Kopi Gunung Puntang; Menanam Untuk Merawat

Biji kopi ditanam untuk kelestarian alam serta merawat gunung sebagai sumber kehidupan.  -Murbeng Puntang

Hampir Maghrib ketika saya dan teman-teman dibawa oleh Kang Fauzan ke lapak pengeringan kopi miliknya, setelah sebelumnya menyempatkan mampir ke Haben Nagen usaha gerai kopi yang juga dimiliki oleh Kang Fauzan sendiri. Dasar pengolahan kopi hingga menjadi green bean yaitu metode naturalhoney, dan full-washed dikenalkan oleh Pak Rudi, salah seorang pekerja di sana. Nah, pengetahuan dari Pak Rudi ini menjadi bekal selanjutnya untuk bertamu ke tempat Ayi Sutedja, seorang pembudidaya tanaman kopi Gunung Puntang yang namanya sempat menjadi pembicaraan para Q-grader di ranah internasional pada tahun 2016 lalu. Baca lebih lanjut

Beristirahatlah, Jakarta!

Wajah-wajah kelelahan nampak dalam setiap peron stasiun KRL, halte busway, angkot, ojek-ojek online yang nantinya akan membawa mereka kembali pulang ke naungan masing-masing. Pada setiap sore, menjelang malam, mendekati pergantian hari, terus berulang lagi di keesokan hari. Dalam lelahnya, mereka memisahkan dari dunia nyata dan membangun tembok sendiri-sendiri. Dunia yang terdiri dari; ‘dirinya-dan-gawainya’.

Bermacam informasi -yang tak jarang dibaca dari portal berita karbitan- dilahap dalam waktu sepersekian jam di perjalanan. Dilanjut dengan membuka media sosial, membaca lagi tautan-tautan berita yang dibagikan oleh lingkaran pertemanan setelah dibubuhi caption lengkap dengan tagar terhadap suatu isu yang lagi hangat-hangatnya. Lalu atas dasar karena merasa ikut tahu dengan isu tersebut, atau hasrat ingin memberikan pandangan lain, tidak sepakat atas opini teman, maka tak afdol rasanya jika tak turut memberikan komentar. Yang padahal, ternyata mereka ini berada dalam kondisi serba diburu waktu, dan media-media pada gawainya hanya dijadikan tempat pelarian dari kelelahan. Baca lebih lanjut

Chao Phraya, dan Ingatan Tentang Ciliwung

Selain papan kecil bertuliskan “TAXI” yang terlihat pada atap Tuk-Tuk, alat transportasi tradisional Thailand yang ternyata bentuknya tak jauh dari bemo terbuka, kampanye gencar “Buddha is Not for Sale” yang ditandai lewat tempelan stiker di pintu toko juga brosur tempat pariwisata, hal yang kemudian mampu saya ingat dari Bangkok adalah sistem transportasi publik yang sungguh membuat iri hati. Sebuah ibukota negara yang masuk ke dalam daftar negara maju di Asean pun tidak, terlebih dunia, mengapa memiliki sistem transportasi yang lebih baik dibanding ibukota negara tetangganya. Ya, Jakarta.

Kepadatan lalu lintas di kota-kota besar seolah tidak pernah ditemukan ujungnya, menuntut para pemangku kebijakan untuk lihai memainkan terobosan baru yang serba cepat dan menguntungkan banyak pihak.

Baca lebih lanjut

Uang Koin, untuk Siapa?

Belum lama ini Bank Indonesia menerbitkan sebelas pecahan desain rupiah baru yang terdiri dari nominal Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000. Sedangkan uang rupiah logam terdiri atas pecahan Rp 1.000, Rp 500, Rp 200, dan Rp 100. Menurut beberapa media yang meliput, peluncuran rupiah desain baru tersebut diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Gubernur Bank Indonesia sendiri, Agus Martowardoyo.

Bukannya saya mau ikutan membanding-bandingkan apakah rupiah condong mirip yuan, euro, atau bahkan ngotot kalau desain emisi lebih menyerupai real. Sontak berhasil bikin saya geli sambil menahan kewarasan saat melihat komentar-komentar berseliweran di beranda linimasa. Duh Gusti. Baca lebih lanjut

Memaknai Privilese Ibukota

255 juta jiwa sekian-sekian, saya tak lagi tahu pasti berapa penduduk Indonesia saat ini sejak Bang Rhoma vakum di kancah perdangdutan nasional hingga lebih memilih jalur eksis di dunia politik. Sekitar lima persen menjadi komuterian di Jakarta dari pagi hingga sore hari, dan tinggal tiga persennya saja yang benar-benar menetap, itu pun bukan masyarakat asli Betawi, alias sudah mengalami heterogenitas ras juga etnis.

Sejak awal abad ke-20 dan khususnya setelah Pengakuan Kedaulatan (1949), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi – dalam arti apa pun juga – tinggal sebuah minoritas. Pada tahun 1930 suku Betawi mencakup 36,2% dari jumlah penduduk Jakarta di waktu tersebut. Pada tahun 2000 mereka menjadi 27,6 persen saja. Semakin berkurang hingga tahun ini, terdesak ke pinggir, bahkan ke luar Jakarta. Baca lebih lanjut