Kopi Gunung Puntang; Menanam Untuk Merawat

Biji kopi ditanam untuk kelestarian alam serta merawat gunung sebagai sumber kehidupan.  -Murbeng Puntang

Hampir Maghrib ketika saya dan teman-teman dibawa oleh Kang Fauzan ke lapak pengeringan kopi miliknya, setelah sebelumnya menyempatkan mampir ke Haben Nagen usaha gerai kopi yang juga dimiliki oleh Kang Fauzan sendiri. Dasar pengolahan kopi hingga menjadi green bean yaitu metode naturalhoney, dan full-washed dikenalkan oleh Pak Rudi, salah seorang pekerja di sana. Nah, pengetahuan dari Pak Rudi ini menjadi bekal selanjutnya untuk bertamu ke tempat Ayi Sutedja, seorang pembudidaya tanaman kopi Gunung Puntang yang namanya sempat menjadi pembicaraan para Q-grader di ranah internasional pada tahun 2016 lalu. Baca lebih lanjut

Menteng; Kenangan dan Hal-hal yang Menggantikannya

Ada kedamaian yang pelan-pelan menguasai hati saya, saat siang yang cerah itu saya dan sekitar tiga puluh teman dari komunitas Ngopi Jakarta berjalan-jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Selama ini saya sering berkhayal, betapa menyenangkan seandainya bisa melakukan perjalanan ke masa silam. Menyapa mereka yang hidup di zaman itu dan melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Merasakan sendiri menjadi rakyat dari sebuah bangsa yang belum memiliki nama.

Dan di kawasan yang menyimpan banyak kenangan sejarah siang itu, saya membayangkan menjadi musafir dari masa depan yang jauh. Saya menyaksikan dari dekat kesederhanaan orang-orang zaman itu dan menebak-nebak apa yang sulit mereka percaya seandainya berkunjung ke masa kini. Baca lebih lanjut

Kuburan Tua dan Keberanian Tiada Batas

Lihat kebun ku(da)… Penuh dengan bu(aya)… Ada yang puti(kus)… Dan ada yang mera(yap)…
Setiap hari(mau)… Kusiram semu(t merah)… Mawar melati(kus)… Semuanya mampus…

Hahaha… Gak usah diambil serius. Lagu diatas adalah plesetan dari lagu lihat kebunku, jadi kalau mau nyanyiin coba pake nada lihat kebunku. Kalau gak bisa nyanyi ya udah gak usah maksa gitu, lu bisanya lagu anyenyoiii sih. Haha.

Kenapa anak kecil itu selalu takut hantu ya? Dan gue baru sadar bahwa ini adalah stigma yang diciptakan oleh orang-orang tua terdahulu. Tapi maaf-maaf aja ya men, gue si anak tahun 90an dengan semangat Panji Manusia Almunium gak segitu beraninya. loh! Iya gue gak yang paling beranilah apalagi gue pernah kesambet. Tapi gue akuin bahwa itu kelakuan super duper konyol waktu gue kecil. Baca lebih lanjut

Penikmat Sastra vs Penganalis Sastra

Sastra itu untuk dinikmati atau untuk dianalisa?

Pertanyaan itu menyulut ingatan saya kepada perdebatan di kalangan pencinta sastra tentang apakah kritik sastra adalah suatu kritik yang mengapreseasi atau kritik yang menganalisa?

Ada dua kubu dalam perdebatan ini. Kubu pertama melihat sastra sebagai suatu objek analisa. Sementara kubu kedua menganggap bahwa sastra adalah suatu gejala yang muncul dalam pengalaman sehingga harusnya diapreseasi sebagai momen pisikologis, momen perjumpaan seseorang dengan presepsinya. Yang pertama nenekankan analisa yang kedua menekankan perasaan.

Pertanyaan selanjutnya —melihat perbedaan yang mendasar dalam pendekatan itu, apakah benar-benar ada ‘pertentangan’ antara keduanya?

Saya memilih untuk menjawab tidak. Karena meskipun sastra —cerita, puisi dan drama— hadir untuk dinikmati dan diapreseasi, namun bagi orang-orang yang sungguh mencintainya, pengenalan lebih lanjut merupakan suatu kebutuhan atau bahkan keharusan. Saya kutipkan sajak Sapardi… Baca lebih lanjut

Delman, Riwayatmu Kini

Nampaknya matahari sedang berbahagia, cuaca terik dan udara panas kala itu menyinari kawasan Museum Fatahillah dan sekitarnya. Saya bersama teman-teman kampus berencana menghabiskan hari Minggu ini untuk membahas kegiatan organisasi. Kota Tua kita pilih untuk menjadi tempat bertemu, diskusi dan menuangkan isi kepala.

Saya bersama Putri (kawan satu kampus dan satu organisasi) menggunakan moda transportasi KRL sekitar hampir 2 jam perjalanan, ya harap dimaklum karena kita berangkat dari Ciputat, Tangerang Selatan. Lalu setelah sampai dan acara diskusi selesai untuk menghilangkan penat kita memilih berjalan-jalan dan menghampiri satu persatu pedagang.

Kawasan Kota Tua mulai ditertibkan tahun lalu oleh Satpol PP di masa kepemimpinan Pak Ahok. Para pedagang memilih untuk menjajakan dagangannya dipinggir trotoar. Mengais rezeki di tempat keramaian merupakan kesempatan emas yang diharapkan untuk mengumpulkan lembaran rupiah. Mulai dari pedagang makanan ringan, tas, cosplayer, serta mainan anak penuh sesak dari pagi hingga menjelang Magrib. Salah satu yang menurut saya agak nyentrik yaitu Delman. Bergegaslah kita mulai menghampiri Pak Kusir yang saat itu menggunakan baju Koko putih dan peci hitam untuk menanyakan ongkos yang ditawarakan. Baca lebih lanjut