Rumah yang Mengakumulasi Kerinduan

… Suasana Desa Komplang yang gelap, sepi dan tidak menyajikan tawaran “apa pun” untuk dinikmati menjadikan Sapardi memutuskan untuk lebih banyak tinggal di rumah. Ia menegaskan, “Mungkin karena suasana ‘aneh’ itu menyebabkan saya memiliki waktu luang banyak dan ‘kesendirian’ yang tak bisa saya dapatkan di tengah kota.”

Akan tetapi, tampaknya, keputusannya untuk lebih banyak tinggal di rumah dan menikmati “kesendirian” itu tidak menghentikan kegiatan kluyuran-nya. Adapun kluyuran yang dimaksud bukan kluyuran dalam arti fisik di dunia nyata, melainkan di dunia batinnya sendiri. Dengan kata lain, Saparti terus-menerus melakukan pengembaraan. Jelasnya, dengan sanubarinya, sambil membongkar-pasang kata, untuk mendengarkan secara lebih jelas dan terang, bisikan yang diucapkannya padanya (Soemanto, 2006: 7-8). Baca lebih lanjut

Mereka yang Memburu Waktu

Suara adzan subuh sedikit demi sedikit mulai tersamar. Suara deru mesin dari dalam rumah terdengar lirih dan makin keras saat saya benar-benar keluar rumah. Kendaraan saling beradu kecepatan; seakan para pengendara tak ingin kalah antara pengendara satu dengan pengendara lainnya.

Kali ini saya ada tugas kantor cabang yang berada Kota Bogor. Saya mengawali perjalanan dari BSD menuju stasiun Rawa Buntu, Serpong, Tangerang. Dari BSD, saya memilih ojek online. Bukan karena saya ikut memboikot perilaku sopir angkot yang menabrak ojek online itu. Atau lantaran saya penggila ojek online. Bukan! Saya di sini sebagai pengguna segala fasilitas transportasi pada umumnya. Saya memilih ojek online—sebut saja Grab—ini karena efisien. Jika dari BSD menuju stasiun Rawa Buntu, bila naik angkot harus oper 2 kali. Karena alasan itulah saya naik ojek online. Nah, baru saat pulang, saya baru naik angkot. Baca lebih lanjut