Merawat Kuningan Dalam Ingatan

Gedung-gedung berdiri angkuh. Meninggalkan pucuk-pucuk pohon jauh-jauh. Menantang langit yang abu-abu. Sementara itu, mobil berjalan enggan di tengah jalan tol yang padat. Deru mesin bersahut-sahutan bagai segerompolan gagak yang lapar. Sesekali bunyi klakson, alat bor, dan suara mesin-mesin konstruksi memekakkan telinga. Jakarta yang gerah di daerah Kuningan yang mewah.

Berbicara tentang Kuningan, berbicara tentang sebuah kota yang sedang merias diri. Dimana-mana yang terlihat adalah pembangunan. Yang mulus semakin dimuluskan, yang megah semakin digagahkan. Manusia hanya semut-semut kecil yang berseliweran di antara kaki-kaki modernisasi. Baca lebih lanjut

Menteng; Kenangan dan Hal-hal yang Menggantikannya

Ada kedamaian yang pelan-pelan menguasai hati saya, saat siang yang cerah itu saya dan sekitar tiga puluh teman dari komunitas Ngopi Jakarta berjalan-jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Selama ini saya sering berkhayal, betapa menyenangkan seandainya bisa melakukan perjalanan ke masa silam. Menyapa mereka yang hidup di zaman itu dan melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Merasakan sendiri menjadi rakyat dari sebuah bangsa yang belum memiliki nama.

Dan di kawasan yang menyimpan banyak kenangan sejarah siang itu, saya membayangkan menjadi musafir dari masa depan yang jauh. Saya menyaksikan dari dekat kesederhanaan orang-orang zaman itu dan menebak-nebak apa yang sulit mereka percaya seandainya berkunjung ke masa kini. Baca lebih lanjut

Beristirahatlah, Jakarta!

Wajah-wajah kelelahan nampak dalam setiap peron stasiun KRL, halte busway, angkot, ojek-ojek online yang nantinya akan membawa mereka kembali pulang ke naungan masing-masing. Pada setiap sore, menjelang malam, mendekati pergantian hari, terus berulang lagi di keesokan hari. Dalam lelahnya, mereka memisahkan dari dunia nyata dan membangun tembok sendiri-sendiri. Dunia yang terdiri dari; ‘dirinya-dan-gawainya’.

Bermacam informasi -yang tak jarang dibaca dari portal berita karbitan- dilahap dalam waktu sepersekian jam di perjalanan. Dilanjut dengan membuka media sosial, membaca lagi tautan-tautan berita yang dibagikan oleh lingkaran pertemanan setelah dibubuhi caption lengkap dengan tagar terhadap suatu isu yang lagi hangat-hangatnya. Lalu atas dasar karena merasa ikut tahu dengan isu tersebut, atau hasrat ingin memberikan pandangan lain, tidak sepakat atas opini teman, maka tak afdol rasanya jika tak turut memberikan komentar. Yang padahal, ternyata mereka ini berada dalam kondisi serba diburu waktu, dan media-media pada gawainya hanya dijadikan tempat pelarian dari kelelahan. Baca lebih lanjut

Politik Jawa Jokowi Pasca-Ahok

Setelah Ahok habis, kini Jokowi dan koalisinya ada baiknya segera move on dan beralih ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ahok kalah. Sosok yang setahun lalu nampak sebagai calon tak terkalahkan ini harus menerima nasib menjadi warga DKI biasa selama lima tahun kedepan setelah ia dan Djarot Saeful Hidayat kalah suara oleh Anies Baswedan dan pasangannya, Sandiaga Uno. Ibarat sepakbola, Ahok adalah Real Madrid era 2003-2005, sadis dalam menyerang, tapi sering melakukan blunder. Blunder tersebut, disikat habis oleh lawan-lawannya. Ahok terbantai oleh kesalahannya sendiri.

Kekalahan di DKI tentunya sangat merugikan posisi politik Jokowi. Jokowi terpilih dalam posisi penguasa-oposisi yang 50-50. Sama kuat antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Partai-partai in between kubu Jokowi dan kubu Prabowo bergerak cenderung random diantara kedua polar tersebut, harap maklum, untuk mencari makan diantara porsi-porsi PDIP, Gerindra, dan Golkar. Sebagaimana teori atas bipolaritas politik, akan selalu ada perang dingin antara dua kubu, dan dalam diam, keduanya kasak-kusuk mencari sekutu untuk menjadi satu tahap lebih kuat dibanding musuhnya.

Jawa adalah kunci, begitu dialog palsu Aidit di film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu tayang di tanggal 30 September malam saat Orde Baru. Tak salah, Jawa, meskipun tak mutlak, adalah salah satu kunci pokok untuk memenangkan persaingan politik tingkat nasional. Jokowi, sembari kerja keras membangun infrastruktur, pasti tidak akan luput dari plot penguasaan Jawa. 2014 kedua kubu cenderung seimbang di Jawa, dan Jokowi justru memiliki keunggulan suara di Indonesia Timur. Namun jika bisa menguasai Jawa, tentunya akan jauh lebih mudah bagi Jokowi untuk menang di 2019.
Baca lebih lanjut

24 Hour Project: No Object, No Prospect!

Pak pung… Pak mustape…
Enci dula… Di rumahnye…
Ada tepung… Ada kelape…
Gula jawa… Di tengahnye…

Bersenandung sambil jalan ala Syahrini ternyata menyenangkan. Pasalnya, 3 kali bolak balik Tangerang – Duri – Tangerang – Duri – Tangerang lagi, baru akhirnya nungguin di Stasiun Duri. Oke, ini gak nyambung. Kali ini dalam rangka meramaikan 24 Hour Project, beberapa pasukan NgoJak ikut keluyuran melihat aktivitas apa saja selama 24 jam terakhir di kota Jakarta. Peralatan perang udah siap: 2 Hape, Power Bank, jas hujan, plastik lebar, kompor dan nesting. Seharusnya pagi ini pasukan sudah lengkap, tapi sayangnya masih ada yang masih nyungsep di kasur. Baca lebih lanjut