Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya.

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja. Baca lebih lanjut

Iklan

Sol Sepatu

Siapa berani telanjang kaki ke pesta pernikahan mantan atau gebetan?

Sejak awal peradaban, alas kaki memang menjadi penghias, pelindung, juga sebagai penunjuk status sosial seseorang.  Sepatu tertua diketahui publik ditemukan di Fort Rock Cave, Oregon, negara bagian Amerika Serikat, pada tahun 1938.  Sepatu dengan anyaman sederhana dari jerami tersebut menurut penelitian radio karbon, setidaknya berusia lebih dari 10.000 tahun.  Ketika manusia mulai berkembang, mulailah ada penambahan unsur hewan seperti bulu kelinci atau kulit-kulit binatang buas. Ini dipercaya karena sifat magis yang dapat menambah kecepatan dan keberanian pemakainya.

Para pelaut Fenisia yang terletak di pesisir laut wilayah Timur Tengah lain lagi. Untuk menopang pelayaran, alas kaki mereka biasanya dibuat dengan model hak tinggi, perpaduan kayu dan kain dengan hiasana aneka aksesoris. Modis seperti ini juga mewabah di kalangan Mesir Kuno, Romawi, India, China, dan Babilonia yang lebih dulu mengenal sandal sebagai alas kaki. Bedanya mereka suka menambahkan mutiara, wewangian, serta pernak-pernik identitas lainnya sebagai jimat. Di era Renaissance, seorang pelacur Venesia sempat mempopulerkan sepatu kayu dengan ketinggian 30 cm dan kembali jadi tren tahun 70 dan 90-an.  Bahkan sepatu yang kita kenakan hari ini, tak lebih hanya adaptasi modern dari gaya di masa lalu. Baca lebih lanjut

Pamit

Source: here

Jumat pekan yang lalu, saya pulang cepat dari kantor. Memang pekerjaan di hari itu sudah habis, bahkan hampir separuh waktu saya di kantor malah dihabiskan untuk menulis makalah yang hendak saya lombakan, kuliah daring, hingga numpang tidur siang. Saya menemani teman saya yang harus mewawancarai seorang narasumbernya di mall seberang kantor. Pokoknya, di hari itu, saya benar-benar kosong melompong.

Namun, hari yang kosong itu tidak membuat pikiran saya kosong. Sewaktu meninggalkan kantor, tak jauh dari lokasi saya terjebak macet akibat kereta yang lewat, saya mendengar suara yang mengejutkan sekali. Baca lebih lanjut

Ojek Bang!

image

Saya pengguna ojek, jauh sebelum perusahaan Gojek dan Grab Bike lahir. Saya lahir di Jakarta dan sudah merasakan Jakarta macetnya amit-amit dari mulai saya SMP di tahun 1997, bayangkan hari ini keadaan masih saja sama dan cenderung memburuk. Hingga pada akhirnya, ayah saya berhenti mengantarkan anak-anaknya ke sekolah dengan mobil akibat kemacetan yang membabi-buta, kemudian ia memanggil tukang ojek setempat untuk mengantar kami 3 kakak beradik ke sekolah setiap hari.

Saat diantar menggunakan motor, saya merasakan bahagia luar biasa, karena tadinya yang terjebak 1 jam di jalanan bisa dikorting hingga setengahnya. Baca lebih lanjut

SAR.JA.NA

sarjana_featured

“Semakin tinggi sekolah, bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. HARUS SEMAKIN mengenal batas” ~ Pramoedya Ananta Toer

Jangan menduga saya tahu quotes keren di atas dari hasil membaca buku-buku Pram (biar akrab), tapi karena saya lihat tulisan di jalanan. Entah saya dan mereka yang nulis hal itu di jalanan punya kegelisahan yang sama atau enggak? Enggak tahu juga. Tapi daripada tebak-tebak buah manggis dan nanti kita berujung ke pantun, mendingan hiraukan saja sekelumit pemikiran gak penting barusan. Saya menemukan tulisan ini selagi mencari hiburan murah pembunuh waktu masa kini yaitu salah satu diantaranya adalah instagram-an, yang lebih murah? Banyak! Ngelamun, maenan ludah, nontonin bayangan, ngomelin anak orang yang maenan petasan, masih mau disebutin lagi? Gak usah yah. Baca lebih lanjut