Napak Tilas dari Cawang ke Kramat Jati

Kembali menuju arah Cawang Kompor, saya mengabadikan Jakarta yang terik dari jalur penyeberangan. Mengeluyur hari itu bisa jadi acuan betapa pentingnya stok air minum dalam tumbler. Beruntunglah di Jakarta, sebab penjaja air minum masih mudah ditemukan di berbagai sudut. Melihat semangat para peserta NgoJak kemarin juga menjadi tenaga tersendiri, meskipun ada seorang kawan yang membuat lambat karena membawa tripod. “Nanti ada narasumber kan? Makanya gue mau wawancara,” tukasnya di ujung obrolan daring. Alhasil, saya tertinggal jauh dari Kengkarawan lain karena keasyikan mengambil gambar dari JPO Halte Cawang Ciliwung. Mempercepat langkah, kami berdua memilih lewat jalur seberang, jalur searah kendaraan menuju Cawang. Tak jauh dari Gedung Nindya kami belok menyeberang JPO dan menyusul yang lainnya.

Cawang Kompor yang jaraknya 1,5 kilometer lagi sudah menunggu. Rasa ingin tahu pun begitu besar sehingga tak menyurutkan semangat untuk terus mengayunkan langkah. Satu hal lainnya, mengutip Daan, NgoJak ternyata bisa dilakukan dalam berbagai kondisi cuaca. Saya membayangkan apa yang ada di benak orang-orang dari bilik kaca mobil di jalur ini melihat kami yang bergerombol di siang bolong sambil menyisir pinggiran MT Haryono lewat jalur khusus karena trotoar sepanjang jalan sedang perbaikan.

Satu lusin gelas aluminium ditawar dengan harga pas 50 ribu ketika bergegas dari Cawang Kompor menuju rumah mantan gubernur DKI yang nyentrik di zamannya, Henk Ngantung. Tak banyak yang menyangka rumah di ujung gang sempit sekitar Jalan Dewi Sartika itu adalah mantan gubernur Jakarta yang juga seorang pelukis. Sayangnya, warga sekitar maupun pengelola rumah tersebut kurang begitu bersahabat. Beruntung ada Mas Sofyan yang berbagi informasi tentang sosok Heng Ngantung tersebut. Rumah tersebut masih berarsitektur lama. Bisa masuk lewat Gang Waru atau Gang Jambu. Diskusi di ujung gang sembari berpose di balik tembok graffiti lantas jadi hiburan tersendiri; deretan teks Asmaul Husna yang satu barisan dengan logo-logo klub sepak bola di bawahnta. Saya lantas berkelakar, “Enggak salah kan kalau bagi sebagian orang, sepak bola adalah agama?”

200 meter di seberang gang Jambu terdapat radio ternama di Jakarta, Radio Pelita Kasih. Radio yang mengudara sejak tahun 1967 ini satu komplek dengan surat kabar Sinar Harapan dan Suara Pembaruan di Jalan Dewi Sartika No.136D. Mendengar dua nama surat kabar sore ini saya teringat sebuah lirik Iwan Fals di lagu Sore Tugu Pancoran yang dirilis tahun 1985 silam, “Surat kabar sore dijual malam, selepas Isya melangkah pulang.” Lagu ini menceritakan sosok anak kecil usia sekolah yang menjual surat kabar sore di sekitar Tugu Pancoran. Menelaah liriknya tahun itu, saya yakin surat kabar yang dimaksud adalah koran Sinar Harapan. Pasalnya setahun kemudian, surat kabar ini dibredel tidak boleh terbit akibat sebuah headline yang mengkritik pemerintah Orde Baru. Barulah tahun 2001, surat kabar ini kembali terbit. Dalam perjalanannya, konflik internal terjadi menyusul dua nama yang terbit secara bersamaan. Beberapa dipicu soal visi misi dari karyawan yang tidak setuju soal peralihan dari media cetak menjadi media portal berbasis daring. Padahal tadinya berasal dari rahim yang sama. Suara Pembaruan lantas dibeli oleh Berita Satu Grup, sementara Sinar Harapan malah gulung tikar di awal 2016 untuk edisi cetak.

Saya tetiba ingat kisaran tahun 2008 dinihari pernah melipir masuk ke dalam percetakan gedung Sinar Harapan. Melihat orang-orang yang sibuk di heningnya malam Jakarta dalam balutan deru mesin cetak penghasil uang.

Komplek Sinar Kasih hari itu menjadi penutup jalan kaki tiada henti sejauh 1,7 kilomter di bawah terik matahari Jakarta yang menyengat.

Tujuan berikutnya adalah Masjid Al-Hawi dan Makam Kramat Jati yang ada di Jalan Raya Condet, Cililitan. Lokasinya tak jauh dari Pusat Grosir Cililitan (PGC) yang masyhur itu. Dari komplek Sinar Kasih, kami menggunakan angkutan umum Mikrolet M-19 jurusan Cililitan – Kranji, lantas turun tepat di depan PGC. Menyeberang lagi jalan kaki menuju Masjid Al-Hawi dan Makam Kramat Jati sekitar 200 meter. Kedua komplek ini berseberangan, seakan jadi pintu gerbang menuju Condet. Banyak dikunjungi para mufasir dari berbagai daerah, terutama di bulan-bulan sakral penanggalan tahun Hijriah, seperti Rabiul Awal, Rajab, Syaban, dan Muharam. Beruntung, NgoJak berkesempatan mendengar cerita dari cucu sang pendiri, Habib Muchsin. Menurutnya, tokoh-tokoh dakwah kharismatik Jakarta banyak lahir dan dimakamkan juga di sini. Sebut saja Habib Zain yang menginisiasi Jamiat Khair, sebuah lembaga pendidikan islam (madrasah) pertama di Jakarta yang lahir pada tahun 1902. Ada juga Habib Salim bin Jindan, ahli fikih yang banyak melahirkan kyai-kyai Betawi. Lantas ada Habib Muhsin bin Muhammad Al-Attas, sang pendiri Al-Hawi di tahun 1920-an. Dan puluhan tokoh agama lainnya yang memengaruhi perkembangan agama Islam di Jakarta dan sekitarnya.

Jalan Raya Condet sendiri sejak lama memang begitu-begitu saja. Tak mengalami pelebaran, pun tak mengalami penyempitan. Ali Sadikin pernah mengundang beberapa ahli untuk melakukan pelebaran. Ini terkait dengan izin angkutan umum yang akan melintas kala itu. Folklore berkembang karena pintu masuk jalan ini diapit oleh Masjid Al-Hawi dan Makam Kramat Jati. Tak dinyana, berbagai cerita gaib berkembang luas di masyarakat Cililitan, Condet, Kramat Jati, juga sebagian Jakarta. Fakta lainnya, gestur tanah juga menjadi pertimbangan mengapa jalan ini tak bisa dilebarkan. Hingga akhir masa jabatan Ali Sadikin, pelebaran jalan ini tak bisa dilakukan. Dan sampai sekarang Jalan Raya Condet menjadi momok yang menakutkan bagi pengguna jalan karena kemacetannya.

Waktu menunjuk zuhur dan makan siang saat kami bergegas menuju tujuan berikutnya: Rumah Cililitan Besar. Rutenya memaksa kami untuk balik arah ke simpang PGC. Mikrolet M-06A jurusan Jatinegara-Gandaria jadi sarana transportasi berikutnya. Turun di Jalan RS. Sukanto, jalan kaki lagi menuju lokasi sekitar 400 meter. Disambut beberapa penghuni, rumah bergaya Belanda-Jawa ini didirikan pada tahun 1775 oleh Hendrik Laurens Van der Crap, orang Belanda yang kaya raya. Sisa-sisa kemegahannya sendiri masih terasa ketika masuk ke ruangan utama dan atap paling atas. Dalam catatan, ada 18 keluarga kepolisian yang tinggal di rumah ini sejak sebelum Perang Dunia ke-2. Di masa orde baru, warga sekitar bercerita bahwa di atap rumah ini kerap dijadikan ajang berjudi untuk melepas penat, baik oleh oknum polisi maupun warga yang memang berkawan baik dengan penghuni rumah.

Selesai dari Rumah Cililitan Besar, rute mengarah menuju Pasar Induk Kramat Jati. Kali ini, transportasi yang digunakan adalah Kopaja 57 jurusan Kampung Rambutan-Blok M. Sebagaimana NgoJak edisi Condet, kondektur Kopaja pun langsung menebar senyum simpul karena dalam sekejap armadanya langsung penuh.

Sebagai salah satu pasar terbesar di Asia Tenggara, roda transaksi di Pasar Induk Kramat Jati berlangsung 24 jam penuh. Berbagai kebutuhan komoditi yang baru tiba dari sentra-sentra produksi di daerah bisa langsung dicium, dicolek, dicicipi, bahkan dimakan. Pasar Induk Kramat Jati juga terkenal sebagai pasar buah. Di sudut-sudut pasar, nampak beberapa pekerja sedang memilah bawang merah yang baru saja tiba. Menurut para pedagang, kota Brebes memiliki kontribusi tertinggi produksi bawang merah dengan pasokan 90-120 ton per hari, “Sekitar 70% lah dari sini kiriman dari Brebes,” tukas salah seorang pemilah, Ibu Sumi yang menyebutkan harga bawang merah per kilo mencapai 16-17 ribu rupiah. Jelang bulan puasa, kestabilan murahnya harga komoditi jadi hal yang sangat penting bagi masyarakat.

Nyeduh teh dan kopi di anak kali Ciliwung sembari berbagi kesan perjalanan kiranya cukup menjadi penutup NgoJak edisi ke-6 kali ini. Mengeksplor Cawang hingga Kramat Jati begitu menarik untuk melihat sisi lain tentang Jakarta. Mungkin bagi saya, juga sebagian orang, jalur ini menyimpan banyak ingatan. Rute pertama kali ke Jakarta untuk melamar kerjaan, rute mengantarkan gebetan sembari menunggu hujan reda, atau rute yang membuat kita kapok karena kerap berurusan dengan Polantas.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya ☺

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s