Jakarta yang Kesepian

Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan, tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang.

~ Sapardi Djoko Damono

Jakarta mengalirkan airmata, melepas kepergian satu demi satu kepingan
ada yang memutuskan untuk pergi dan tak kembali
ada pula yang hanya sekadar melepas rindu yang meletup
tetapi, ada pula yang bertanya: untuk apa ada di Jakarta?

Jakarta adalah kota, namun dia bisa disetubuhi dengan kata-kata
dia punya perasaan ketika seorang demi seorang meninggalkannya
meski dia sudah jatuh hati dengan orang-orang tersebut, memberinya napas Baca lebih lanjut

Iklan

Jakarta, Sebentar Lagi Kita Punya MRT!

foto-inilah-rupa-terowongan-dan-stasiun-mrt-jakarta
Source: nationalgeographic.co.id

Judul di atas adalah tulisan saya yang saya kirimkan ke Komunitas Local Guide Jakarta yang beberapa minggu yang lalu baru saja mengadakan kopi darat pertamanya dan untungnya sukses besar. Lantas, apa bangganya kita punya MRT?

Saat berada di negara lain, seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia, saya selalu mengandalkan transportasi kereta mereka. MRT alias Mass Rapid Transit ini merupakan salah satu tolok ukur kemajuan sebuah kota, bahkan sebuah negara, di mana kualitas waktu dan kenyamanan penumpang menjadi sedemikian penting. Baca lebih lanjut

Sepakbola dan Ketakutan(-ketakutannya)

piala-presiden_featured

Tentu saja, saya akan mengawali tulisan saya kali ini dengan mengucapkan selamat kepada kota yang pernah dan akan selalu saya cintai, Bandung. Selamat karena Persib berhasil keluar menjadi juara dalam Final Piala Presiden. Namun, tak akan pernah ada ucapan selamat bagi para suporter pertandingan tersebut yang akhirnya harus ditahan oleh pihak kepolisian.

Untuk saya, itu bukanlah hal yang perlu diucapkan selamat. Sepakbola, bagi saya, adalah sarana hiburan dan sportivitas yang paling tinggi. Bagaimana tidak, untuk sebuah pertandingan final di Gelora Bung Karno semalam, setidaknya lebih dari 80 ribu pentonton yang hadir secara langsung. Belum lagi yang sedang dalam perjalanan dan mendengarkan pertandingan atau yang sedang sibuk menyantap makan malam sembari menghadapkan kepalanya ke layar kaca. Baca lebih lanjut

Pamit

Source: here

Jumat pekan yang lalu, saya pulang cepat dari kantor. Memang pekerjaan di hari itu sudah habis, bahkan hampir separuh waktu saya di kantor malah dihabiskan untuk menulis makalah yang hendak saya lombakan, kuliah daring, hingga numpang tidur siang. Saya menemani teman saya yang harus mewawancarai seorang narasumbernya di mall seberang kantor. Pokoknya, di hari itu, saya benar-benar kosong melompong.

Namun, hari yang kosong itu tidak membuat pikiran saya kosong. Sewaktu meninggalkan kantor, tak jauh dari lokasi saya terjebak macet akibat kereta yang lewat, saya mendengar suara yang mengejutkan sekali. Baca lebih lanjut

Suasana yang Begitu Jauh

Ini adalah Idul Fitri pertama saya di Indonesia sejak empat tahun terakhir. Saya sudah lupa seperti apa yang namanya takbiran. Beberapa hari sebelum lebaran, pasti saya sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta dengan tiket di tangan. Saya lupa seperti apa harumnya opor ayam buatan tetangga dan gema dari Masjid untuk Salat Ied. Entah, tahun ini memang saya sudah tidak lagi menginginkan meninggalkan Indonesia. Di negeri yang jauh, saya tak bisa lagi merasakan suasana lebaran yang semestinya.

Saya memang tidak pernah ikut berlebaran. Namun, saya selalu suka dengan suasana lebaran. Apalagi ketika saya tidak berada di Indonesia, suasana itu terasa begitu jauh. Saya suka berputar ke pasar tradisional dan membeli bungkus ketupat yang kosong. Tak saya isi, hanya saya mainkan saja. Saya juga sering menyaksikan orang yang melintas di depan rumah saya hanya untuk bertakbiran. Baca lebih lanjut