Posesif (2017): Getir Asmara Masa Remaja

Pernah dapat puluhan miscall dari pasangan karena nggak bales WhatsApp? Pacar sering ngecek tiap chat, media sosial, e-mail sampai galeri ponsel tanpa ijin? Dilarang untuk berteman si A sama si B dengan alasan yang nggak jelas? Kalau jawabannya iya, berarti pacar kamu posesif tuh.  

Jika kebanyakan film remaja mengisahkan haru biru bahagia masa sekolah, Posesif (2017) menawarkan sebuah cerita yang jauh berbeda. Hubungan asmara remaja yang kompleks hadir mengisi deretan koleksi film romansa remaja Indonesia.

Siapa yang menyangka jalinan kasih remaja yang penuh bunga-bunga menyimpan duri yang mengoyak-ngoyak perasaan bahkan kejiwaan. Berangkat dari fenomena yang terjadi di masyarakat, Palari Films memproduksi sebuah sinema yang bertutur tentang kekerasan dalam hubungan berpacaran remaja.

Posesif berkisah tentang hubungan Yudhis (Adipati Dolken) seorang murid pindahan baru yang rupawan dengan Lala (Putri Marino) yang merupakan atlet loncat indah berprestasi. Perkenalan mereka berawal dari Yudhis yang ingin mengambil sepatunya yang terjaring razia dan Lala yang membantu aksi pengambilan sepatu Yudhis di kantor guru. Keduanya tertangkap basah dan mendapat hukuman. Kedekatan keduanya pun dimulai dari sana. Baca lebih lanjut

Iklan

Doa dan Harapan dalam Sepiring Nasi Goreng

Seberapa besar pengaruh menu sarapan pada harapan dan doa untuk aktivitas pagi hari? Cerita ini adalah secuil harapan ibu kepada seorang anaknya untuk menikmati sepiring nasi goreng dijadikan menu sarapan di pagi hari.

Hari minggu saya memang tidak ada rencana kemana-mana. Saya hanya merebahkan badan di kamar; meluruskan tulang; relaksasi otot sambil melakukan hal-hal kecil; baca buku dan baca status media sosial tentunya. Mata mulai redup saat buku yang saya baca telah sampai menjorok ke tengah. Alunan rintik-rintik air dan bau tanah sisa hujan tadi pagi membawa pada rasa kantuk sisa semalam.

Alih-alih tertidur, mata berbinar seketika saat perempuan paruh baya datang dan sodorkan nasi goreng hangat. Di luar, hujan mulai lagi. Bau tanah sisa hujan semalam hilang terhapus oleh hujan yang baru. Hujan yang intensitas pelan namun konsisten menahan orang-orang kampung beraktivitas. Baca lebih lanjut

Bersenyawa dengan Pedagang-pedagang Malam

Bersenyawa dengan Pedagang-pedagang Malam. Menziarahi kota dengan ‘navigasi’ yang jelas menghantarkan perasaan senang juga takjub. Kota, dengan tampilan ke-desa-desa-an menjadi sisi lain yang unik di tengah mall-mall dan gedung-gedung tinggi menjulang.

Keunikan itu hadir bukan dari acara yang diisi oleh artis-artis ibu kota atau ibu-ibu sosialita yang bergaya lenggang lenggok di sudut-sudut kota, melainkan kota yang serius merawat “kesemerawutan” lokalitas suatu tempat. Pendek kata, kota yang merawat ke-tradisional-an suatu objek akan menjadi destinasi yang menarik bagi para pengunjung.

Suatu malam yang dingin itu, kami menjelajahi sisi Barat Kota Tangerang dari tempat saya bermukim saat ini. Tempat itu tidak lain adalah pasar. Ya, tempat yang saya jelajahi bersama teman-teman itu adalah Pasar Lama Tangerang. Pasar Lama yang dipenuhi kuliner, cemilan dan jajanan tersedia pada malam hari saja. Menurut teman sekaligus saya menyebutnya local guide, tempat-tempat yang asik dan ramai dikunjungi oleh pengunjung. Ya, Pasar Lama Tangerang jika pada waktu subuh sampai siang hari menjadi rujukan warga Tangerang untuk jual-beli dagangan. Secara tidak langsung, di Pasar Lama geliat perekonomian sangat terasa. Pagi, siang, sore dan bahkan malam hari pun masih ramai dari aktivitas jual-beli. Baca lebih lanjut

Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya.

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja. Baca lebih lanjut

Kopi Gunung Puntang; Menanam Untuk Merawat

Biji kopi ditanam untuk kelestarian alam serta merawat gunung sebagai sumber kehidupan.  -Murbeng Puntang

Hampir Maghrib ketika saya dan teman-teman dibawa oleh Kang Fauzan ke lapak pengeringan kopi miliknya, setelah sebelumnya menyempatkan mampir ke Haben Nagen usaha gerai kopi yang juga dimiliki oleh Kang Fauzan sendiri. Dasar pengolahan kopi hingga menjadi green bean yaitu metode naturalhoney, dan full-washed dikenalkan oleh Pak Rudi, salah seorang pekerja di sana. Nah, pengetahuan dari Pak Rudi ini menjadi bekal selanjutnya untuk bertamu ke tempat Ayi Sutedja, seorang pembudidaya tanaman kopi Gunung Puntang yang namanya sempat menjadi pembicaraan para Q-grader di ranah internasional pada tahun 2016 lalu. Baca lebih lanjut