Lima Lagu Tentang Jakarta

Jakarta (dan banyak kota besar lain) adalah magnet yang sangat besar untuk orang-orang daerah yang mempunyai anggapan classic rock akan harapan kehidupan yang lebih baik. Sesaknya tiap-tiap ruang yang ada di Jakarta tak lepas dari orang-orang urban semacam ini. Jakarta bagai laut yang menampung muara anak sungai yang mengalir ke sana, ada banyak riak juga keruh berkelindan bersamanya. Kota yang diumpati seribu umat.

Meski begitu, seberapapun seringnya kita misuh-misuh tentang Jakarta, nyatanya Jakarta tetap ada dalam sudut hati yang paling tak terjamah. Jika kalian meninggalkan kota ini, katakanlah sedang tugas di luar kota atau hal lain yang membuat kalian meninggalkan kota ini untuk beberapa waktu. Pada akhirnya rindu terlarang itu datang juga. Kalian mulai merindukan macetnya, berdesakan dengan orang-orang di KRL, atau juga pemandangan warung pinggir jalan yang memakan ¾ badan jalan. Untung saja Jakarta bukanlah kota yang buruk-buruk amat untuk membuat bungah, meski dalam kadar yang tak pernah benderang. Untungnya lagi, dalam suasana seperti itu masih ada seniman yang membuat karya mengenai kota Jakarta. Ini adalah deretan lima lagu tentang jakarta yang mungkin bisa mengobati rindu terlarang kalian jika sedang tidak di Jakarta. Jakarta adalah paradok itu sendiri, kota yang menawarkan harapan lebih baik di samping kemiskinan yang tidak lebih baik. Baca lebih lanjut

Iklan

Telusur Batavia: Jelajah Kota Taman Pertama di Indonesia

Jakarta tidak serta merta menjadi kota megapolitan penuh polutan. Sang ibukota punya cerita di balik bilik-bilik beton yang menjulang. Sekilas tampak modern mengikuti zaman. Namun, jika kita telusuri lagi, sudut-sudutnya menyimpan kisah menarik pembangunan bangsa

Bersama komunitas Ngopi Jakarta (NgoJak), berkesempatan menelusuri kawasan Menteng. Perumahan elit pada zamannya hingga kini, dengan susunan ruas jalan yang unik. Terlihat dari denah kawasan di mana banyak patahan-patahan jalan dan persimpangan yang tidak lazim. Sebelum mengikuti penelusuran ini, para peserta yang mendaftarkan diri telah diberi bekal informasi mengenai lokasi yang akan dikunjungi berupa denah, gambar dan data-data lainya.

Hari libur nasional memperingati Kenaikan Isa Almasih, 25 Mei 2017, dipergunakan untuk bersama-sama menengok kembali apa yang pernah ada di Menteng. Berkumpul di Stasiun Cikini, dimulai pukul 09.00 dengan pembukaan dan saling berkenalan satu dengan lain.

Menurut Adolf Heukeun, kawasan Menteng merupakan kota taman pertama di Indonesia bahkan se-Asia Tenggara yang dibangun antara 1910 dan 1918. Pemuka agama Khatolik sekaligus ahli sejarah Jakarta ini telah menerbitkan buku-buku mengenai sejarah Jakarta seperti Masjid-masjid Tua di Jakarta; Gereja-gereja Tua di Jakarta; Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta; Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta;Atlas Sejarah Jakarta; Galangan Kapal Batavia Selama Tiga Ratus Tahun; Menteng, Kota Taman Pertama Indonesia. Buku terakhir menjadi panduan penelusuran kami kali ini. Baca lebih lanjut

Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai

Minggu ini sebenarnya kurang cocok untuk bernostalgia. Jiwa raga saya banyak tersita untuk urusan masa depan. Membuat banyak perencanaan, untuk rumah tangga dan terutama untuk kepentingan perusahaan. Angka-angka dalam konteks pendapatan, biaya, cicilan, sampai ke perjanjian penjualan dan rebate fee klien, hadir sejak Senin pagi. Yang saya lakukan persis seperti apa yang saya kritisi di tulisan sebelumnya tentang “Manusia Jakarta” yang hidupnya banal dan sempit waktu. Tidak cukup waktu dan/atau kemampuan untuk membaca, baik buku, ataupun kehidupan. Pergi pagi pulang malam, tidur sebentar untuk kemudian berangkat lagi pagi hari berikutnya.

Namun obrolan di grup pegiat inti Ngojak, atau tertasbihkan dengan nama Grup Komisaris Ngojak, akhirnya sukses menjadi rem yang pakem untuk saya, manusia Jakarta yang meluncur mengikuti arus deras yang memabukkan ini. Obrolan membuat saya merasa harus kembali ke 12 November 2016. Tepatnya ke Ngojak #3, yang berjudul Jakarta, Sebuah Awalan. Perjalanan ini ternyata belum tercatatkan oleh siapapun. Baca lebih lanjut

Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya.

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja. Baca lebih lanjut

Merawat Kuningan Dalam Ingatan

Gedung-gedung berdiri angkuh. Meninggalkan pucuk-pucuk pohon jauh-jauh. Menantang langit yang abu-abu. Sementara itu, mobil berjalan enggan di tengah jalan tol yang padat. Deru mesin bersahut-sahutan bagai segerompolan gagak yang lapar. Sesekali bunyi klakson, alat bor, dan suara mesin-mesin konstruksi memekakkan telinga. Jakarta yang gerah di daerah Kuningan yang mewah.

Berbicara tentang Kuningan, berbicara tentang sebuah kota yang sedang merias diri. Dimana-mana yang terlihat adalah pembangunan. Yang mulus semakin dimuluskan, yang megah semakin digagahkan. Manusia hanya semut-semut kecil yang berseliweran di antara kaki-kaki modernisasi. Baca lebih lanjut