Ya ampun, ada yang ketinggalan nih. Coba lihat grup WhatApp” ujar Putri, salah satu peserta yang ikut. Di tengah perjalanan pun ada kejadian lucu, salah satu angkutan yang kita sewa mogok dan bannya gembos, entah karena keberatan beban masa atau banyak dosa.

Kampung Tugu sendiri terletak di Jakarta Utara. Daerah yang menyimpan catatan sejarah penting, khususnya dalam perkembangan budaya kota Jakarta. Di sinilah, para mardijkers, -sebutan untuk para budak Portugis Hitam- dibebaskan sebagai tawanan perang oleh Belanda. Masih menurut catatan; mereka yang sebagian besar penganut Protestan tersebut kemudian diberi lahan di Kampung Tugu dan terus menetap hingga beranak cucu. Baca lebih lanjut

Playmate

Kita semua tentu punya kawan bermain, teman sepermainan, atau bahasa kerennya playmate. Saya pun demikian. Namun, kalau boleh saya tanya, sejauh apa sih tali sepermainan itu masih terjalin hingga kini?

Mungkin saya boleh sedikit berbangga, karena tali sepermainan saya di Taman Kanak-kanak masih terbungkus baik sampai sekarang. Yup, di usia yang tidak lagi muda, silaturahmi dengan teman sepermainan dari TK hingga SMA masih terjaga. Saya hanya bisa berucap alhamdulillah.

Percaya atau tidak, pertemanan yang erat meski terkadang timbul-tenggelam, saya rasa tak akan lekang oleh waktu. Sekali lagi, boleh percaya atau tidak, lho. Karena itu yang saya alami. Rumah boleh berpindah, hobi bisa berubah. Tapi tali “sepermainan” tidak kenal semua itu. Baca lebih lanjut