Lima Lagu Tentang Jakarta

Jakarta (dan banyak kota besar lain) adalah magnet yang sangat besar untuk orang-orang daerah yang mempunyai anggapan classic rock akan harapan kehidupan yang lebih baik. Sesaknya tiap-tiap ruang yang ada di Jakarta tak lepas dari orang-orang urban semacam ini. Jakarta bagai laut yang menampung muara anak sungai yang mengalir ke sana, ada banyak riak juga keruh berkelindan bersamanya. Kota yang diumpati seribu umat.

Meski begitu, seberapapun seringnya kita misuh-misuh tentang Jakarta, nyatanya Jakarta tetap ada dalam sudut hati yang paling tak terjamah. Jika kalian meninggalkan kota ini, katakanlah sedang tugas di luar kota atau hal lain yang membuat kalian meninggalkan kota ini untuk beberapa waktu. Pada akhirnya rindu terlarang itu datang juga. Kalian mulai merindukan macetnya, berdesakan dengan orang-orang di KRL, atau juga pemandangan warung pinggir jalan yang memakan ¾ badan jalan. Untung saja Jakarta bukanlah kota yang buruk-buruk amat untuk membuat bungah, meski dalam kadar yang tak pernah benderang. Untungnya lagi, dalam suasana seperti itu masih ada seniman yang membuat karya mengenai kota Jakarta. Ini adalah deretan lima lagu tentang jakarta yang mungkin bisa mengobati rindu terlarang kalian jika sedang tidak di Jakarta. Jakarta adalah paradok itu sendiri, kota yang menawarkan harapan lebih baik di samping kemiskinan yang tidak lebih baik. Baca lebih lanjut

Iklan

Denting Piano untuk Sebuah Fragmen

Kau pun tahu, di saat hujan rajin mengguyur Jakarta akhir-akhir ini, frekuensi saya pergi ke warung kopi menjadi meningkat. Tidak melulu minum kopi memang, adakalanya memesan mie rebus atau bubur kacang ijo. Namun apa pun menunya, selalu saja ada orang yang bisa diajak bicara; entah itu si Ijong (penjual kopi), tukang ojek, mahasiswa berkantong pas-pasan, tukang judi bola, pengangguran, atau sekali waktu pernah juga ngobrol dengan seorang perempuan cantik. Masih muda, umurnya sekira terpaut empat tahun di bawah saya. Tak sempat bertanya tentang nama, pekerjaan dan rumahnya, karena pembicaraan dengan cepat bergulir.

Mula-mula saya terpikat dengan kecantikannya, namun selain itu dia juga punya selera musik yang bagus. Darinya saya kemudian tahu kalo Jaya Suprana, seorang tua yang kerap terlihat berat dan ringkih rupanya pernah belajar piano di Jerman. Waktu beliau masih muda, seorang mahapianis Friderich Gulda pernah berkomentar bahwa pianis dari Indonesia ini memiliki bakat musik dan pianistik “extraordinaire”.
Baca lebih lanjut