Sentimen Sore

Ada tiga hal yang bisa membuat saya benar-benar larut dalam biru:

Sore, kopi hitam, dan hujan.

Tidak perlu ketiganya untuk meluruhkan saya yang berpura-pura mandiri. Tidak perlu ketiganya untuk membuat saya terdiam seribu bahasa. Cukup gabungan dari dua hal di atas selalu berhasil membuat saya larut dalam lamunan dan terbawa dalam kenangan bertahun-tahun lalu, di teras depan sebuah rumah sederhana:

Seorang nenek berbincang akrab dengan cucu perempuannya di teras depan rumah, ditemani gemericik hujan sore, secangkir kopi hitam untuk sang nenek, segelas susu putih panas untuk si cucu. Baca lebih lanjut

Hidup (tidak) Serumit Pikiran Kita

hidup_ilustrasi

Sebagai manusia yang meniti karir di kota metropolitan, saya terkadang merasa hidup ini begitu rumit. Serumit itu, bahkan untuk menikmati akhir minggu dengan tenang pun saya merasa ragu karena harus menyiapkan pekerjaan di hari Senin. Segala pikiran mengenai apa yang harus saya lakukan di hari Senin selalu menyapa ketika saya terbangun di hari Minggu. Padahal, hal-hal tersebut pada akhirnya baru akan dikerjakan di hari Senin dan pada dasarnya apa yang saya lakukan di setiap hari Senin adalah pengulangan dari Senin-Senin sebelumnya. Jadi, untuk apa saya pusing di hari Minggu?

Kebanyakan dari kita sibuk memusingkan hal yang belum terjadi, kebanyakan dari kita mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. “Bagaimana jika di meeting hari Senin nanti saya dibantai oleh atasan?”, “Bagaimana jika data yang saya sajikan salah?”, “Bagaimana jika target saya bulan ini tidak terpenuhi?”, dan puluhan kekhawatiran lain selalu menyelimuti kita hampir di setiap hari, jam, menit, bahkan detik. Tidak bisakah kita duduk sebentar di teras depan rumah sambil ditemani secangkir teh atau kopi untuk menikmati akhir minggu tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi di hari Senin?

Tidak jarang juga kita dipusingkan dengan pemikiran orang lain. Kita sibuk mencitrakan diri supaya tidak dinilai buruk oleh orang-orang yang mungkin sebenarnya tidak sepeduli itu, kita sibuk menunjukkan kesibukan kita di media sosial, sibuk pula menunjukkan kebahagiaan yang kebanyakan hanya pencitraan supaya dinilai kita menikmati hidup kita. Untuk apa segala pencitraan itu jika pada akhirnya kita sendiri tidak menikmati? Baca lebih lanjut