Politik Jawa Jokowi Pasca-Ahok

Setelah Ahok habis, kini Jokowi dan koalisinya ada baiknya segera move on dan beralih ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ahok kalah. Sosok yang setahun lalu nampak sebagai calon tak terkalahkan ini harus menerima nasib menjadi warga DKI biasa selama lima tahun kedepan setelah ia dan Djarot Saeful Hidayat kalah suara oleh Anies Baswedan dan pasangannya, Sandiaga Uno. Ibarat sepakbola, Ahok adalah Real Madrid era 2003-2005, sadis dalam menyerang, tapi sering melakukan blunder. Blunder tersebut, disikat habis oleh lawan-lawannya. Ahok terbantai oleh kesalahannya sendiri.

Kekalahan di DKI tentunya sangat merugikan posisi politik Jokowi. Jokowi terpilih dalam posisi penguasa-oposisi yang 50-50. Sama kuat antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Partai-partai in between kubu Jokowi dan kubu Prabowo bergerak cenderung random diantara kedua polar tersebut, harap maklum, untuk mencari makan diantara porsi-porsi PDIP, Gerindra, dan Golkar. Sebagaimana teori atas bipolaritas politik, akan selalu ada perang dingin antara dua kubu, dan dalam diam, keduanya kasak-kusuk mencari sekutu untuk menjadi satu tahap lebih kuat dibanding musuhnya.

Jawa adalah kunci, begitu dialog palsu Aidit di film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu tayang di tanggal 30 September malam saat Orde Baru. Tak salah, Jawa, meskipun tak mutlak, adalah salah satu kunci pokok untuk memenangkan persaingan politik tingkat nasional. Jokowi, sembari kerja keras membangun infrastruktur, pasti tidak akan luput dari plot penguasaan Jawa. 2014 kedua kubu cenderung seimbang di Jawa, dan Jokowi justru memiliki keunggulan suara di Indonesia Timur. Namun jika bisa menguasai Jawa, tentunya akan jauh lebih mudah bagi Jokowi untuk menang di 2019.
Baca lebih lanjut

Goyang Lidah Agus Salim

Saya selalu tertarik dengan kiasan-kiasan bahasa Indonesia. Karakteristik yang terpengaruh gaya berbahasa Melayu ini buat saya adalah sebuah seni tersendiri. Membuat dan memakai kiasan untuk mereinterpretasi kenyataan tentunya membutuhkan kepekaan, dan olah rasa yang kuat. Salah satu kiasan yang menarik adalah “goyang lidah”, yang seperti kita tahu, dipakai untuk menggambarkan rasa enak dari sebuah panganan yang dimakan seseorang. Bagi saya, membayangkan sepotong steak dengan kematangan medium, masuk dengan mulus ke dalam mulut, lalu saripatinya mencair ketika dikunyah. Memang mirip saat melihat warga kompleks khidmat bergoyang dengan iringan lagu dangdut di panggung tujuhbelasan.

Lalu apa hubungannya dengan Agus Salim? Apakah Agus Salim adalah penghobi kuliner? Tentu tidak. Agus Salim yang selalu hidup dalam aksi kesederhanaan mungkin bukan orang yang menganggap kuliner adalah seni yang menggugah. Pola pikir seperti itu tentunya bukan pola pikir umum warga bumiputera negara jajahan. Baca lebih lanjut

Kisah Dua Belas Marga: Depok Lama

Tak perlu menunggu lama lagi, dunia akan segera menjadi sangat seragam. Manusia akan menjalani hidup dengan cara yang sama. Vodka tidak lagi diminum di suhu minus, Coca-Cola sudah sampai ke Kampung Naga, Avanza terjual hingga pelosok Palopo, dan tiap seratus langkah di kota besar, pasti ada satu jendela dimana terdengar lagu Rihanna. Lebay sih, hehehe. Tapi sebagian memang benar. Proses karsa, cipta dan karya manusia nampaknya sudah cukup terseragamkan oleh apa yang disebut Globalisasi, dengan Kapitalisme dan Budaya Populer sebagai poin-poin utama dibantu oleh teknologi komunikasi yang makin mendekati ide connecting people dari Nokia.

Tak terkecuali di Indonesia. Budaya-budaya lokal nan unik hasil sejarah panjang harus berjuang keras untuk tetap eksis. Eksis secara organik nampaknya cukup berat, sehingga kebanyakan memerlukan konservasi, bahkan mistifikasi dan fusion, untuk tetap eksis.
Baca lebih lanjut

Kelahiran si #NgoJak

Ketika ada niat, pasti akan ada jalan. Terdengar klise, terutama bagi para pesimis seperti saya. Saya selalu mencoba menjaga jarak dengan sesuatu yang baru, terutama dengan pertimbangan risiko-risiko yang mungkin muncul. Saya tidak akan pernah bilang “iya” pada kesempatan pertama. Saya memerlukan “riset manajemen risiko” yang lumayan lama untuk mengambil keputusan. Untungnya tidak separah SBY.

Namun ketika Ali Zaenal mengirim pesan melalui Whatsapp Messenger kali itu, hilang semua SoP itu. Saya terlalu senang sampai saya langsung balas pesannya tak sampai satu menit. “Siap, kapan kita ketemu?”. Entah kenapa saat itu, berjanji bertemu Ali, bagai berjanji bertemu wanita muda cantik dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menunggu seminggu untuk bertemu Ali, juga Novita, serasa sangat lama. Mulas dan dag-dig-dug.

Tentu saja begitu, pasalnya Ali dan Novi mengajak saya untuk membuat komunitas belajar macam Komunitas Aleut. Mereka nampaknya cukup terkesima dengan cara Aleut mengelola kegiatan belajar dengan cara yang berbeda, setelah akhirnya berkesempatan datang ke Kelas Literasi Aleut.  Baca lebih lanjut

Membaca Jakarta Memaknai Peradaban

Sungai Ci Liwung mengalir tenang. Tak begitu jernih, namun cukup meyakinkan untuk ketiga anak itu lari dari tepian dan berenang ke tengahnya. Matahari sore menghangatkan air sungai, sekaligus memantulkan warna jingga yang romantis.

Mereka tidak tahu, enam ratus tahun lalu, Pangeran Surawisesa dari Kerajaan Sunda,putra Prabu Siliwangi yang agung, duduk di tepian dekat anak-anak itu. Baca lebih lanjut