Besar Kecil

Tidak ada yang salah dengan kategorisasi, selama indikatornya diletakkan pada ordinat dan subordinat yang obyektif. Yang keliru adalah perasaan dan pengakuan. Yang salah arah adalah manusia yang merasa besar sehingga merasa boleh dan perlu bertingkah sebagaimana orang besar dalam pemikirannya.

Anak-anak kelak akan menghadapi kebingungannya sendiri. Di rumah, mereka diajari untuk mengambil barang sendiri, membawa tas dan peralatannya tanpa bantuan orang lain, diminta tumbuh besar dan mandiri. Orang-orangtuanya berkata sungguh-sungguh, “Ayo, kamu sudah besar, Nak.”

Tapi, realitas di luar sana juga begitu sungguh-sungguh menyuguhkan paradoks. Mereka yang dibukakan pintu ketika masuk hotel, pintu mobilnya terbuka oleh tangan orang lain, tasnya dijinjingkan, makanannya dibawakan petugas berseragam jaket dan helm, dan menyeberang jalannya di depan pusat belanja perlu bantuan petugas berpentungan dan peluit. Hingga ketika mereka naik lift di mal-mal, mereka akan malu untuk protes lagi, “Padahal, aku mau pencet lift-nya sendiri,” karena ada petugas yang digaji untuk wara-wiri naik-turun hanya di dalam lift.

Apa makna besar dan apa makna kecil sesungguhnya? Ketika manusia tumbuh dari setetes sperma yang berjumpa ovum, lalu tumbuh dalam rahim, dilahirkan dan mendapati tinggi badannya selalu beranjak naik; itukah ‘besar’? Atau, ketika manusia bersusah payah menambah bintang di pundaknya, menempelkan gelar di depan dan belakang namanya, berkeringat untuk naik dari golongan I ke IV, menyisihkan uang untuk berlibur di gedung berbintang dan wisata cemerlang, punya banyak pengikut di dunia maya atau nyata, bekerja keras siang malam untuk naik mobil dan tidur di rumah mewah; itukah ‘besar’? Baca lebih lanjut

Budaya Cetak, Daring, dan Para Pengeluyur

Generasi yang tumbuh di tengah zaman yang memuliakan budaya cetak adalah mereka yang punya pengalaman tentang kesabaran. Seseorang mencetak satu esai lalu memasukkannya ke amplop, kemudian mengirimnya ke redaksi sebuah harian via kantor pos; hanya untuk menerima surat penolakan. Demikian berulang-ulang, lalu pada pengiriman yang ke-44 tulisannya baru dimuat.

Para penulis tamu surat kabar biasanya hanya punya tempat di rubrik Opini, selebihnya jangan terlalu berharap. Dan rubrik ini bukanlah medan laga yang mudah, saingannya beratus Profesor dan dari kalangan akademik lain dengan gelar berderet-deret, serta dengan kemampuan menulis analisa yang bukan main-main. Maka para penulis pemula mesti bersiap merangkak di titian kesabaran selama berbulan-bulan dengan surat penolakan yang datang tiada henti. Baca lebih lanjut

Dilarang Berkerut

Dilarang-berkerut

Rekan saya sedang mengeluh betapa susahnya menyusun kalimat pada paragraf pertama sebuah tulisan. Sebagai pekerja paruh waktu, ia kerap ditagih setoran artikel oleh atasannya yang bawelnya minta ampun. Padahal bukan kali ini saja ia mengalami hal serupa. Sejak surat kabar tempatnya bekerja beralih fungsi menjadi media daring pada awal November tahun lalu, ia menjadi kutu loncat sebagai kuli tinta di berbagai ranah. “Sekalian fokus nyelesein buku nih, bro,” ujarnya. Anehnya, keluhan soal paragraf pertama tersebut cukup lancar ia sampaikan lewat tombol-tombol papan ketik dari gawainya yang keren itu.

“Gila. Lu ngeluh sulit nulis di paragraf awal, sementara bilangnya aja lebih satu paragraf lewat WhatsApp,” hardik saya geram. Baca lebih lanjut

Membabat Gulma Majalah Islam Sabili — Bagian 2 (Selesai)

bukan_pasar_malam_bBerikut adalah perbandingan antara cerpen PULANG yang ditulis oleh Kukuh Setyo Prakoso dengan roman BUKAN PASAR MALAM karangan Pramoedya Ananta Toer. Dari 16 bagian (bab) di roman BUKAN PASAR MALAM, ternyata Kukuh Setyo Prakoso hanya mengambil bagian ke-7 saja. Sebuah kerja penjiplakan yang tanggung. Dan inilah perbandingan itu :

***

PULANG :
Sesudah mandi, aku ada kesempatan melihat-lihat rumah dan pelataran. Mandi itu sebenarnya bukan mandi yang betul-betul. Air di kota kami yang kecil ini tebal oleh lumpur Bengawan Solo. Hanya sesekali saja airnya jernih. Pembagian air PDAM di sini agak pelit. Sehari menyala, lalu sehari kemudian mati. Barangkali air mandi yang tebal inilah yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air PDAM yang teratur, bening, dan baik. Di sini, orang berjalan dengan kulitnya yang berkerak-kerak. Kami menyebutnya dengan busik.

BUKAN PASAR MALAM :
Jam Sembilan pagi aku bangun. Baru sesudah mandi ada kesempatan padaku melihat-lihat rumah dan pelataran. Baca lebih lanjut

Membabat Gulma Majalah Islam Sabili — Bagian 1

JA_0001Hal ini sebenarnya sudah lama ingin saya tulis, tapi selalu tertunda, maka persoalan ini jadilah seumpama mayat yang tersimpan di peti es; dingin dan terlupakan. Niat untuk menuliskannya timbul kembali setelah membaca beberapa tulisan ihwal kasus plagiasi di harian Lampung Post dan harian Kompas. Adalah Dadang Ari Murtono yang cerpennya berjudul PEREMPUAN TUA DALAM RASHOMON ternyata adalah hasil plagiasi dari cerita RASHOMON karya seorang cerpenis terbaik Jepang bernama Akutagawa Ryunosuke.

Satu lagi yang menyemangati saya untuk menulis adalah tulisan Akmal Nasery Basral yang mengkritisi cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul DODOLIT DODOLIBRET. Cerpen Seno ini berhasil masuk ke dalam Cerpen Pilihan Kompas tahun 2010, yang padahal menurut Akmal, cerpen ini adalah plagiasi dari karya Leo Tolstoy yang berjudul THREE HERMITS.

Dua kasus plagiasi inilah yang membuat saya kembali teringat dengan cerpen karya Kukuh Setyo Prakoso (selanjutnya ditulis Kukuh), yang dimuat di Majalah Islam Sabili No. 07 TH XVI, 23 Oktober 2008/23 Syawal 1429. Untuk lebih menjelaskan edisi yang mana majalah itu pernah ditumbuhi gulma, pernah memuat sebuah cerpen plagiat, maka saya tambahkan beberapa keterangan sebagai berikut : tulisan di sampul depan majalah berbunyi “America game Over”, dan gambar sampulnya : ikan hiu hendak memakan patung Liberty. Baca lebih lanjut