Besar Kecil

Tidak ada yang salah dengan kategorisasi, selama indikatornya diletakkan pada ordinat dan subordinat yang obyektif. Yang keliru adalah perasaan dan pengakuan. Yang salah arah adalah manusia yang merasa besar sehingga merasa boleh dan perlu bertingkah sebagaimana orang besar dalam pemikirannya.

Anak-anak kelak akan menghadapi kebingungannya sendiri. Di rumah, mereka diajari untuk mengambil barang sendiri, membawa tas dan peralatannya tanpa bantuan orang lain, diminta tumbuh besar dan mandiri. Orang-orangtuanya berkata sungguh-sungguh, “Ayo, kamu sudah besar, Nak.”

Tapi, realitas di luar sana juga begitu sungguh-sungguh menyuguhkan paradoks. Mereka yang dibukakan pintu ketika masuk hotel, pintu mobilnya terbuka oleh tangan orang lain, tasnya dijinjingkan, makanannya dibawakan petugas berseragam jaket dan helm, dan menyeberang jalannya di depan pusat belanja perlu bantuan petugas berpentungan dan peluit. Hingga ketika mereka naik lift di mal-mal, mereka akan malu untuk protes lagi, “Padahal, aku mau pencet lift-nya sendiri,” karena ada petugas yang digaji untuk wara-wiri naik-turun hanya di dalam lift.

Apa makna besar dan apa makna kecil sesungguhnya? Ketika manusia tumbuh dari setetes sperma yang berjumpa ovum, lalu tumbuh dalam rahim, dilahirkan dan mendapati tinggi badannya selalu beranjak naik; itukah ‘besar’? Atau, ketika manusia bersusah payah menambah bintang di pundaknya, menempelkan gelar di depan dan belakang namanya, berkeringat untuk naik dari golongan I ke IV, menyisihkan uang untuk berlibur di gedung berbintang dan wisata cemerlang, punya banyak pengikut di dunia maya atau nyata, bekerja keras siang malam untuk naik mobil dan tidur di rumah mewah; itukah ‘besar’? Baca lebih lanjut

Demokrasi Kentut

Tidak ada yang membahas epistemologi keburukan kentut ini secara detail meskipun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas itu bisa dibahas dari beragam sudut pandang: biologis, sosiologis, antropologis, syariah, siyasah, bahkan tasawuf.

Siapakah yang lebih bersalah daripada orang yang kentut di tengah kerumunan orang? Tidak ada. Semua aktivitas akan terhenti untuk bersama-sama mencari sumber bau dan suara kentut, menertawakan, mempersalahkan, atau malah menghukum si empunya kentut dengan makian. Kalau itu anak sendiri, maka hukumannya lebih bertubi-tubi. Dibilang tak beretika dan tak menguasai kontek sosio-kultur masyarakat yang menempatkan kentut sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Maka, jangan salah kalau banyak teks merasa perlu untuk menuliskan kata (maaf) dalam tanda kurung sebelum menulis kata ‘kentut’. Perlu juga menyebut kata ‘maaf’ itu ketika Anda sedang berbicara di podium kehormatan seolah-oleh kentut itu barang yang menjijikan.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat kentut itu patut dianggap sebagai sebuah ‘keburukan’? Apakah zat kentut itu yang bersalah dan layak dilarang? Ataukah proses membuat kentut itu yang keliru? Ataukah baunya yang berdosa –sehingga kalau tak bau maka boleh dan sah-sah saja melakukannya? Ataukah bunyinya yang mengganggu pendengaran –sehingga kalau tak berbunyi maka halal dilakukan di tempat umum? Ataukah situasinya di kerumunan orang yang menyebabkan kentut itu dikecam –sehingga jika kentut seorang diri itu hukumnya berubah dari haram menjadi mubah, bahkan wajib? Ataukah karena kentut diyakini sebagai hal yang membatalkan wudhu –yang dengannya pula membatalkan shalat, maka pada setiap yang membatalkan wujud sembah kepada Tuhan itu berarti sah keburukannya? Baca lebih lanjut

Dari Menuntun Hingga Dituntun

Saya tidak mengenal masjid hingga Ayah yang memperkenalkannya. Tidak dengan gambar atau cerita, Ayah mengajak langsung ke masjid, menuntun saya di sisinya, menunjukkan tempat terbaik di shaf terdepan, dan mengajari saya bagaimana berlaku di dalam masjid. Seringkali Ayah shalat lebih banyak daripada pengetahuan saya tentang adab masuk masjid; juga lebih banyak sebelum meninggalkannya. Saya tak pernah dipaksa untuk melakukannya. Cukup mengerti bahwa ada kecintaan Allah pada setiap rakaat tahiyatul masjid dan sunnah rawatib. Itu saja cukup.

Shalat-shalat pertama saya bersama Ayah adalah serangkai shalat Jum’at yang berturutan tiap pekan. Sayangnya, semakin saya besar, semakin sulit diajaknya ke masjid kala itu, apalagi untuk shalat maghrib dan isya. Perkaranya sepele. Setiap ba’da maghrib selalu ada pengajian anak-anak dan saya tidak merasa nyaman bergabung di dalamnya. Pengajian anak-anak itu dibagi tiga kelompok dengan semacam strata masing-masing. Kelompok A adalah anak-anak yang masih belajar Juz Amma dan masih melancarkan bacaan, Kelompok B adalah anak-anak yang mulai lancar namun belum terampil, sedangkan Kelompok C adalah anak-anak menjelang remaja yang sudah lancar mengaji. Teman-teman sebaya saya ada di Kelompok A. Beberapa kali saya masuk dalam antrean barisan mereka, namun setiap kali Ayah melihat saya berada di situ, dipanggillah saya. Diambilnya tangan saya dan dituntun masuk ke Kelompok C. Duduk tepat di samping guru mengaji kala itu, Alm H Romli Zakaria. Menjadi yang paling kecil di tengah anak-anak sebaya kakak-kakak saya jelas membuat saya rikuh sampai akhirnya saya mundur perlahan. Jarang pergi ke masjid dan selalu mencari-cari alasan –yang paling sering adalah terlambat mandi karena asyik bermain bola sampai adzan maghrib berkumandang. Baca lebih lanjut

Maling Sepatu, Maling Budaya, Maling Segalanya

Ketika semua orang ribut bicara ulah Malaysia yang mencuri budaya negeri, kawan saya justru kerepotan sendiri dengan sepatunya yang hilang. Kawan saya itu merengut, bersungut-sungut, sambil bercerita bahwa belum sepekan yang lalu telepon selulernya juga hilang. Bukan di mana-mana. Bukan di toilet, bukan di pasar, bukan di terminal. Malah di tempat yang dia pikir paling aman sedunia karena labelnya yang luar biasa gagah: Rumah Tuhan. Telepon selulernya hilang saat berdesakan setelah selesai wudhu, sedangkan sepatunya raib setelah khutbah dan shalat Jum’at selesai.

“Tuhan mungkin sudah tak punya rumah,” pikir saya waktu itu.

RumahNya sudah dibakar, dihanyutkan bah. Yang bersisa hanyalah beton-beton yang menjulang –yang membuatnya harus mengemis di pinggir jalan sambil memutar shalawat dan kasidah sebelum semua dindingnya rampung dibangun. Tapi, cobalah masuk ke dalam, ruhnya melompong. Kefakiran telah menjelma kekufuran justru di tempat seharusnya manusia mampu melihat kebenaran dan bertaubat atas segala kesalahan. Baca lebih lanjut

JokoBowo

Aku melihat Joko ketika ia bersalaman dengan Bowo. Hangat, bahkan nyaris berpelukan. Itu pertama kali aku melihat mereka. Yang satu dengan perawakan kecil, satu lagi cukup besar meski usianya membujur ke cakrawala barat. Tidak ada yang istimewa, kecuali riuh-riuh kecil yang perlahan seperti bola salju yang menggelinding. Bertambah besar, bergemuruh.

Joko ikut duduk bersamaku di tepi kali sambil melempar pancing. Katanya, “Banjir ini menghanyutkan ikan ke lautan.” Aku tertawa, lalu membantah. “Jangan terlalu yakin, Joko.” Dia diam menatapku. Menunggu, barangkali. “Sampah di ujung sana, sebelum lewat jembatan kedua, sudah menghalangi ikan-ikan pergi ke lautan,” jawabku tanpa perlu ia bertanya. Lalu ia gantian tertawa. Baca lebih lanjut