Napak Tilas dari Cawang ke Kramat Jati

Biasanya jam sembilan malam bus jurusan Sukabumi sudah enggak ada yang lewat. Di depan gereja HKBP itu puluhan penumpang mengantre bus langganan seperti laju Utama, Daya Tunggal, dan Agra Mas. Bagi yang mengarah ke Sukabumi pilihan pun terpaksa beralih ke mobil omprengan yang hanya sampai Pasar Ciawi. Yang ke Bogor masih mending karena tujuannya sampai Terminal Baranang Siang. Selain di depan gereja HKBP di Jalan Perindustrian, jalan terusan tol Cikampek menuju jalan D.I Panjaitan juga biasa menjadi terminal bayangan. Di sekitar simpang besar Cawang itu, beberapa pedagang kaki lima masih asyik menjajakan barang dagangan tanpa rasa takut.

Ketika kemarin menyusun kegiatan NgoJak ini saya senantiasa mengingat cerita di atas. Masa di mana kali pertama menjadi anak urban; berangkat Senin subuh di awal pekan, lantas pulang di Jumat malam di ujung pekan. Begitu seterusnya sampai berita menyedihkan itu tiba, bus AKAP tak boleh melintas kawasan Cawang UKI per tanggal 14 Mei 2009. Ongkos menjadi lebih mahal karena harus ke Kampung Rambutan atau ke Pulogadung dan Kalideres. Namun saya masih mengalami sebuah masa di mana menurunkan penumpang masih bisa dilakukan di simpangan menuju Tol Dalam Kota dan Tol Wiyoto Wiyono, sehingga menuju Cawang UKI tinggal melalui semak-semak yang berakhir tepat di Jalan Mayjen Sutoyo. Baca lebih lanjut

Iklan

Dari Indonesia? Sebelah Mananya Condet?

Senandung pujian bergema lewat corong pengeras suara.  Iringan rebana membuat malam di Condet begitu panjang. Para jemaah makin hanyut ketika tiba pada syair ‘mahalul qiyam’. Mereka berdiri seraya membaca, “Ya Nabi Salam Alaika, Ya Rasul Salam Alaika, Ya Habib Salam Alaika, Shalawatullah Alaika”. Di sudut lain, beberapa jamaah nampak menangis, seakan merasakan kehadiran Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.

Dari pinggir warung nasi yang ada di seberang masjid, antrian yang menahan lapar mulai menjalar.  Diselingi deru dan bising kendaraan yang lalu lalang, nasi putih dengan bebek goreng sebagai menu andalan. Empat deretan bangku plastik masih diduduki yang entah siapa dan dari mana. Dalam situasi seperti ini, kadang kenikmatan tergadai dengan rasa tak enak lainnya karena sebuah kursi duduk giliran. Tapi urusan perut bisa saja membuat segalanya menjadi khilaf. Baca lebih lanjut

Dangdut

Musik dangdut mendayu-dayu dari kamar sebelah ketika pagi hampir tiba. Insomnia menghampiri Joni yang terpaksa mengayuh sepeda, lantas singgah di warung kopi. Satu porsi mie goreng ia pesan. Jarum jam berhenti di angka sebelas ketika pedagang nasi goreng melintas. Jalanan di bilangan UI masih basah, sisa hujan semalam menyisakan genangan. Mangkuk yang tadinya berisi bubur kacang ijo nyaris tak tersisa saat saya memerhatikan tingkah Joni dari bangku seberang. Sebatang kretek saya nyalakan, mengepul ke udara malam yang terus beranjak. Masih asyik mengintip Joni dari bilik etalase yang memajang aneka kaleng susu, sate tusuk, juga deretan kerupuk dalam plastik. Lima belas menit sebelumnya saya tiba lebih awal. Entah sejak kapan kebiasaan baru seperti ini hadir. Tidur lebih awal, bangun sebelum dini hari tiba, melipir sejenak ke warung kopi, lantas tidur lagi. Kopi ternyata tak ada kaitannya sama kantuk. Baca lebih lanjut

Sol Sepatu

Siapa berani telanjang kaki ke pesta pernikahan mantan atau gebetan?

Sejak awal peradaban, alas kaki memang menjadi penghias, pelindung, juga sebagai penunjuk status sosial seseorang.  Sepatu tertua diketahui publik ditemukan di Fort Rock Cave, Oregon, negara bagian Amerika Serikat, pada tahun 1938.  Sepatu dengan anyaman sederhana dari jerami tersebut menurut penelitian radio karbon, setidaknya berusia lebih dari 10.000 tahun.  Ketika manusia mulai berkembang, mulailah ada penambahan unsur hewan seperti bulu kelinci atau kulit-kulit binatang buas. Ini dipercaya karena sifat magis yang dapat menambah kecepatan dan keberanian pemakainya.

Para pelaut Fenisia yang terletak di pesisir laut wilayah Timur Tengah lain lagi. Untuk menopang pelayaran, alas kaki mereka biasanya dibuat dengan model hak tinggi, perpaduan kayu dan kain dengan hiasana aneka aksesoris. Modis seperti ini juga mewabah di kalangan Mesir Kuno, Romawi, India, China, dan Babilonia yang lebih dulu mengenal sandal sebagai alas kaki. Bedanya mereka suka menambahkan mutiara, wewangian, serta pernak-pernik identitas lainnya sebagai jimat. Di era Renaissance, seorang pelacur Venesia sempat mempopulerkan sepatu kayu dengan ketinggian 30 cm dan kembali jadi tren tahun 70 dan 90-an.  Bahkan sepatu yang kita kenakan hari ini, tak lebih hanya adaptasi modern dari gaya di masa lalu. Baca lebih lanjut

Cara Indah Menikmati Hujan di Jakarta

Saat hujan turun, kota ini kerap memainkan sisi melankolisnya.

Selain banjir, apa lagi hal yang sering diingat kala mendung menggantung di langit Jakarta?

Hampir tak bisa dibedakan lagi ketika berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Kemacetan bukan lagi  jadi momok yang menakutkan, tapi sudah jadi kebiasaan yang sudah tak pantas lagi untuk dikutuk dan dikeluhkan. Alih-alih mengumpat, yang ada justru malah membuang hal sia-sia. Apakah dengan mengutuk kemacetan lantas jalanan menjadi lancar seketika? Apalagi saat hujan turun di jam pulang kantor, laju akan terhambat karena banyak pengendara yang berteduh di bawah flyover. Jangan pernah bertanya mengapa mereka tak mempersiapkan diri dengan membawa jas hujan misalnya. Si pengemudi mungkin membawanya, tapi yang menumpang tak mau repot-repot karena tujuan mulanya toh hanya nebeng doang. Baca lebih lanjut