Hidupkan Imajinasi Dunia Belle

Sebagai anak dari generasi 90-an, saya cukup familiar dengan para princesses Disney ini. Sesuai gambar di atas, berurutan dari kiri ke kanan : Jasmine dari film Aladin, Rapunzel dari film Tangled, Snow White dari film Snow White and The Seven Dwarfs, Mulan dari film Mulan, Aurora dari film Sleeping Beauty, Cinderella-the main Disney’s princess-dari film Cinderella, Pocahontas dari film Pocahontas, Tiana dari film The Princess and The Frog, Belle dari film Beauty and The Beast, Ariel dari film The Little Mermaid, dan anggota baru geng putri Disney adalah Merida dari film Brave. Satu lagi ketinggalan, putri kekinian yang euforianya masih belum usai dari 2013 hingga 2017 ini, yaitu Anna dan Elsa dari film Frozen. Can you guess, who is my most favourit princess? And yaa, favorit saya adalah a nerd book with long brown hair and hazel eyes, Belle. Tahun 2015 berita Emma-Hermione-Watson dikonfirmasi memerankan karakter Belle pada Beauty and The Beast membuat ekspektasi saya terhadap adaptasi salah satu animasi Disney ini semakin tinggi.

Belle,-seorang gadis desa, yang dianggap odd and peculiar oleh semua tetangganya, tinggal bersama ayahnya, Maurice. Sebuah insiden mempertemukan mereka dengan Beast, pangeran angkuh yang terkena kutukan penyihir. Sesuai versi animasinya, adaptasi Beauty and The Beast adalah perjalanan Belle dan Beast menemukan cinta sejati untuk mematahkan kutukan sebelum kelopak mawar terakhir jatuh. Alur cerita sudah sangat familiar, tinggal menikmati bagaimana pengemasan film dengan CGI di mana-mana dan menikmati kecantikan Emma Watson, yang pastinya sangat bekerja keras belajar menari dan bernyanyi karena menjadi tokoh center sebuah drama musical. Baca lebih lanjut

Iklan