Setapak Senyap Muhidin M. Dahlan

10922569_10203854435427428_7813537766879373254_n

Seorang kawan menulis, “Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.” Ya, membaca memang selalu menyediakan ruang perenungan, ada jeda yang akhirnya bisa menakar ulang teks. Ini berimbas pada kehati-hatian ketika hendak melontarkan sesuatu. Bagi orang-orang yang mengkhidmati proses membaca, berkomentar sebisa-bisa ditimbang dengan matang agar tak jadi ucap prematur yang asal hambur.

Membaca yang kerap diikuti dengan menulis, di semesta dunia literasi memang tak bisa dipisahkan. Orang yang banyak baca, sekiranya dia menulis, pasti tulisannya ga jelek-jelek amatlah, begitu kira-kira. Dan sekali ini saya hendak menghamparkan satu kisah pendek, tentang seorang yang bergelut dan memilih jalan hidup sebagai pembaca dan penulis. Baca lebih lanjut

Iklan

Satrio Piningit dan Kaum Oposan

Semar. Sebuah lukisan karya V.A Sudiro yang dipamerkan di Museum Wayang, Kota Tua, Jakarta
Semar. Sebuah lukisan karya V.A Sudiro yang dipamerkan di Museum Wayang, Kota Tua, Jakarta

Sejak era reformasi bergulir yang ditandai dengan lengsernya pucuk pimpinan Orde Baru, media tiba-tiba rajin menulis ihwal Satrio Piningit. Tokoh ini tentu saja lahir dari literatur Jawa namun mampu mengusai isu nasional. Tersebutlah seorang sakti mandraguna yang saking saktinya sampai bisa memprediksi tentang akan datangnya seorang pemimpin yang cerdas, jujur, dan tingkah lakunya lurus dan benar.

Pasca amuk massa 1998, masyarakat rindu dengan pemimpin yang digadang-gadang hendak datang sebagai penyelamat kehidupan yang terlanjur sudah remuk. Ekonomi hancur, hukum doyong berderak-derak, pergaulan sosial memanas dengan konflik, dan lain-lain. Maka isu Satrio Piningit menemui titik didihnya yang paling massif.

Isu yang sangat empuk ini kemudian digoreng oleh media dengan cukup brutal. Dengan kalkulasi keuntungan yang menggoda dan tenaga pemberitaan yang bergenit-genit dengan tema dan materi, maka banjir deraslah kabar tentang pemimpin keren ini. Bagaimana tidak, Orde Baru yang waktu kerusuhan itu sah untuk dilekatkan kepadanya nama-nama busuk, bajingan, dan bangsat, adalah pembanding yang sempurna untuk melahirkan siapa saja yang dianggap lebih mulia untuk diangkat menjadi Satrio Piningit. Baca lebih lanjut

Jakarta Harus Segera Istirahat

jakarta_rehat

Salah satu hal yang kerap saya syukuri adalah bahwa ibukota Indonesia tidak jadi pindah ke Bandung. Puji Tuhan untuk krisis ekonomi dunia yang membuat Belanda keteteran dalam dana. Anggaplah kantor pusat Pos, Telkom, dan Kereta Api sebagai pemerataan tak sengaja dari sebuah musibah rencana. Zaman yang bergegas—tak perlu jadi ibukota negara– kini menyeret Bandung menjadi kota yang—seperti juga Jakarta, ringkih dengan segala persoalan kontemporernya. Tapi karena skalanya belum terlalu luas, dan eskalasi konflik sosial masih tidak terlalu tinggi, maka saya masih bisa menyisakan beberapa rindu pada kota ini.

Tapi lihatlah Jakarta. Rindu macam apa yang bisa nyangkut di kota itu? Kanal-kanal program televisi diolah di Jakarta, lalu mengusai langit Nusantara. Gosip-gosip rumahtangga dianggap risalah mulia sehingga mesti tersebar di segenap tumpah darah. Jurnalis saling tuduh tentang siapa yang bermental “korang kuning”, tapi kita tahu bahwa berita bocah malang Angeline disajikan sedemikan rupa layaknya infotainment-infotainment teman ibu-ibu rumahtangga haus hiburan. Di tv, ulangtahun dan persoalan Jakarta dibahas berulang-ulang, ngana pikir orang-orang di provinsi lain butuh tahu? Toh, satu gerbong kereta api bernuansa Jakarta pun tak berarti apa-apa buat orang-orang di Atambua, yang untuk makan pun susah. Baca lebih lanjut

Pembuktian Andrea Hirata

Andrea Hirata- [Ayah]

Setelah menyelesaikan International Writing Program 2010 di IOWA University, Andrea Hirata datang lagi ke gelanggang sastra Indonesia dengan novel terbarunya yang berkisah tentang hubungan ayah dan anak, namun sekaligus dibalut dengan cerita perkawanan dan cinta yang getir.

Kali ini dari segi bangunan cerita lebih bisa dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan Laskar Pelangi yang melambungkan namanya namun penulisannya tidak fokus, atau bahkan dengan novel-novel dia yang lainnya, Ayah menampilan ramuan kisah, plot, dan twist yang cukup kokoh.

Namun meskipun demikian, tokoh-tokoh yang didadarkan di dalamnya masih kental dengan karakter-karakter komikal yang sangat mudah untuk die hard. Baca lebih lanjut

Bandung Berburu Buku

Bandung Berburu Buku

Adhe. Ya, sependek itu nama yang saya kenal. Aktivis buku kelahiran Majalengka ini sempat melahirkan sebuah anak rohani dengan judul, “Declare! Kamar Kerja Penerbit Jogja”. Di Jogja, tak sedikit penerbit yang lahir dan bekerja di gang-gang sempit. Keterlaluan jika membayangkan semua penerbit itu seperti perusahaan dagang milik Jakob Oetama. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas niaga, seperti biasa aksi-aksi culas selalu hadir. Namun terlepas dari itu, dunia penerbitan Jogja telah mengibarkan panji bahwa kota tersebut—terutama para pegiatnya, telah terbiasa dengan arus pemikiran dan wacana.

Hal ini—berdasarkan pengalaman pribadi, juga diperkuat persentuhan dengan beberapa penulis “didikan” Jogja. Mayoritas dari mereka adalah para penulis yang lincah berargumentasi, pandai berkisah, dan gesit dalam membedah persoalan dan wacana. Beberapa buku dan esainya sempat saya lahap, bahkan sebuah memoar telah berhasil mengubah haluan hidup saya. Pendeknya, dari teks-teks yang saya sentuh, juga dari mengamati aktivitas dan proses kreatif para penulisnya, Jogja adalah sewujud kota yang dinamis bagi para petualang intelektual. Pintu-pintu terbuka, siap menyambut para tamu yang hendak lebur. Baca lebih lanjut