Setapak Senyap Muhidin M. Dahlan

10922569_10203854435427428_7813537766879373254_n

Seorang kawan menulis, “Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.” Ya, membaca memang selalu menyediakan ruang perenungan, ada jeda yang akhirnya bisa menakar ulang teks. Ini berimbas pada kehati-hatian ketika hendak melontarkan sesuatu. Bagi orang-orang yang mengkhidmati proses membaca, berkomentar sebisa-bisa ditimbang dengan matang agar tak jadi ucap prematur yang asal hambur.

Membaca yang kerap diikuti dengan menulis, di semesta dunia literasi memang tak bisa dipisahkan. Orang yang banyak baca, sekiranya dia menulis, pasti tulisannya ga jelek-jelek amatlah, begitu kira-kira. Dan sekali ini saya hendak menghamparkan satu kisah pendek, tentang seorang yang bergelut dan memilih jalan hidup sebagai pembaca dan penulis. Baca lebih lanjut

Iklan

Pembuktian Andrea Hirata

Andrea Hirata- [Ayah]

Setelah menyelesaikan International Writing Program 2010 di IOWA University, Andrea Hirata datang lagi ke gelanggang sastra Indonesia dengan novel terbarunya yang berkisah tentang hubungan ayah dan anak, namun sekaligus dibalut dengan cerita perkawanan dan cinta yang getir.

Kali ini dari segi bangunan cerita lebih bisa dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan Laskar Pelangi yang melambungkan namanya namun penulisannya tidak fokus, atau bahkan dengan novel-novel dia yang lainnya, Ayah menampilan ramuan kisah, plot, dan twist yang cukup kokoh.

Namun meskipun demikian, tokoh-tokoh yang didadarkan di dalamnya masih kental dengan karakter-karakter komikal yang sangat mudah untuk die hard. Baca lebih lanjut

Bandung Berburu Buku

Bandung Berburu Buku

Adhe. Ya, sependek itu nama yang saya kenal. Aktivis buku kelahiran Majalengka ini sempat melahirkan sebuah anak rohani dengan judul, “Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja”. Di Jogja, tak sedikit penerbit yang lahir dan bekerja di gang-gang sempit. Keterlaluan jika membayangkan semua penerbit itu seperti perusahaan dagang milik Jakob Oetama. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas niaga, seperti biasa aksi-aksi culas selalu hadir. Namun terlepas dari itu, dunia penerbitan Jogja telah mengibarkan panji bahwa kota tersebut—terutama para pegiatnya, telah terbiasa dengan arus pemikiran dan wacana.

Hal ini—berdasarkan pengalaman pribadi, juga diperkuat persentuhan dengan beberapa penulis “didikan” Jogja. Mayoritas dari mereka adalah para penulis yang lincah berargumentasi, pandai berkisah, dan gesit dalam membedah persoalan dan wacana. Beberapa buku dan esainya sempat saya lahap, bahkan sebuah memoar telah berhasil mengubah haluan hidup saya. Pendeknya, dari teks-teks yang saya sentuh, juga dari mengamati aktivitas dan proses kreatif para penulisnya, Jogja adalah sewujud kota yang dinamis bagi para petualang intelektual. Pintu-pintu terbuka, siap menyambut para tamu yang hendak lebur. Baca lebih lanjut

Membabat Gulma Majalah Islam Sabili — Bagian 2 (Selesai)

bukan_pasar_malam_bBerikut adalah perbandingan antara cerpen PULANG yang ditulis oleh Kukuh Setyo Prakoso dengan roman BUKAN PASAR MALAM karangan Pramoedya Ananta Toer. Dari 16 bagian (bab) di roman BUKAN PASAR MALAM, ternyata Kukuh Setyo Prakoso hanya mengambil bagian ke-7 saja. Sebuah kerja penjiplakan yang tanggung. Dan inilah perbandingan itu :

***

PULANG :
Sesudah mandi, aku ada kesempatan melihat-lihat rumah dan pelataran. Mandi itu sebenarnya bukan mandi yang betul-betul. Air di kota kami yang kecil ini tebal oleh lumpur Bengawan Solo. Hanya sesekali saja airnya jernih. Pembagian air PDAM di sini agak pelit. Sehari menyala, lalu sehari kemudian mati. Barangkali air mandi yang tebal inilah yang membuat penduduk kota kecil ini berbeda dengan penduduk kota besar yang mempunyai pembagian air PDAM yang teratur, bening, dan baik. Di sini, orang berjalan dengan kulitnya yang berkerak-kerak. Kami menyebutnya dengan busik.

BUKAN PASAR MALAM :
Jam Sembilan pagi aku bangun. Baru sesudah mandi ada kesempatan padaku melihat-lihat rumah dan pelataran. Baca lebih lanjut

Membabat Gulma Majalah Islam Sabili — Bagian 1

JA_0001Hal ini sebenarnya sudah lama ingin saya tulis, tapi selalu tertunda, maka persoalan ini jadilah seumpama mayat yang tersimpan di peti es; dingin dan terlupakan. Niat untuk menuliskannya timbul kembali setelah membaca beberapa tulisan ihwal kasus plagiasi di harian Lampung Post dan harian Kompas. Adalah Dadang Ari Murtono yang cerpennya berjudul PEREMPUAN TUA DALAM RASHOMON ternyata adalah hasil plagiasi dari cerita RASHOMON karya seorang cerpenis terbaik Jepang bernama Akutagawa Ryunosuke.

Satu lagi yang menyemangati saya untuk menulis adalah tulisan Akmal Nasery Basral yang mengkritisi cerpen Seno Gumira Ajidarma yang berjudul DODOLIT DODOLIBRET. Cerpen Seno ini berhasil masuk ke dalam Cerpen Pilihan Kompas tahun 2010, yang padahal menurut Akmal, cerpen ini adalah plagiasi dari karya Leo Tolstoy yang berjudul THREE HERMITS.

Dua kasus plagiasi inilah yang membuat saya kembali teringat dengan cerpen karya Kukuh Setyo Prakoso (selanjutnya ditulis Kukuh), yang dimuat di Majalah Islam Sabili No. 07 TH XVI, 23 Oktober 2008/23 Syawal 1429. Untuk lebih menjelaskan edisi yang mana majalah itu pernah ditumbuhi gulma, pernah memuat sebuah cerpen plagiat, maka saya tambahkan beberapa keterangan sebagai berikut : tulisan di sampul depan majalah berbunyi “America game Over”, dan gambar sampulnya : ikan hiu hendak memakan patung Liberty. Baca lebih lanjut