Filosofi Ngopi Sebelum Filosofi Kopi

Jauh sebelum Dewi Lestari menulis Filosofi Kopi, orang-orang sudah mencari makna di balik kegemaran mereka minum kopi, atau yang lebih akrab di telinga kita dengan istilah ‘ngopi’.

Ngopi sejatinya tak sekadar minum kopi. Penyederhanaan istilah ‘minum kopi’ menjadi ‘ngopi’ justru menunjukkan kompleksitas kegiatan tersebut.

Ada yang menganggap ngopi sebagai keisengan untuk mengisi waktu luang. Saya kurang setuju. Mereka yang sedang ngopi bisa jadi malah sedang fokus berpikir, merenung, bertukar ide, atau mencurahkan isi hati.

Ada relasi yang sedang mereka bangun, entah dengan dirinya sendiri atau orang lain.

Saat ini ngopi sudah menjadi gaya hidup. Di tempat kerja saya, beberapa teman membawa kopi dari berbagai jenis dan merek. Ada kopi Gayo, Lampung, Sidikalang, dan Toraja. Teman-teman yang fanatik tahu bedanya kopi-kopi itu, tapi di lidah saya semua nyaris sama. Maklum, saya tahunya cuma kopi Liong.

Kalau baru pulang liburan, sering mereka membawa oleh-oleh kopi asli dari kota yang mereka kunjungi. Dan beberapa hari kemudian, perbincangan di antara teman-teman tak jauh-jauh dari kopi tersebut. Sembari beristirahat di sela-sela pekerjaan, mereka saling mencicipi kopi itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Kopi Gunung Puntang; Menanam Untuk Merawat

Biji kopi ditanam untuk kelestarian alam serta merawat gunung sebagai sumber kehidupan.  -Murbeng Puntang

Hampir Maghrib ketika saya dan teman-teman dibawa oleh Kang Fauzan ke lapak pengeringan kopi miliknya, setelah sebelumnya menyempatkan mampir ke Haben Nagen usaha gerai kopi yang juga dimiliki oleh Kang Fauzan sendiri. Dasar pengolahan kopi hingga menjadi green bean yaitu metode naturalhoney, dan full-washed dikenalkan oleh Pak Rudi, salah seorang pekerja di sana. Nah, pengetahuan dari Pak Rudi ini menjadi bekal selanjutnya untuk bertamu ke tempat Ayi Sutedja, seorang pembudidaya tanaman kopi Gunung Puntang yang namanya sempat menjadi pembicaraan para Q-grader di ranah internasional pada tahun 2016 lalu. Baca lebih lanjut

Mereka yang Memburu Waktu

Suara adzan subuh sedikit demi sedikit mulai tersamar. Suara deru mesin dari dalam rumah terdengar lirih dan makin keras saat saya benar-benar keluar rumah. Kendaraan saling beradu kecepatan; seakan para pengendara tak ingin kalah antara pengendara satu dengan pengendara lainnya.

Kali ini saya ada tugas kantor cabang yang berada Kota Bogor. Saya mengawali perjalanan dari BSD menuju stasiun Rawa Buntu, Serpong, Tangerang. Dari BSD, saya memilih ojek online. Bukan karena saya ikut memboikot perilaku sopir angkot yang menabrak ojek online itu. Atau lantaran saya penggila ojek online. Bukan! Saya di sini sebagai pengguna segala fasilitas transportasi pada umumnya. Saya memilih ojek online—sebut saja Grab—ini karena efisien. Jika dari BSD menuju stasiun Rawa Buntu, bila naik angkot harus oper 2 kali. Karena alasan itulah saya naik ojek online. Nah, baru saat pulang, saya baru naik angkot. Baca lebih lanjut

Sentimen Sore

Ada tiga hal yang bisa membuat saya benar-benar larut dalam biru:

Sore, kopi hitam, dan hujan.

Tidak perlu ketiganya untuk meluruhkan saya yang berpura-pura mandiri. Tidak perlu ketiganya untuk membuat saya terdiam seribu bahasa. Cukup gabungan dari dua hal di atas selalu berhasil membuat saya larut dalam lamunan dan terbawa dalam kenangan bertahun-tahun lalu, di teras depan sebuah rumah sederhana:

Seorang nenek berbincang akrab dengan cucu perempuannya di teras depan rumah, ditemani gemericik hujan sore, secangkir kopi hitam untuk sang nenek, segelas susu putih panas untuk si cucu. Baca lebih lanjut

Demokrasi Kentut

Tidak ada yang membahas epistemologi keburukan kentut ini secara detail meskipun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas itu bisa dibahas dari beragam sudut pandang: biologis, sosiologis, antropologis, syariah, siyasah, bahkan tasawuf.

Siapakah yang lebih bersalah daripada orang yang kentut di tengah kerumunan orang? Tidak ada. Semua aktivitas akan terhenti untuk bersama-sama mencari sumber bau dan suara kentut, menertawakan, mempersalahkan, atau malah menghukum si empunya kentut dengan makian. Kalau itu anak sendiri, maka hukumannya lebih bertubi-tubi. Dibilang tak beretika dan tak menguasai kontek sosio-kultur masyarakat yang menempatkan kentut sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Maka, jangan salah kalau banyak teks merasa perlu untuk menuliskan kata (maaf) dalam tanda kurung sebelum menulis kata ‘kentut’. Perlu juga menyebut kata ‘maaf’ itu ketika Anda sedang berbicara di podium kehormatan seolah-oleh kentut itu barang yang menjijikan.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat kentut itu patut dianggap sebagai sebuah ‘keburukan’? Apakah zat kentut itu yang bersalah dan layak dilarang? Ataukah proses membuat kentut itu yang keliru? Ataukah baunya yang berdosa –sehingga kalau tak bau maka boleh dan sah-sah saja melakukannya? Ataukah bunyinya yang mengganggu pendengaran –sehingga kalau tak berbunyi maka halal dilakukan di tempat umum? Ataukah situasinya di kerumunan orang yang menyebabkan kentut itu dikecam –sehingga jika kentut seorang diri itu hukumnya berubah dari haram menjadi mubah, bahkan wajib? Ataukah karena kentut diyakini sebagai hal yang membatalkan wudhu –yang dengannya pula membatalkan shalat, maka pada setiap yang membatalkan wujud sembah kepada Tuhan itu berarti sah keburukannya? Baca lebih lanjut