Arief Budiman : Setia Melawan “Bebas Nilai”

Ilmu sosial di Indonesia bersifat ahistoris, karena ia mengabaikan konteks kesejarahan di mana masyarakat Indonesia hidup. Para ilmuwan sosial kita cenderung mengimpor begitu saja teori-teori sosial yang mereka dapat dari Barat tanpa mempertanyakan keabsahannya ketika diterapkan dalam konteks lokal. Padahal, “ilmu-ilmu sosial tidak bebas nilai” dan “ilmu sosial itu sebelumnya merupakan satu ideologi imperialisme ekonomi.

18888804_1892696994318917_7584118079513165824_n
Arief Budiman

Pernyataan tersebut sampai sekarang masih terdengar kurang nyaman bagi para akademisi ilmu sosial. Bukankah jauh lebih mudah membaca kebijakan Jokowi melalui kacamata Simon Kuznet, atau mengimajinasikan negara persis seperti apa yang dipaparkan Taqiyuddin Al-Nabhani?. Mengapa harus mempersulit diri dengan menambahkan pengetahuan struktur sejarah, politik, budaya, dan ekonomi lokal Indonesia yang minim sumber dan data yang rawan terdistorsi?.  Namun bagi seorang Arief Budiman, salah besar jika seorang akademisi, atau praktisi ilmu sosial, menutup mata akan banyaknya faktor subjektif. Konsep Bebas Nilai, yang pada dasarnya justru menjadi nilai tunggal, tentu tidaklah tepat. Ketika hanya ada satu jenis “nilai” yang dipergunakan di seluruh dunia, seperti yang dipromosikan modernis-modernis Barat, tentunya akan terbentuk hierarki nilai. Padahal manusia dan pola interaksinya sebagai bahasan utama dalam ilmu-ilmu sosial, tentunya memiliki nilai-nilai yang unik dan struktur-struktur yang membentuk karakteristik suatu sampel. Baca lebih lanjut

Iklan

Petani-petani Kendeng dan Kebebasan

Siapa yang Sedang Terpasung? 

Aksi Dipasung Semen Jilid 2 dan  pro kontranya, menggelitik saya untuk bertanya, siapa yang (sebenar-benarnya) sedang terpasung? Dan siapa yang (sebenar-benarnya) paling bebas?

Semen yang membungkus kaki dan membatasi aktivitas para petani, aktivis, dan relawan yang ikut dalam aksi itu mengingatkan saya kepada tokoh dua tokoh dalam roman “Jalan Tak Ada Ujung” (1952) karya Mochtar Lubis. Sebuah roman yang begitu rapih menyusun jalur penjungkirbalikan perspektif tentang kebebasan. Guru Isa, yang semasa fisiknya bebas, justru begitu terpenjara jiwanya karena kepengecutannya sendiri dalam mengambil keputusan. Ia hampir tidak memiliki keberanian dan selalu gagal dalam mengambil tindakan-tindakan revolusioner untuk pembebasan diri. Sementara Hazil, dikisahkan sebagai seorang aktivis yang selalu bergerak penuh kebebasan. Hingga pada suatu akhir perjuangan kedua orang tokoh itu sama-sama terpenjara secara fisik, keadaan yang kasat mata terlihat sama, namun justru menghadirkan refleksi yang berbeda. Dibalik jeruji besi, Hazil merasa terpenjara juga jiwanya.. Sebaliknya, Guru Isa menganggap keterpenjaraan fisiknya sebagai proklamir bagi kebebasan jiwanya: secara fisik terpenjara, namun jiwanya merdeka. Baca lebih lanjut

Dari Menuntun Hingga Dituntun

Saya tidak mengenal masjid hingga Ayah yang memperkenalkannya. Tidak dengan gambar atau cerita, Ayah mengajak langsung ke masjid, menuntun saya di sisinya, menunjukkan tempat terbaik di shaf terdepan, dan mengajari saya bagaimana berlaku di dalam masjid. Seringkali Ayah shalat lebih banyak daripada pengetahuan saya tentang adab masuk masjid; juga lebih banyak sebelum meninggalkannya. Saya tak pernah dipaksa untuk melakukannya. Cukup mengerti bahwa ada kecintaan Allah pada setiap rakaat tahiyatul masjid dan sunnah rawatib. Itu saja cukup.

Shalat-shalat pertama saya bersama Ayah adalah serangkai shalat Jum’at yang berturutan tiap pekan. Sayangnya, semakin saya besar, semakin sulit diajaknya ke masjid kala itu, apalagi untuk shalat maghrib dan isya. Perkaranya sepele. Setiap ba’da maghrib selalu ada pengajian anak-anak dan saya tidak merasa nyaman bergabung di dalamnya. Pengajian anak-anak itu dibagi tiga kelompok dengan semacam strata masing-masing. Kelompok A adalah anak-anak yang masih belajar Juz Amma dan masih melancarkan bacaan, Kelompok B adalah anak-anak yang mulai lancar namun belum terampil, sedangkan Kelompok C adalah anak-anak menjelang remaja yang sudah lancar mengaji. Teman-teman sebaya saya ada di Kelompok A. Beberapa kali saya masuk dalam antrean barisan mereka, namun setiap kali Ayah melihat saya berada di situ, dipanggillah saya. Diambilnya tangan saya dan dituntun masuk ke Kelompok C. Duduk tepat di samping guru mengaji kala itu, Alm H Romli Zakaria. Menjadi yang paling kecil di tengah anak-anak sebaya kakak-kakak saya jelas membuat saya rikuh sampai akhirnya saya mundur perlahan. Jarang pergi ke masjid dan selalu mencari-cari alasan –yang paling sering adalah terlambat mandi karena asyik bermain bola sampai adzan maghrib berkumandang. Baca lebih lanjut

JokoBowo

Aku melihat Joko ketika ia bersalaman dengan Bowo. Hangat, bahkan nyaris berpelukan. Itu pertama kali aku melihat mereka. Yang satu dengan perawakan kecil, satu lagi cukup besar meski usianya membujur ke cakrawala barat. Tidak ada yang istimewa, kecuali riuh-riuh kecil yang perlahan seperti bola salju yang menggelinding. Bertambah besar, bergemuruh.

Joko ikut duduk bersamaku di tepi kali sambil melempar pancing. Katanya, “Banjir ini menghanyutkan ikan ke lautan.” Aku tertawa, lalu membantah. “Jangan terlalu yakin, Joko.” Dia diam menatapku. Menunggu, barangkali. “Sampah di ujung sana, sebelum lewat jembatan kedua, sudah menghalangi ikan-ikan pergi ke lautan,” jawabku tanpa perlu ia bertanya. Lalu ia gantian tertawa. Baca lebih lanjut

Rantai dan Anjing Gunung

Ternyata tidak semuanya mengagumiku dan menunggu kedatanganku. Baru saja dua-tiga detik aku hinggap, aku sudah disambut salakan yang luar biasa berisik, bahkan bagi aku yang sudah kenyang pengalaman berpapasan dengan pesawat jet berukuran besar.

“DIAM!”. Bersamaan dengan perintah itu, lenyap pula suara berisik mamalia berkaki empat itu. Dia kini menggeram, rautnya tampak sangat kesal. Keempat kakinya melangkah kecil maju mundur. Mendengus-dengus kencang, sambil moncongnya bergerak naik-turun karenanya. Baca lebih lanjut