Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya.

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja. Baca lebih lanjut

Menteng; Kenangan dan Hal-hal yang Menggantikannya

Ada kedamaian yang pelan-pelan menguasai hati saya, saat siang yang cerah itu saya dan sekitar tiga puluh teman dari komunitas Ngopi Jakarta berjalan-jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Selama ini saya sering berkhayal, betapa menyenangkan seandainya bisa melakukan perjalanan ke masa silam. Menyapa mereka yang hidup di zaman itu dan melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Merasakan sendiri menjadi rakyat dari sebuah bangsa yang belum memiliki nama.

Dan di kawasan yang menyimpan banyak kenangan sejarah siang itu, saya membayangkan menjadi musafir dari masa depan yang jauh. Saya menyaksikan dari dekat kesederhanaan orang-orang zaman itu dan menebak-nebak apa yang sulit mereka percaya seandainya berkunjung ke masa kini. Baca lebih lanjut

Petani-petani Kendeng dan Kebebasan

Siapa yang Sedang Terpasung? 

Aksi Dipasung Semen Jilid 2 dan  pro kontranya, menggelitik saya untuk bertanya, siapa yang (sebenar-benarnya) sedang terpasung? Dan siapa yang (sebenar-benarnya) paling bebas?

Semen yang membungkus kaki dan membatasi aktivitas para petani, aktivis, dan relawan yang ikut dalam aksi itu mengingatkan saya kepada tokoh dua tokoh dalam roman “Jalan Tak Ada Ujung” (1952) karya Mochtar Lubis. Sebuah roman yang begitu rapih menyusun jalur penjungkirbalikan perspektif tentang kebebasan. Guru Isa, yang semasa fisiknya bebas, justru begitu terpenjara jiwanya karena kepengecutannya sendiri dalam mengambil keputusan. Ia hampir tidak memiliki keberanian dan selalu gagal dalam mengambil tindakan-tindakan revolusioner untuk pembebasan diri. Sementara Hazil, dikisahkan sebagai seorang aktivis yang selalu bergerak penuh kebebasan. Hingga pada suatu akhir perjuangan kedua orang tokoh itu sama-sama terpenjara secara fisik, keadaan yang kasat mata terlihat sama, namun justru menghadirkan refleksi yang berbeda. Dibalik jeruji besi, Hazil merasa terpenjara juga jiwanya.. Sebaliknya, Guru Isa menganggap keterpenjaraan fisiknya sebagai proklamir bagi kebebasan jiwanya: secara fisik terpenjara, namun jiwanya merdeka. Baca lebih lanjut

Uang Koin, untuk Siapa?

Belum lama ini Bank Indonesia menerbitkan sebelas pecahan desain rupiah baru yang terdiri dari nominal Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000. Sedangkan uang rupiah logam terdiri atas pecahan Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100. Menurut beberapa media yang meliput, peluncuran rupiah desain baru tersebut diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Gubernur Bank Indonesia sendiri, Agus Martowardoyo.

Bukannya saya mau ikutan membanding-bandingkan apakah rupiah condong mirip yuan, euro, atau bahkan ngotot kalau desain emisi lebih menyerupai real. Sontak berhasil bikin saya geli sambil menahan kewarasan saat melihat komentar-komentar berseliweran di beranda linimasa. Duh Gusti. Baca lebih lanjut

Memaknai Privilese Ibukota

255 juta jiwa sekian-sekian, saya tak lagi tahu pasti berapa penduduk Indonesia saat ini sejak Bang Rhoma vakum di kancah perdangdutan nasional hingga lebih memilih jalur eksis di dunia politik. Sekitar lima persen menjadi komuterian di Jakarta dari pagi hingga sore hari, dan tinggal tiga persennya saja yang benar-benar menetap, itu pun bukan masyarakat asli Betawi, alias sudah mengalami heterogenitas ras juga etnis.

Sejak awal abad ke-20 dan khususnya setelah Pengakuan Kedaulatan (1949), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi – dalam arti apa pun juga – tinggal sebuah minoritas. Pada tahun 1930 suku Betawi mencakup 36,2% dari jumlah penduduk Jakarta di waktu tersebut. Pada tahun 2000 mereka menjadi 27,6 persen saja. Semakin berkurang hingga tahun ini, terdesak ke pinggir, bahkan ke luar Jakarta. Baca lebih lanjut