Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai

Minggu ini sebenarnya kurang cocok untuk bernostalgia. Jiwa raga saya banyak tersita untuk urusan masa depan. Membuat banyak perencanaan, untuk rumah tangga dan terutama untuk kepentingan perusahaan. Angka-angka dalam konteks pendapatan, biaya, cicilan, sampai ke perjanjian penjualan dan rebate fee klien, hadir sejak Senin pagi. Yang saya lakukan persis seperti apa yang saya kritisi di tulisan sebelumnya tentang “Manusia Jakarta” yang hidupnya banal dan sempit waktu. Tidak cukup waktu dan/atau kemampuan untuk membaca, baik buku, ataupun kehidupan. Pergi pagi pulang malam, tidur sebentar untuk kemudian berangkat lagi pagi hari berikutnya.

Namun obrolan di grup pegiat inti Ngojak, atau tertasbihkan dengan nama Grup Komisaris Ngojak, akhirnya sukses menjadi rem yang pakem untuk saya, manusia Jakarta yang meluncur mengikuti arus deras yang memabukkan ini. Obrolan membuat saya merasa harus kembali ke 12 November 2016. Tepatnya ke Ngojak #3, yang berjudul Jakarta, Sebuah Awalan. Perjalanan ini ternyata belum tercatatkan oleh siapapun. Baca lebih lanjut

Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya.

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja. Baca lebih lanjut

Beristirahatlah, Jakarta!

Wajah-wajah kelelahan nampak dalam setiap peron stasiun KRL, halte busway, angkot, ojek-ojek online yang nantinya akan membawa mereka kembali pulang ke naungan masing-masing. Pada setiap sore, menjelang malam, mendekati pergantian hari, terus berulang lagi di keesokan hari. Dalam lelahnya, mereka memisahkan dari dunia nyata dan membangun tembok sendiri-sendiri. Dunia yang terdiri dari; ‘dirinya-dan-gawainya’.

Bermacam informasi -yang tak jarang dibaca dari portal berita karbitan- dilahap dalam waktu sepersekian jam di perjalanan. Dilanjut dengan membuka media sosial, membaca lagi tautan-tautan berita yang dibagikan oleh lingkaran pertemanan setelah dibubuhi caption lengkap dengan tagar terhadap suatu isu yang lagi hangat-hangatnya. Lalu atas dasar karena merasa ikut tahu dengan isu tersebut, atau hasrat ingin memberikan pandangan lain, tidak sepakat atas opini teman, maka tak afdol rasanya jika tak turut memberikan komentar. Yang padahal, ternyata mereka ini berada dalam kondisi serba diburu waktu, dan media-media pada gawainya hanya dijadikan tempat pelarian dari kelelahan. Baca lebih lanjut

24 Hour Project: No Object, No Prospect!

Pak pung… Pak mustape…
Enci dula… Di rumahnye…
Ada tepung… Ada kelape…
Gula jawa… Di tengahnye…

Bersenandung sambil jalan ala Syahrini ternyata menyenangkan. Pasalnya, 3 kali bolak balik Tangerang – Duri – Tangerang – Duri – Tangerang lagi, baru akhirnya nungguin di Stasiun Duri. Oke, ini gak nyambung. Kali ini dalam rangka meramaikan 24 Hour Project, beberapa pasukan NgoJak ikut keluyuran melihat aktivitas apa saja selama 24 jam terakhir di kota Jakarta. Peralatan perang udah siap: 2 Hape, Power Bank, jas hujan, plastik lebar, kompor dan nesting. Seharusnya pagi ini pasukan sudah lengkap, tapi sayangnya masih ada yang masih nyungsep di kasur. Baca lebih lanjut

Delman, Riwayatmu Kini

Nampaknya matahari sedang berbahagia, cuaca terik dan udara panas kala itu menyinari kawasan Museum Fatahillah dan sekitarnya. Saya bersama teman-teman kampus berencana menghabiskan hari Minggu ini untuk membahas kegiatan organisasi. Kota Tua kita pilih untuk menjadi tempat bertemu, diskusi dan menuangkan isi kepala.

Saya bersama Putri (kawan satu kampus dan satu organisasi) menggunakan moda transportasi KRL sekitar hampir 2 jam perjalanan, ya harap dimaklum karena kita berangkat dari Ciputat, Tangerang Selatan. Lalu setelah sampai dan acara diskusi selesai untuk menghilangkan penat kita memilih berjalan-jalan dan menghampiri satu persatu pedagang.

Kawasan Kota Tua mulai ditertibkan tahun lalu oleh Satpol PP di masa kepemimpinan Pak Ahok. Para pedagang memilih untuk menjajakan dagangannya dipinggir trotoar. Mengais rezeki di tempat keramaian merupakan kesempatan emas yang diharapkan untuk mengumpulkan lembaran rupiah. Mulai dari pedagang makanan ringan, tas, cosplayer, serta mainan anak penuh sesak dari pagi hingga menjelang Magrib. Salah satu yang menurut saya agak nyentrik yaitu Delman. Bergegaslah kita mulai menghampiri Pak Kusir yang saat itu menggunakan baju Koko putih dan peci hitam untuk menanyakan ongkos yang ditawarakan. Baca lebih lanjut