Beristirahatlah, Jakarta!

Wajah-wajah kelelahan nampak dalam setiap peron stasiun KRL, halte busway, angkot, ojek-ojek online yang nantinya akan membawa mereka kembali pulang ke naungan masing-masing. Pada setiap sore, menjelang malam, mendekati pergantian hari, terus berulang lagi di keesokan hari. Dalam lelahnya, mereka memisahkan dari dunia nyata dan membangun tembok sendiri-sendiri. Dunia yang terdiri dari; ‘dirinya-dan-gawainya’.

Bermacam informasi -yang tak jarang dibaca dari portal berita karbitan- dilahap dalam waktu sepersekian jam di perjalanan. Dilanjut dengan membuka media sosial, membaca lagi tautan-tautan berita yang dibagikan oleh lingkaran pertemanan setelah dibubuhi caption lengkap dengan tagar terhadap suatu isu yang lagi hangat-hangatnya. Lalu atas dasar karena merasa ikut tahu dengan isu tersebut, atau hasrat ingin memberikan pandangan lain, tidak sepakat atas opini teman, maka tak afdol rasanya jika tak turut memberikan komentar. Yang padahal, ternyata mereka ini berada dalam kondisi serba diburu waktu, dan media-media pada gawainya hanya dijadikan tempat pelarian dari kelelahan. Baca lebih lanjut

Napak Tilas dari Cawang ke Kramat Jati

Biasanya jam sembilan malam bus jurusan Sukabumi sudah enggak ada yang lewat. Di depan gereja HKBP itu puluhan penumpang mengantre bus langganan seperti laju Utama, Daya Tunggal, dan Agra Mas. Bagi yang mengarah ke Sukabumi pilihan pun terpaksa beralih ke mobil omprengan yang hanya sampai Pasar Ciawi. Yang ke Bogor masih mending karena tujuannya sampai Terminal Baranang Siang. Selain di depan gereja HKBP di Jalan Perindustrian, jalan terusan tol Cikampek menuju jalan D.I Panjaitan juga biasa menjadi terminal bayangan. Di sekitar simpang besar Cawang itu, beberapa pedagang kaki lima masih asyik menjajakan barang dagangan tanpa rasa takut.

Ketika kemarin menyusun kegiatan NgoJak ini saya senantiasa mengingat cerita di atas. Masa di mana kali pertama menjadi anak urban; berangkat Senin subuh di awal pekan, lantas pulang di Jumat malam di ujung pekan. Begitu seterusnya sampai berita menyedihkan itu tiba, bus AKAP tak boleh melintas kawasan Cawang UKI per tanggal 14 Mei 2009. Ongkos menjadi lebih mahal karena harus ke Kampung Rambutan atau ke Pulogadung dan Kalideres. Namun saya masih mengalami sebuah masa di mana menurunkan penumpang masih bisa dilakukan di simpangan menuju Tol Dalam Kota dan Tol Wiyoto Wiyono, sehingga menuju Cawang UKI tinggal melalui semak-semak yang berakhir tepat di Jalan Mayjen Sutoyo. Baca lebih lanjut

24 Hour Project: No Object, No Prospect!

Pak pung… Pak mustape…
Enci dula… Di rumahnye…
Ada tepung… Ada kelape…
Gula jawa… Di tengahnye…

Bersenandung sambil jalan ala Syahrini ternyata menyenangkan. Pasalnya, 3 kali bolak balik Tangerang – Duri – Tangerang – Duri – Tangerang lagi, baru akhirnya nungguin di Stasiun Duri. Oke, ini gak nyambung. Kali ini dalam rangka meramaikan 24 Hour Project, beberapa pasukan NgoJak ikut keluyuran melihat aktivitas apa saja selama 24 jam terakhir di kota Jakarta. Peralatan perang udah siap: 2 Hape, Power Bank, jas hujan, plastik lebar, kompor dan nesting. Seharusnya pagi ini pasukan sudah lengkap, tapi sayangnya masih ada yang masih nyungsep di kasur. Baca lebih lanjut

Delman, Riwayatmu Kini

Nampaknya matahari sedang berbahagia, cuaca terik dan udara panas kala itu menyinari kawasan Museum Fatahillah dan sekitarnya. Saya bersama teman-teman kampus berencana menghabiskan hari Minggu ini untuk membahas kegiatan organisasi. Kota Tua kita pilih untuk menjadi tempat bertemu, diskusi dan menuangkan isi kepala.

Saya bersama Putri (kawan satu kampus dan satu organisasi) menggunakan moda transportasi KRL sekitar hampir 2 jam perjalanan, ya harap dimaklum karena kita berangkat dari Ciputat, Tangerang Selatan. Lalu setelah sampai dan acara diskusi selesai untuk menghilangkan penat kita memilih berjalan-jalan dan menghampiri satu persatu pedagang.

Kawasan Kota Tua mulai ditertibkan tahun lalu oleh Satpol PP di masa kepemimpinan Pak Ahok. Para pedagang memilih untuk menjajakan dagangannya dipinggir trotoar. Mengais rezeki di tempat keramaian merupakan kesempatan emas yang diharapkan untuk mengumpulkan lembaran rupiah. Mulai dari pedagang makanan ringan, tas, cosplayer, serta mainan anak penuh sesak dari pagi hingga menjelang Magrib. Salah satu yang menurut saya agak nyentrik yaitu Delman. Bergegaslah kita mulai menghampiri Pak Kusir yang saat itu menggunakan baju Koko putih dan peci hitam untuk menanyakan ongkos yang ditawarakan. Baca lebih lanjut