A Short Story from Angkot yang Ngetem

Setelah turun dari commuter line, saya berjalan kaki menuju angkot yang ngetem di ujung jalan. Beberapa angkot berbaris tak rapi. Karena memang tidak dipersiapkan untuk itu. Terdengar suara riuh beberapa orang di dekat pintu sopir pada angkot yang parkir paling belakang.

Saya berjalan mendekat ke angkot tersebut. Dan memilih  duduk di jok depan, samping sopir. Kebetulan angkotnya masih belum ada penumpang. Jadinya saya bebas memilih, dong. Lalu, secara terpaksa, saya pun mendengar pembicaraan sopir angkot ini dengan teman-temannya (yang diduga sopir juga).

Satu sama lain saling menyahut cepat. Terdengar heboh dan seru. Sepenangkapan saya, mereka sedang bercerita tentang seorang ibu yang melahirkan dalam angkot yang sedang berjalan. Hm, kira-kira begini… Baca lebih lanjut

Iklan

Jeda yang Bercanda

Siapa bilang Jakarta nggak bisa bikin galau? Bisa banget, sebenarnya. Hanya saja kota ini nggak pernah benar-benar memberikan waktunya untuk itu. Yang ada, orang-orang seperti saya yang memaksakannya untuk minta jeda. Meski sering kali gagal juga untuk mendapatkannya.

Waktu 24 jam dalam sehari, dirasa terlalu sebentar. Pekerjaan masih menumpuk, sementara untuk melakukan hal lainnya pun belum terjamah. Kota ini hebat sekali, memang. Bisa melipat waktu menjadi singkat, sementara tubuh seribu kali lebih cepat untuk menua. Baca lebih lanjut