Membebaskan Jemu

Seringkali, apa yang kita cari atau gilai saat ini nantinya hanyalah tinggal sisa-sisa memori. Nantinya akan hanya tinggal satu hal tak berarti dan rela saja ditinggal pergi. Bayangkan jika seseorang tidak memiliki rasa bosan, atau jemu, atau cukup. Betapa monotonnya dunia ini. Bayangkan semua di pandangan dan pengalaman kita sama saja dan tidak berubah. Tuhan.. rasanya tidak sanggup berada di dunia semacam itu. Bagaimana tidak, satu jam di dalam pesawat saja rasa seperti hendak meronta. Heran, tipis sekali sekat jemu di dalam kepala saya.

Ditilik dari asal katanya, “Jemu” diartikan sebagai; sudah tidak suka lagi (makan, melihat, dan sebagainya) karena terlalu sering dan sebagainya; boleh dikatakan penyebab seseorang merasa jenuh adalah perulangan. Sesuatu yang dirasai, dinikmati, dijumpai dengan kerap, sering, berkali-kali. Lantas kenapa sesorang bisa merasa cukup dengan sesuatu yang sering atau berkali-kali? Apa hal mendasar yang menyebabkan ini terjadi? Kalau diteliti melalui kaitannya dengan kinerja otak, atau perasaan orang, sudah pasti saya tidak tahu apa. Hanya saja saya coba telaah mengenai hal ini berdasar logika saja. Baca lebih lanjut

Iklan

Si Tidak Besar Paling Berbinar

IMG_3345-0Terakhir kali saya berjumpa pahlawan, beberapa waktu lalu. Wajahnya keras dan sedikit angkuh, namun rapih ditutupi kesan berwibawa dari pembawaannya. Tubuhnya tegap sedikit gempal. Tangannya mengepal keras, di beberapa titik pembuluh darahnya seperti hendak mencuat keluar.

Siapa tak kenal beliau, pahlawan besar bangsa ini di masa kerajaan dahulu. Gajah Mada. Mahapatih majapahit yang punya segudang prestasi heroik. Ya, saya bertemunya beberapa waktu lalu. Sosok heroiknya diabadikan pada sebuah patung penghormatan di pelataran sebuah museum.

Dari gambaran diatas layak sekali bukan sosok tersebut diasosiasikan dengan pahlawan besar? Bukan mengada-ada, sejatinya memang beliau adalah pahlawan besar. Di kemudian hari, di masa yang kerap dilabeli dengan satu kata ‘kekinian’, sosok pahlawan tak lagi sulit dicari. Bukan lagi sekadar perkara sosok besar yang jumawa, bukan pula sekadar perangai yang suci. Saat ini pahlawan-pahlawan modern banyak lahir dari sekitar. Senangnya hati, saat sadar begitu banyak pahlawan-pahlawan baru di sekitar kita. Baca lebih lanjut

Karena Kita Tidak Bisa “Ganti Server”

Hari jumat selalu jadi hari yang menyenangkan buat saya, seperti puncak jam kerja yang panjang di kantor. Jadi momen yang melegakan, dengan catatan semua beres di hari itu. Kalau mesti berurusan dengan banyak hutang kerjaan besoknya, apalagi besoknya lagi juga, enggak akan menyenangkan. Kenapa? karena besok dan besoknya lagi itu weekend. Waktu paling pas untuk istirahat. Sebenarnya istirahat kita itu tidak terlalu banyak juga, karena pada dasarnya otak kita terus kerja, bahkan saat kita tidur.  

Saat tidur, otak kita tetap bekerja dengan mengatur semua metabolisme tubuh. Buktinya adalah kita membuang kalori sampai sekitar 600 kalori. Itu sepadan dengan kalori dari 3 mangkok mie ayam. Otak kita itu super pintar, bahkan pada saat kita sedang tidak ingin menggunakanpun dia tetap bekerja. Otak itu seperti server dari tubuh kita. Saat kita rehat dia men-defrag, men-disk clean up, memonitor tubuh kita. Itulah kenapa tidur yang cukup sangat baik buat tubuh kita, artinya kita kasih cukup waktu di server tubuh kita untuk recovery system tubuh. Bayangkan kalau kita baru tidur satu atau dua jam terus harus bangun lagi untuk beraktifitas. Itu sama saja seperti kita suruh orang untuk beres-beres dalam waktu singkat. Kalau tidak terlalu berantakan bisa saja selesai dengan cepat, tapi kalau ada kerusakan besar ya tidak mungkin akan beres. Banyak tertinggal kerusakan lainnya di sana-sini. Kalau itu berlangsung terus menerus akan semakin banyak sisa kerusakan sampai kita benar-benar punya waktu buat full recovery. Kalau tidak sempat-sempat ya sudah… DEVICE ERROR! Baca lebih lanjut

Pekerjaan Itu Musuh, Sekaligus Teman Baik.

Bangun jauh lebih awal pagi ini. Sangat jarang terjadi di hari kerja. Gamang sesaat, kopi belum lagi terhidang. Akhirnya saya putuskan untuk tidak beranjak.

Keputusan yang jadi seperti mosi. Mosi protes terhadap diri saya sendiri, terhadap semua pekerjaan saya, kenapa semua begitu menyita waktu dan pikiran. Yang paling kuat berteriak adalah sisi diri saya yang begitu merasa dirugikan karena semua itu telah menjauhkan saya dari orang-orang yang saya cintai. Menjauhkan saya dari teman-teman yang begitu saya hargai, bahkan menciptakan musuh bagi diri saya. Ironis, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, sesuatu yang mungkin adalah kebalikannya yang menjadi visi dalam pekerjaan pada awalnya. Terlebih untuk orang yang seperti saya, bekerja disini dan harus meninggalkan anak istri di seberang sana, sedikit sekali dan berharga sekali waktu untuk berkumpul. Baca lebih lanjut