Merawat Kuningan Dalam Ingatan

Gedung-gedung berdiri angkuh. Meninggalkan pucuk-pucuk pohon jauh-jauh. Menantang langit yang abu-abu. Sementara itu, mobil berjalan enggan di tengah jalan tol yang padat. Deru mesin bersahut-sahutan bagai segerompolan gagak yang lapar. Sesekali bunyi klakson, alat bor, dan suara mesin-mesin konstruksi memekakkan telinga. Jakarta yang gerah di daerah Kuningan yang mewah.

Berbicara tentang Kuningan, berbicara tentang sebuah kota yang sedang merias diri. Dimana-mana yang terlihat adalah pembangunan. Yang mulus semakin dimuluskan, yang megah semakin digagahkan. Manusia hanya semut-semut kecil yang berseliweran di antara kaki-kaki modernisasi.

Tidak heran. Sebab sejak dimulainya proyek Kuningan pada 1970, kawasan yang dulunya adalah lahan bagi para peternak sapi ini perlahan-lahan digusur untuk sebuah nama yakni pembangunan. Rumput-rumput ditimbun, digantikan dengan yang artifisial, dan sapi-sapi menghilang. Mega proyek yang memakan harapan para peternak ini digadang-gadang akan menjadi salah satu kawasan Segitiga Emas Jakarta yakni Jalan Rasuna Said, Sudirman dan Gatot Subroto. Terbukti. Kini Kuningan adalah wadah kantor-kantor perusahaan ternama dan kedutaan-kedutaan besar.

Dari seliweran informasi yang dulu pernah saya dengar, kata Kuningan memiliki hubungan dengan daerah Kuningan di Jawa Barat. Konon kabarnya dahulu daerah ini dihuni oleh orang-orang dari Kuningan. Tetapi apakah benar demikian? Ngopi Jakarta (Ngojak: sebuah komunitas yang tertarik dengan sejarah Jakarta. Tentang Ngojak dapat dibaca di sini ) berusaha menelusuri jejak-jejak ingatan Kuningan yang mewah ini.

Penelusuran dimulai dengan melihat serpihan-serpihan jejak yang bisa mengantarkan kenangan tentang Kuningan yakni masjid dan makam. Museum Satria Mandala menjadi titik awal pertemuan para Ngojakers (ini sebutan yang saya buat sendiri). Seperti biasa, sebelum memulai perjalanan, komisaris Ngojak, begitu biasa kami menyebutnya, memberikan pengantar. Bang Sofyan membuka sedikit mengenai rute perjalanan, apa saja yang akan ditemui, dan kemudian menyerahkan penjelasan rinci mengenai kuningan kepada Bang Reyhan.

Bang Sofyan menjelaskan secara singkat rute Ngojak

Kuningan merujuk pada satu nama orang yakni Awangga. Adipati Kuningan, Pangeran Kuningan, Adipati Jayakarta, Syekh Arkanuddin, dan Raden Kemuning adalah beberapa gelar yang disematkan kepada beliau. Dari catatan yang berada di prasasti nisan makam, tercatat beliau lahir pada tahun 1449 dan wafat pada tahun 1579M.

Ada dua versi mengenai asal usul beliau. Pertama adalah beliau cicit dari Prabu Wisesa dari pihak ayah, yaitu Pangeran Jayaraksa (Ki Gedeng Luragung), penguasa pantai utara Jawa Pakungwati (nama lama daerah Cirebon), yang mempunyai anak bernama Pangeran Suranggajaya, yang menurunkan Pangeran Kuningan. Versi kedua adalah beliau cucu Sunan Gunung Jati dari pihak ibu Ong Tien, dengan nama Pangeran Sendang Kemuning, untuk menjadi wali raja Cirebon sebelum Panembahan Ratu I naik tahta di tahun 1579. Versi-versi silsilah tersebut masih diperdebatkan, karena sumber intern tertua yang ada, ditulis lebih dari satu setengah abad kemudian, yaitu pada tahun 1720.

“Kenapa disebut kuningan? Mohon maaf, orang Tionghoa biasanya berkuning langsat. Orang Jawa biasanya kalo bilang sebangsa atau berasal dari daerah tertentu, itu biasanya belakangnya nambah –an. Misalnya Sampangan, Bugisan, Daengan. Sekarang karena pangeran berkulit kuning atau ibunya berasal dari etnis Tionghoa, makanya disebut Pangeran Kuningan.” Bang Reyhan menjelaskan mengenai asal usul kata Kuningan yang merujuk pada nama seseorang.

            Azan Ashar berkumandang, memanggil segenap ummat Islam untuk beribadah.

Kami menuju Mesjid yang masih terletak di kompleks Museum Satria Mandala. Mesjid Al Mubarok. Sekelebat mata memandang, saya tidak menemukan adanya tanda-tanda mesjid andai saja tidak terdengar suara adzan. Sebab posisinya sangat tersembunyi. Berada di sudut Museum Satria Mandala, tertutup oleh pohon-pohon dan gedung-gedung, bahkan saya lebih mudah menemukan logo hotel Four Season dibanding kubah mesjid tersebut. Jarak dari jalan raya juga cukup jauh. Kira-kira lima lemparan galah. Tetapi siapa sangka bahwa mesjid  yang satu komplek dengan pemakaman ini salah satu mesjid tertua di Jakarta?

Papan petunjuk menuju mesjid

Dari prasasti marmer berwarna hitam, tertulis bahwa mesjid ini dibangun oleh Pangeran Kuningan pada tahun 1527. Sebagai perbandingan, mesjid Al Anshor yang terletak di Pekojan (yang digadang-gadang sebagai mesjid tertua di Jakarta) dibangun pada tahun 1648. Melihat tampilan fisiknya, saya tidak menemukan jejak-jejak kuno dari mesjid ini. Dindingnya terbuat dari keramik berwarna putih, lengkap dengan hiasan bunga-bunga. Jendela dari kayu berwarna coklat dan tentu saja lantai yang juga terbuat dari keramik hijau kerang. Saya berusaha melihat sisa-sisa kuno pondasi mesjid tetapi tidak menemukannya. Hal ini mungkin terjadi karena pada tahun 1922, mesjid Al Mubarok sempat runtuh.

Prasasti mesjid Al Mubarok

Akhirnya saya memutuskan melihat-lihat kompleks pemakaman. Entah rezeki darimana, Bang Bimo menemukan potongan lempengan bata yang diduga adalah lantai mesjid. Setelah mengukur dimensi lempeng bata tersebut, Mbak Dilla menyembunyikannya di antara pepohonan.

Mengukur temuan bata yang diduga lantai mesjid

Gak ada yang ngambil kok, Mbak.”

“Kalau orang-orangnya kayak kita ya bakal diambil.” Jawab Mbak Dilla.

Dasar orang sejarah.

Bang Reyhan menunjukkan makam-makam asli kompleks tersebut. Jika mayoritas makam dibangun dengan semen atau keramik, maka makam aslinya hanya ditandai dengan tumpukan batu dan satu buah batu lonjong mirip menhir di salah satu ujungnya. Bang Bimo mengukur salah satu batu lonjong dan mendapatkan ukuran 50x16cm. Terbesar di antara empat batu makam lainnya. Selain itu ada juga makam yang diduga salah satu makam tua sebab bentuk fisiknya berbeda dengan yang lain. Spekulasi kami menjadi liar ketika melihat nisan yang ramai dengan ukiran kaligrafi.

Batu penanda makam

“Bisa saja ini tulisan Allah. Hmmhh. Ini syin, ini fa. Bisa juga ini nama orang. Syaifullah. Atau Sarifullah. Hahahahha.” Bang Reyhan menerka-nerka apa tulisan di nisan yang semakin mengabur dimakan waktu itu.

Seusai sholat Ashar, kami menuju makam Pangeran Kuningan yang terletak di wilayah gedung Telkom menuju ke arah barat dari mesjid Al Mubarok.

Setahu saya, budaya timur adalah budaya yang menghormati manusia yang masih hidup dan mengistimewakan mereka yang telah wafat.

Ada perasaan sedih yang hanyut saat melihat makam Pangeran Kuningan. Tidak ada tanda-tanda bahwa itu makam seorang tokoh yang menjadi cikal bakal daerah Kuningan. Letaknya berada di sudut, nyaris di bawah kolong, berdampingan langsung dengan tangga. Empat buah besi bercat merah menyangga sebuah atap yang melindungi makam tersebut dari proyek pembangunan gedung di atasnya. Timbunan-timbunan batu bata bekas, kursi kantor yang patah, bekas-bekas jaring, dan berbagai sampah konstruksi menghias di sekitar makam. Saya harus menunduk-nunduk melewati tiang-tiang untuk mencapai makam.

Makam Pangeran Kuningan

Makam itu berwarna hitam. Setinggi tulang kering orang dewasa. Sebuah keterangan berwarna emas tertulis di salah satu ujungnya. Berhadapan dengan sebuah papan putih yang berisi salam dan anjuran. Di atasnya, di dinding keramik kusam berwarna putih, tertempel sebuah tulisan Arab yang berbingkai kayu. Entah apa arti dan bacanya, saya tidak paham. Satu yang hanya bisa saya pahami, kondisi makam menyedihkan.

“Ada kemungkinan ini sudah bukan makam yang asli. Maksudnya makam aslinya sudah dipindahkan. Ini hanya petilasan saja.” Ujar Bang Sofyan.

Terlepas dari keaslian tersebut, sebagai sebuah makam atau petilasan, selayaknya perlu diberikan kondisi yang lebih layak. Bukan, bukan tentang menghormati beliau belaka. Tetapi rasa-rasanya manusia (sebagai peziarah) membutuhkan kenyamanan untuk mengingat kematian. Sebab dengan mengingat mati, manusia akan menyadari betapa berharganya makna kehidupan. Minimal timbul pertanyaan, apakah yang sudah saya lakukan semasa hidup? Dan apakah tulang belulangku nanti hanyalah sisa-sisa nama? Ah. Saya hanya bisa bersikap sedih juga menggerutu.

Dan langit makin abu-abu. Matahari menyembul malu-malu dibalik gedung-gedung biru. Menyisakan cahaya yang berpendar keperakan di tanah kuningan yang artifisial. Kami berjalan menyusuri trotoar, berkelompok-kelompok. Saya masih menahan rasa yang menggelayut keras, berusaha berimajinasi, apakah Kuningan seperti ini yang Adipati Awangga inginkan?

(Bersambung: Menelusuri Jejak Guru Mughni)

Sumber Informasi

Reyhan. 2017. Pelita Hati di Tengah Gemerlap Metropolitan (Jejak Kampung Tua Kuningan dan Perluasan Pendidikan Agama di Tengah Kota Jakarta). Makalah diberikan di Ngopi Jakarta, Juni 17, Jakarta.

“Untold Story: Arya Kemuning (Pangeran Arya Adipati Kuningan.” Dodi Nurdjaja. ____ 2013. Diakses pada 18 Juni 2017. < http://dodi-nurdjaja.blogspot.com/2013/06/untold-story-arya-kemuning-pangeran.html>

“Silsilah Sang Adipati Kuningan.” Sejarah Kuningan. 13 Oktober 2010. Diakses pada 17 Juni 2017. < https://aditya69.wordpress.com/2010/10/13/silsilah-sang-adipati-kuningan/>

Beberapa foto

Nisan Pangeran Kuningan
Keterangan di depan nisan
Atap mesjid di balik pepohonan
Nisan dengan kaligrafi yang buram
Model makam tua yang telah dibangun
Batu nisan penanda makam
Kompleks pemakaman di sekitar mesjid
Salah satu sisi mesjid
Papan nama mesjid
Prasasti mesjid Al Mubarok
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s