Delman, Riwayatmu Kini

Nampaknya matahari sedang berbahagia, cuaca terik dan udara panas kala itu menyinari kawasan Museum Fatahillah dan sekitarnya. Saya bersama teman-teman kampus berencana menghabiskan hari Minggu ini untuk membahas kegiatan organisasi. Kota Tua kita pilih untuk menjadi tempat bertemu, diskusi dan menuangkan isi kepala.

Saya bersama Putri (kawan satu kampus dan satu organisasi) menggunakan moda transportasi KRL sekitar hampir 2 jam perjalanan, ya harap dimaklum karena kita berangkat dari Ciputat, Tangerang Selatan. Lalu setelah sampai dan acara diskusi selesai untuk menghilangkan penat kita memilih berjalan-jalan dan menghampiri satu persatu pedagang.

Kawasan Kota Tua mulai ditertibkan tahun lalu oleh Satpol PP di masa kepemimpinan Pak Ahok. Para pedagang memilih untuk menjajakan dagangannya dipinggir trotoar. Mengais rezeki di tempat keramaian merupakan kesempatan emas yang diharapkan untuk mengumpulkan lembaran rupiah. Mulai dari pedagang makanan ringan, tas, cosplayer, serta mainan anak penuh sesak dari pagi hingga menjelang Magrib. Salah satu yang menurut saya agak nyentrik yaitu Delman. Bergegaslah kita mulai menghampiri Pak Kusir yang saat itu menggunakan baju Koko putih dan peci hitam untuk menanyakan ongkos yang ditawarakan. Baca lebih lanjut

Iklan

Mandi-mandi di Kampung Tugu

Stasiun Jakarta Kota sebagai titik berkumpul sejak pagi. Lalu menuju Stasiun Tanjung Priok sebagai tempat singgah perkenalan peserta yang mengikuti acara Ngojak edisi “Mandi-Mandi Kampung Tugu”. Di Stasiun Tanjung Priok, dua mobil angkutan umum pun disewa. Baru setengah perjalanan rupanya teringat ada yang ketinggalan, “Ya ampun, ada yang ketinggalan nih. Coba lihat grup WhatApp” ujar Putri, salah satu peserta yang ikut. Di tengah perjalanan pun ada kejadian lucu, salah satu angkutan yang kita sewa mogok dan bannya gembos, entah karena keberatan beban masa atau banyak dosa.

Kampung Tugu sendiri terletak di Jakarta Utara. Daerah yang menyimpan catatan sejarah penting, khususnya dalam perkembangan budaya kota Jakarta. Di sinilah, para mardijkers, -sebutan untuk para budak Portugis Hitam- dibebaskan sebagai tawanan perang oleh Belanda. Masih menurut catatan; mereka yang sebagian besar penganut Protestan tersebut kemudian diberi lahan di Kampung Tugu dan terus menetap hingga beranak cucu. Baca lebih lanjut