Bersenyawa dengan Pedagang-pedagang Malam

Bersenyawa dengan Pedagang-pedagang Malam. Menziarahi kota dengan ‘navigasi’ yang jelas menghantarkan perasaan senang juga takjub. Kota, dengan tampilan ke-desa-desa-an menjadi sisi lain yang unik di tengah mall-mall dan gedung-gedung tinggi menjulang.

Keunikan itu hadir bukan dari acara yang diisi oleh artis-artis ibu kota atau ibu-ibu sosialita yang bergaya lenggang lenggok di sudut-sudut kota, melainkan kota yang serius merawat “kesemerawutan” lokalitas suatu tempat. Pendek kata, kota yang merawat ke-tradisional-an suatu objek akan menjadi destinasi yang menarik bagi para pengunjung.

Suatu malam yang dingin itu, kami menjelajahi sisi Barat Kota Tangerang dari tempat saya bermukim saat ini. Tempat itu tidak lain adalah pasar. Ya, tempat yang saya jelajahi bersama teman-teman itu adalah Pasar Lama Tangerang. Pasar Lama yang dipenuhi kuliner, cemilan dan jajanan tersedia pada malam hari saja. Menurut teman sekaligus saya menyebutnya local guide, tempat-tempat yang asik dan ramai dikunjungi oleh pengunjung. Ya, Pasar Lama Tangerang jika pada waktu subuh sampai siang hari menjadi rujukan warga Tangerang untuk jual-beli dagangan. Secara tidak langsung, di Pasar Lama geliat perekonomian sangat terasa. Pagi, siang, sore dan bahkan malam hari pun masih ramai dari aktivitas jual-beli. Baca lebih lanjut

Iklan

Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya.

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja. Baca lebih lanjut

Kopi Gunung Puntang; Menanam Untuk Merawat

Biji kopi ditanam untuk kelestarian alam serta merawat gunung sebagai sumber kehidupan.  -Murbeng Puntang

Hampir Maghrib ketika saya dan teman-teman dibawa oleh Kang Fauzan ke lapak pengeringan kopi miliknya, setelah sebelumnya menyempatkan mampir ke Haben Nagen usaha gerai kopi yang juga dimiliki oleh Kang Fauzan sendiri. Dasar pengolahan kopi hingga menjadi green bean yaitu metode naturalhoney, dan full-washed dikenalkan oleh Pak Rudi, salah seorang pekerja di sana. Nah, pengetahuan dari Pak Rudi ini menjadi bekal selanjutnya untuk bertamu ke tempat Ayi Sutedja, seorang pembudidaya tanaman kopi Gunung Puntang yang namanya sempat menjadi pembicaraan para Q-grader di ranah internasional pada tahun 2016 lalu. Baca lebih lanjut

Menteng; Kenangan dan Hal-hal yang Menggantikannya

Ada kedamaian yang pelan-pelan menguasai hati saya, saat siang yang cerah itu saya dan sekitar tiga puluh teman dari komunitas Ngopi Jakarta berjalan-jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Selama ini saya sering berkhayal, betapa menyenangkan seandainya bisa melakukan perjalanan ke masa silam. Menyapa mereka yang hidup di zaman itu dan melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Merasakan sendiri menjadi rakyat dari sebuah bangsa yang belum memiliki nama.

Dan di kawasan yang menyimpan banyak kenangan sejarah siang itu, saya membayangkan menjadi musafir dari masa depan yang jauh. Saya menyaksikan dari dekat kesederhanaan orang-orang zaman itu dan menebak-nebak apa yang sulit mereka percaya seandainya berkunjung ke masa kini. Baca lebih lanjut

Kuburan Tua dan Keberanian Tiada Batas

Lihat kebun ku(da)… Penuh dengan bu(aya)… Ada yang puti(kus)… Dan ada yang mera(yap)…
Setiap hari(mau)… Kusiram semu(t merah)… Mawar melati(kus)… Semuanya mampus…

Hahaha… Gak usah diambil serius. Lagu diatas adalah plesetan dari lagu lihat kebunku, jadi kalau mau nyanyiin coba pake nada lihat kebunku. Kalau gak bisa nyanyi ya udah gak usah maksa gitu, lu bisanya lagu anyenyoiii sih. Haha.

Kenapa anak kecil itu selalu takut hantu ya? Dan gue baru sadar bahwa ini adalah stigma yang diciptakan oleh orang-orang tua terdahulu. Tapi maaf-maaf aja ya men, gue si anak tahun 90an dengan semangat Panji Manusia Almunium gak segitu beraninya. loh! Iya gue gak yang paling beranilah apalagi gue pernah kesambet. Tapi gue akuin bahwa itu kelakuan super duper konyol waktu gue kecil. Baca lebih lanjut