Menteng; Kenangan dan Hal-hal yang Menggantikannya

Ada kedamaian yang pelan-pelan menguasai hati saya, saat siang yang cerah itu saya dan sekitar tiga puluh teman dari komunitas Ngopi Jakarta berjalan-jalan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Selama ini saya sering berkhayal, betapa menyenangkan seandainya bisa melakukan perjalanan ke masa silam. Menyapa mereka yang hidup di zaman itu dan melihat dunia sebagaimana mereka melihatnya. Merasakan sendiri menjadi rakyat dari sebuah bangsa yang belum memiliki nama.

Dan di kawasan yang menyimpan banyak kenangan sejarah siang itu, saya membayangkan menjadi musafir dari masa depan yang jauh. Saya menyaksikan dari dekat kesederhanaan orang-orang zaman itu dan menebak-nebak apa yang sulit mereka percaya seandainya berkunjung ke masa kini. Baca lebih lanjut

Penikmat Sastra vs Penganalis Sastra

Sastra itu untuk dinikmati atau untuk dianalisa?

Pertanyaan itu menyulut ingatan saya kepada perdebatan di kalangan pencinta sastra tentang apakah kritik sastra adalah suatu kritik yang mengapreseasi atau kritik yang menganalisa?

Ada dua kubu dalam perdebatan ini. Kubu pertama melihat sastra sebagai suatu objek analisa. Sementara kubu kedua menganggap bahwa sastra adalah suatu gejala yang muncul dalam pengalaman sehingga harusnya diapreseasi sebagai momen pisikologis, momen perjumpaan seseorang dengan presepsinya. Yang pertama nenekankan analisa yang kedua menekankan perasaan.

Pertanyaan selanjutnya —melihat perbedaan yang mendasar dalam pendekatan itu, apakah benar-benar ada ‘pertentangan’ antara keduanya?

Saya memilih untuk menjawab tidak. Karena meskipun sastra —cerita, puisi dan drama— hadir untuk dinikmati dan diapreseasi, namun bagi orang-orang yang sungguh mencintainya, pengenalan lebih lanjut merupakan suatu kebutuhan atau bahkan keharusan. Saya kutipkan sajak Sapardi… Baca lebih lanjut

Salesman Nekad

Pernahkah rumah Anda didatangi oleh seorang salesman yang super nekad? Saya mengalaminya beberapa kali. Dulu. Sekarang sudah jarang ada salesman yang ‘bertamu’ ke rumah. Pernah, suatu ketika, saya melihat serombongan salesman melintas di depan rumah. Kalau sudah begitu, saya pasti mencoba untuk menyiapkan kalimat sopan untuk menolak tawaran mereka. Biasanya mereka tidak terlalu memaksa jika kita ‘sopani’. Dan benar dugaan saya. Tak berapa lama seorang lelaki muda mengetuk pagar. Kalimat sopan sudah saya siapkan dalam hati. Saya menduga, lelaki ini akan mengucapkan, “Selamat sore, pak”.Tapi, bukan itu yang saya dapat. Begitu dia melihat muka saya, dari kejauhan si lelaki langsung saja nyerocos dengan suara lantang seperti sedang menegur orang, “Pak! Pak! Tadi ada teman saya ke sini, nggak?”

Sembari agak terperanjat spontan saya jawab, “Nggak tuh. Ada apa?”

“Ini pak, saya mau menawarkan .. bla bla bla …,” tetap dengan suara lantang sementara saya belum sampai di depannya.

Semprul! Entah dimana dulu dia bersekolah jadi salesman: nekad dan tidak beradab.
Baca lebih lanjut

Ciliwung Dalam Cerita Peradaban Jakarta

Sungai adalah ibu yang menghidupi. Terkesan berlebihan bila kita kemukakan teori itu sekarang. Namun simbolisme tersebut adalah pemikiran umum pada kebudayaan-kebudayaan besar di masa lalu. Memang kenyataannya, sebelum era rekayasa air, sungai, selain juga pantai, adalah denyut nadi metropolis-metropolis masa lalu seperti Mohenjo Darro, Harappa, lalu negeri-negeri di sisi Eufrat dan Tigris, negeri-negeri di sisi Mekong, Amazon, Rhijn, dan Thames. Sungai menghidupi peradaban-peradaban tersebut  baik sebagai sumber air, sumber makanan, penyokong cocok tanam, hingga sebagai infrastruktur ekonomi dan perdagangan.

Tidak berbeda dengan beberapa peradaban di Nusantara. Kerajaan Taruma (Tarumanagara), sejak berdiri hingga pecah, sangat menggantungkan diri pada Citarum. Beberapa raja Tarumanagara bahkan berhasil merekayasa aliran sungai demi kemaslahatan ekonomi dan stok pangan mereka, sebagai mana dapat dilihat pada beberapa prasasti seperti Prasasti Kebon Kopi dan Prasasti Ciaruteun.

Kerajaan Sunda Pakuan atau Sunda Galuh, sebagai pecahan dari Tarumanagara, mengikuti pola pendahulunya dengan mengandalkan sungai sebagai penggerak ekonomi. Jika Tarumanagara mengandalkan Citarum untuk menghubungkan ibukota dengan pelabuhan utama mereka di Pantai Utara Karawang dan Bekasi, Sunda Pakuan mengandalkan Ciliwung sebagai “jalan tol” dari ibukota mereka di pedalaman Bogor Selatan ke desa pelabuhan utama mereka, yaitu Desa Kalapa. Baca lebih lanjut