Napak Tilas dari Cawang ke Kramat Jati

Biasanya jam sembilan malam bus jurusan Sukabumi sudah enggak ada yang lewat. Di depan gereja HKBP itu puluhan penumpang mengantre bus langganan seperti laju Utama, Daya Tunggal, dan Agra Mas. Bagi yang mengarah ke Sukabumi pilihan pun terpaksa beralih ke mobil omprengan yang hanya sampai Pasar Ciawi. Yang ke Bogor masih mending karena tujuannya sampai Terminal Baranang Siang. Selain di depan gereja HKBP di Jalan Perindustrian, jalan terusan tol Cikampek menuju jalan D.I Panjaitan juga biasa menjadi terminal bayangan. Di sekitar simpang besar Cawang itu, beberapa pedagang kaki lima masih asyik menjajakan barang dagangan tanpa rasa takut.

Ketika kemarin menyusun kegiatan NgoJak ini saya senantiasa mengingat cerita di atas. Masa di mana kali pertama menjadi anak urban; berangkat Senin subuh di awal pekan, lantas pulang di Jumat malam di ujung pekan. Begitu seterusnya sampai berita menyedihkan itu tiba, bus AKAP tak boleh melintas kawasan Cawang UKI per tanggal 14 Mei 2009. Ongkos menjadi lebih mahal karena harus ke Kampung Rambutan atau ke Pulogadung dan Kalideres. Namun saya masih mengalami sebuah masa di mana menurunkan penumpang masih bisa dilakukan di simpangan menuju Tol Dalam Kota dan Tol Wiyoto Wiyono, sehingga menuju Cawang UKI tinggal melalui semak-semak yang berakhir tepat di Jalan Mayjen Sutoyo.

Sayangnya selain lorong nyentrik menuju terminal bayangan, juga kampus UKI, Kantor BNN, Menara Saidah, dan Stasiun Cawang, saya tak tahu lebih banyak lagi soal Cawang selain sebuah simpang besar yang mempertemukan berbagai manusia dari segala penjuru. Toh ternyata ada kawasan unik lainnya yang nyempil tepat di bawah jalur penyeberangan Jalan Dewi Sartika. Puluhan tahun, industri rumahan alat rumah tangga banyak dihasilkan dari sini. Di masanya, daerah ini pernah menjadi ladang industri kompor minyak tanah yang begitu masyhur. Medio 1950-an, orang Betawi banyak menginisiasi usaha rumahan ini hingga tahun 80-an. Kualitas kompor pun tak kalah dengan industri pabrikan. Saking teruji kualitasnya, pelanggan kompor bukan hanya dari Jabodetabek. Tak sedikit yang dari luar Jawa juga berlangganan hingga kawasan ini dikenal dengan nama Cawang Kompor. Ketika pemerintah mengkonversi minyak tanah ke gas elpiji, ratusan pedagang banyak yang gulung tikar. Jumlahnya kini bisa dihitung dengan jari. Guna melanjutkan hidup, mereka yang bertahan tak hanya menjual kompor, tapi juga alat rumah tangga lainnya seperti dandang, oven, hingga kubah masjid.

Beberapa kilometer sebelumnya, di mana titik kumpul NgoJak di Stasiun Cawang, lantas berhenti sejenak di terowongan stasiun. Di atasnya bising kendaraan berlalu lalang di Jalan MT Haryono. Jalur kereta di stasiun ini tergolong jalur bersejarah sebab sudah beroperasi sekitar tahun 30-an. Saat kereta melintas dengan kecepatan tinggi, di bawah terowongan ini anak-anak NgoJak malah berbagi cerita yang dipandu Mas Sofiyan.

Dilanjut jalan kaki menaiki beberapa anak tangga menuju MT Haryono terdapat Menara Saidah yang terkenal angker karena sejak tahun 2007 tidak ada yang menghuninya. Beberapa kontroversi seputar konstruksi bangunan yang miring juga dipermasalahkan warga sekitar. Kemarin halaman depan gedung sedang ada renovasi saluran air dan pedestarian sehingga tidak memungkinkan untuk melihat lebih dekat.

Rute kemudian mengarah ke Markas Besar Angkatan Udara. “Bukan markasnya sih, tapi hanya lembaga kesehatannya,” ujar Daan kala saya berseloroh soal besarnya markas Angkatan Udara kita. Lokasinya tepat di seberang Gardu Tol Otomatis Tol Dalam Kota. Dari sini ternyata banyak cerita yang bisa digulirkan. Di masa awal Orde Baru, fungsi militer dan kepolisian sering ditonjolkan terutama kehadiran tangsi-tangsi di kawasan perbatasan, misalnya di Cilandak, Pasar Rebo, Pasar Minggu, dan Cijantung. Di Cawang sendiri, selain Mabes AU Layanan Kesehatan, ada juga Kodam Jaya yang ada di Jalan Mayjen Sutoyo. Kultur sekitaran tangsi-tangsi ini kemudian berkembang, memengaruhi pergaulan masyarakat saat itu. Maka lahirlah istilah Anak Komplek, Anak Kolong, dan Anak Arab. Ketiganya menunjukkan perangai dari anak-anak yang lahir dari lingkungan militer berdasarkan tempat tinggal orangtuanya. Anak Kompleks cenderung membawa nama-nama komplek di pergaulan sosialnya. Anak Kolong mengacu pada rumah tinggal yang sempit dengan jumlah anak yang banyak, sehingga harus tidur di kolong-kolong tempat tidur. Kalau Anak Arab cenderung mengarah kepada penampilan fisik mirip orang Arab. Padahal di era Kolonial, para tentara KNIL, Marsose, juga Kepolisian banyak direkrut dari suku Ambon. Dari ketiga ciri istilah ini ada satu kesamaan yang nyaris sama; mereka anak-anak bandel, susah diatur, sok jagoan, dan sok merasa menang sendiri. Meskipun tak sedikit yang jadi orang baik-baik.

Waktu beranjak siang ketika perjalanan mengarah ke pinggiran Ciliwung, tak jauh dari pasar swalayan modern Carrefour. Ketika Kengkarawan lain turun ke pinggiran sungai yang sudah dibeton, saya naik ke jembatan besi yang juga digunakan sebagai jalur air dari PD. PAM. Asyik sekali mengabadikan mereka yang tengah diskusi di pinggiran sungai yang dipandu oleh Novi. Isu banjir, betonisasi, dan normalisasi Ciliwung jadi bahasan penting yang diangkat pada titik pemberhentian ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s