Jejak Pecinan di Bekas Hutan Jati

Pijat urut, cetak stempel, dan kunci-kunci yang menggantung, menyambut saya menuju jalur ‘tikus’ a la urban, menemukan kotak sejarah yang kalah mentereng dari Monas atau pun Kota Tua.

Apa yang terlintas di benak Anda jika mendengar Jatinegara? Stasiun, atau pasar batu akik yang beberapa tahun silam sempat nge-hit, atau justru pasar keberadaan hewan? Bagaimana jika kita lekatkan Jatinegara dengan Pecinan?

Selama ini, kawasan Pecinan di Jakarta identik dengan Glodok, Jakarta Pusat. Namun bukti sejarah menunjukkan, Jatinegara— nama yang juga juga diabadikan Ismail Marzuki lewat Juwita Malam—tersebut memiliki sepotong Pecinan. Baca lebih lanjut

Iklan

Telusur Batavia: Jelajah Kota Taman Pertama di Indonesia

Jakarta tidak serta merta menjadi kota megapolitan penuh polutan. Sang ibukota punya cerita di balik bilik-bilik beton yang menjulang. Sekilas tampak modern mengikuti zaman. Namun, jika kita telusuri lagi, sudut-sudutnya menyimpan kisah menarik pembangunan bangsa

Bersama komunitas Ngopi Jakarta (NgoJak), berkesempatan menelusuri kawasan Menteng. Perumahan elit pada zamannya hingga kini, dengan susunan ruas jalan yang unik. Terlihat dari denah kawasan di mana banyak patahan-patahan jalan dan persimpangan yang tidak lazim. Sebelum mengikuti penelusuran ini, para peserta yang mendaftarkan diri telah diberi bekal informasi mengenai lokasi yang akan dikunjungi berupa denah, gambar dan data-data lainya.

Hari libur nasional memperingati Kenaikan Isa Almasih, 25 Mei 2017, dipergunakan untuk bersama-sama menengok kembali apa yang pernah ada di Menteng. Berkumpul di Stasiun Cikini, dimulai pukul 09.00 dengan pembukaan dan saling berkenalan satu dengan lain.

Menurut Adolf Heukeun, kawasan Menteng merupakan kota taman pertama di Indonesia bahkan se-Asia Tenggara yang dibangun antara 1910 dan 1918. Pemuka agama Khatolik sekaligus ahli sejarah Jakarta ini telah menerbitkan buku-buku mengenai sejarah Jakarta seperti Masjid-masjid Tua di Jakarta; Gereja-gereja Tua di Jakarta; Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta; Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta;Atlas Sejarah Jakarta; Galangan Kapal Batavia Selama Tiga Ratus Tahun; Menteng, Kota Taman Pertama Indonesia. Buku terakhir menjadi panduan penelusuran kami kali ini. Baca lebih lanjut

Lelaki Muslim yang Menjaga Klenteng

Seperti lazimnya gang-gang di Jakarta, Gang Padang di Jatinegara ini bentuknya tak jauh berbeda. Memiliki lebar tak lebih dari satu mobil, berdinding semen kasar, dan rumah-rumah yang rapat tiada jarak. Dua bapak-bapak duduk di depan rumah. Bercerita, mengepulkan asap rokok, dan tersenyum ketika saya menyapa. Tak jauh dari mereka, di salah satu sudut gang, bangunan serba merah dan kuning nampak kontras di antara abu-abu tembok.

“Yayasan Bio Shia Jin Kong” tertulis rapi dengan cat warna kuning di bawah huruf-huruf Mandarin yang berwarna merah terang. Sesaat sebelum masuk lebih jauh, harum dupa telah menyambut hidung dengan tegas. Saya membuka alas kaki dan langsung duduk bergabung dengan teman-teman Ngopi Jakarta lainnya. Baca lebih lanjut

Ziarah

Tiga kerat roti isi kelapa, pisang-keju, dan pisang-cokelat masih rapat di tas. Padahal, niatnya adalah untuk mengganjal perut sebelum saya menyusur pemakaman.

Sabtu pagi itu, (5/8) dengan diantar ojek daring, saya menuju Karet Bivak, sebuah kompleks pemakaman di Jakarta. Membayangkan kompleks pemakaman di Jakarta, tidaklah seseram dengan yang ada di kampung-kampung.

Seperti yang ada di kampung saya, sebuah dusun di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Di dusun saya, tempat pemakaman berbeda dengan yang saya lihat di beberapa tempat pemakaman yang pernah saya lihat di Jakarta. Di dusun saya, juga di dusun-dusun tetangga, tempat pemakaman rindang dengan pepohonan. Banyak pohon-pohon besar tumbuh, dan hampir di setiap makam, selalu terdapat pohon berukuran sedang. Mungkin, ini dimaksudkan untuk menghormati mereka yang sudah dimakamkan, dengan meneduhi peristirahatan terakhirnya. Jadi, kesan seram tentu lebih kentara, akibat rimbunnya pepohonan. Bayangkan kalau sudah petang. Baca lebih lanjut

Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai

Minggu ini sebenarnya kurang cocok untuk bernostalgia. Jiwa raga saya banyak tersita untuk urusan masa depan. Membuat banyak perencanaan, untuk rumah tangga dan terutama untuk kepentingan perusahaan. Angka-angka dalam konteks pendapatan, biaya, cicilan, sampai ke perjanjian penjualan dan rebate fee klien, hadir sejak Senin pagi. Yang saya lakukan persis seperti apa yang saya kritisi di tulisan sebelumnya tentang “Manusia Jakarta” yang hidupnya banal dan sempit waktu. Tidak cukup waktu dan/atau kemampuan untuk membaca, baik buku, ataupun kehidupan. Pergi pagi pulang malam, tidur sebentar untuk kemudian berangkat lagi pagi hari berikutnya.

Namun obrolan di grup pegiat inti Ngojak, atau tertasbihkan dengan nama Grup Komisaris Ngojak, akhirnya sukses menjadi rem yang pakem untuk saya, manusia Jakarta yang meluncur mengikuti arus deras yang memabukkan ini. Obrolan membuat saya merasa harus kembali ke 12 November 2016. Tepatnya ke Ngojak #3, yang berjudul Jakarta, Sebuah Awalan. Perjalanan ini ternyata belum tercatatkan oleh siapapun. Baca lebih lanjut