Terms Conditions yang Dilupakan Berujung Panik dan Pemblokiran

Dua pekan lalu republik ini digegerkan dengan konten eksplisit menjurus pornografi yang bisa diakses melalui WhatsappNetizen pun bersabda meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) meblokir aplikasi besutan Jan Koum ituGayung pun bersambut. Sabda netizen kali ini berhasil mempengaruhi pemerintah. Tanpa basa-basi Kemenkominfo meminta Whatsapp tutup konten eksplisit menjurus pornografi yang membuat republik ini heboh. Kemenkominfo memberi tenggat waktu hingga Rabu (8/11/2017).

Kehebohan ini akhirnya berakhir dengan damai. Namun ada satu sabda netizen yang masih menggelitik yaitu “Whatsapp berbahaya untuk anak-anak,”. Sabda netizen tersebut merupakan wujud sesat pikir. Karena aplikasi pesan instan berlogo telepon hijau itu memang tidak diciptakan untuk anak-anak. Itu termaktub dalam Terms & Condition yang Whatsapp berikan ketika pengguna mendaftar.

Pengguna Whatsapp minimal berumur 13 tahun atau lebih atau umur yang sudah tidak memerlukan persetujuan orangtua sesuai dengan UU yang berlaku di negara tersebut.  Namun, Terms & Condition layanan, terutama layanan software biasanya berbentuk tulisan panjang nan menjemukan. Pengguna layanan peduli setan dengan pasal – pasal yang ada dalam dokumen Terms & Condition Baca lebih lanjut

Iklan

Penikmat Sastra vs Penganalis Sastra

Sastra itu untuk dinikmati atau untuk dianalisa?

Pertanyaan itu menyulut ingatan saya kepada perdebatan di kalangan pencinta sastra tentang apakah kritik sastra adalah suatu kritik yang mengapreseasi atau kritik yang menganalisa?

Ada dua kubu dalam perdebatan ini. Kubu pertama melihat sastra sebagai suatu objek analisa. Sementara kubu kedua menganggap bahwa sastra adalah suatu gejala yang muncul dalam pengalaman sehingga harusnya diapreseasi sebagai momen pisikologis, momen perjumpaan seseorang dengan presepsinya. Yang pertama nenekankan analisa yang kedua menekankan perasaan.

Pertanyaan selanjutnya —melihat perbedaan yang mendasar dalam pendekatan itu, apakah benar-benar ada ‘pertentangan’ antara keduanya?

Saya memilih untuk menjawab tidak. Karena meskipun sastra —cerita, puisi dan drama— hadir untuk dinikmati dan diapreseasi, namun bagi orang-orang yang sungguh mencintainya, pengenalan lebih lanjut merupakan suatu kebutuhan atau bahkan keharusan. Saya kutipkan sajak Sapardi… Baca lebih lanjut

Mereka yang Memburu Waktu

Suara adzan subuh sedikit demi sedikit mulai tersamar. Suara deru mesin dari dalam rumah terdengar lirih dan makin keras saat saya benar-benar keluar rumah. Kendaraan saling beradu kecepatan; seakan para pengendara tak ingin kalah antara pengendara satu dengan pengendara lainnya.

Kali ini saya ada tugas kantor cabang yang berada Kota Bogor. Saya mengawali perjalanan dari BSD menuju stasiun Rawa Buntu, Serpong, Tangerang. Dari BSD, saya memilih ojek online. Bukan karena saya ikut memboikot perilaku sopir angkot yang menabrak ojek online itu. Atau lantaran saya penggila ojek online. Bukan! Saya di sini sebagai pengguna segala fasilitas transportasi pada umumnya. Saya memilih ojek online—sebut saja Grab—ini karena efisien. Jika dari BSD menuju stasiun Rawa Buntu, bila naik angkot harus oper 2 kali. Karena alasan itulah saya naik ojek online. Nah, baru saat pulang, saya baru naik angkot. Baca lebih lanjut

Goyang Lidah Agus Salim

Saya selalu tertarik dengan kiasan-kiasan bahasa Indonesia. Karakteristik yang terpengaruh gaya berbahasa Melayu ini buat saya adalah sebuah seni tersendiri. Membuat dan memakai kiasan untuk mereinterpretasi kenyataan tentunya membutuhkan kepekaan, dan olah rasa yang kuat. Salah satu kiasan yang menarik adalah “goyang lidah”, yang seperti kita tahu, dipakai untuk menggambarkan rasa enak dari sebuah panganan yang dimakan seseorang. Bagi saya, membayangkan sepotong steak dengan kematangan medium, masuk dengan mulus ke dalam mulut, lalu saripatinya mencair ketika dikunyah. Memang mirip saat melihat warga kompleks khidmat bergoyang dengan iringan lagu dangdut di panggung tujuhbelasan.

Lalu apa hubungannya dengan Agus Salim? Apakah Agus Salim adalah penghobi kuliner? Tentu tidak. Agus Salim yang selalu hidup dalam aksi kesederhanaan mungkin bukan orang yang menganggap kuliner adalah seni yang menggugah. Pola pikir seperti itu tentunya bukan pola pikir umum warga bumiputera negara jajahan. Baca lebih lanjut

Senyum Pun Aneh

Hari ini karena ada suatu urusan saya harus ke Jakarta. Pagi tadi saya menumpang di rumahnya Arif (kawan dari Ruang Berbagi Ilmu) di sekitaran Universitas Indonesia. Menggunakan 2 moda transportasi yakni KRL dan Trans Jakarta.

Sebagai orang yang pernah hidup di desa selama satu tahun dimana setiap hari senyum diumbar kepada setiap orang yang ditemui baik kenal maupun tidak, kebiasaan ini saya bawa hingga ke Jakarta. Jika di desa senyuman itu membuahkan, minimal, sebuah senyuman juga atau kalau beruntung bisa menjadi sebuah panggilan makan dan ngopi.

Tetapi di Jakarta tidak. Setidaknya dua pengalaman pagi ini yang saya temui. Baca lebih lanjut