Dunia Anak dan Siaran Alay

Mie… Mie… Mie… Mie atas… Mie bawah… Mie depan… Mie belakang…
Mie satu… Dua… Tiga… Mie tiga… Dua… Satu…
Mie cio… Cio… Cio… Mie cio… Cio… Cio…
Mie gulung… Gulung… Gulung…

Siapa yang ingat dengan lirik lagu di atas? Sudah tidak usah merasa muda. Bagi anak yang lahir dan besar di tahun 90-an, lirik lagu ini pasti akrab di telinga kita. Meskipun pertanyaan terbesarnya kini adalah, apa arti dari lirik lagu di atas? Tapi kita tidak sedang membahas arti lirik lagu itu. Mari kita bahas tentang kebodohan masa kecil gue.

Sebagai seorang pria tampan yang ketampanannya sudah disumbangkan bagi yang membutuhkan, jadi yang tersisa dari gue adalah kekerenan. Gue dengan bangga mengatakan bahwa gue anak generasi 90-an yang besar dengan semangat Panji Manusia Almunium. Namun seolah dimakan zaman, ternyata gue mulai takut akan kehilangan masa, di mana gue dengan suka ria menertawakan apapun yang terjadi. Terlebih dengan perkembangan anak-anak dan remaja masa kini. Oke, lu gak usah sebut Alkalin atau PesouLex. 😀

Hal paling mudah yang gue khawatirkan adalah karena pengaruh teknologi, terutama apa yang ditonton oleh anak-anak remaja masa kini. Bayangin men, tontonan mereka sekarang udah Upin Ipin lagi buat anak. Ya, walaupun gue gak muna suka juga sih, tapi zamannya gue film Upin Ipin itu gak ada. Jelas jamannya gue, hp paling gaul adalah nokiyeu 2100 yang belakangnya cuma bisa buat naruh foto jadi apa yang mau lihat? Paling sms-an sama cewek isinya “hy bleh knlan gx?”. Apalagi film-film di televisi sekarang umur 15 tahun udah pake tank top “sabar ini ujian, sabar”.  Kalau dibandingkan di zaman gue, televisi isinya tontonan yoyo, encep, Kera Sakti, Jiban, Saras 008, Panji, dsb-nya. Tapi men, ada tontonan paling jahat menurut gue saat itu yaitu Patroli. Kenapa jahat? Karena setelah gue nonton itu gw jadi mau… bunuh diri… Hahaha.

Oke ini harus diceritain sebagai refleksi bagaimana tayangan televisi yang tidak tepat mempengaruhi pikiran anak yang imut, lugu dan polos saat itu (gak usah pake muntah). Gue inget banget bahwa di zaman gue, Patroli mulai dari jam 12-an dan habis jam 12.30-an. Pulang sekolah gue lihat TV yang saat itu sedang ditonton emak (gak usah panggil nyokap, sok lu) adalah berita tentang orang bunuh diri dengan cara gantung diri. Dalam benak gue, apakah bunuh diri dengan gantung diri itu mudah dan enak ya? Ingat! Di sinilah pikiran seorang anak tak berdosa mulai terkena racun televisi.

Puncaknya adalah saat gue nemu tali kolor. Oke, tali kolor ini bukan sembarang tali. Buktinya dia tali yang kuat dan gak putus saat gue pake buat gantung diri. FYI, depan rumah gue dulu ada tempat duduk dari semen tingginya sekitar sedengkul, gue iseng apa yang bisa gue lakukan dengan tali kolor itu. Terlintas ide brilian gue buat mencoba gantung diri. Ragu sih, tapi gue udah hitung-hitung bahwa gue nanti bisa balik lagi ke belakang, tempat duduk gue tadi. Gue iket di atas kayu jaraknya mungkin hanya 40 cm. Meski awalnya ragu, gue yang terlahir dengan jiwa keberanian, dengan gagahnya mencoba gantung diri dan sukses hampir mati.

Terus kok bisa selamat?

Gue adalah orang paling beruntung saat itu. Saat gue udah loncat dan sukses tergantung, leher gue kayak cicak digantung. Emak gue lagi nyapu di halaman dan gue akhirnya ditolong. Gak langsung ditolong sih, tapi ditoyor (toyor tuh bahasa bakunya apa ya?) dulu sambil dikatain bego sama emak gue. Dalam hati ini, emak gue tega amat sama anaknya yang paling ganteng. Tapi men, lu harus nyoba gimana rasanya gantung diri, kecekik, sakit, udah gitu lu pengen kencing. Gue jadi tahu kenapa orang gantung diri pasti keluar air kencing.

Dari cerita gue sebenarnya ada pelajaran yang bisa dipetik dan gue sadar sama hal itu juga, bahwa tayangan televisi yang tidak tepat sasaran hanya akan menjadi hal yang berbahaya bagi penontonnya. Peran serta orang tua saat anak menonton dan kedewasaan orang tua saat menonton dengan anak perlu diperhatikan. Jadi, yang salah emak lu ya? Jelas bukan.  Yang salah adalah kenapa ada tali kolor di situ. Ada satu hal kenapa hingga sekarang anak suka dengan gambar, baik itu buku, film dan lainnya. Itu karena memang rasa penasaran seorang anak.  Hal inilah yang menjadi masa rentan seorang anak dalam pertumbuhan otaknya. Jika ingat istilah orang tua dulu “seorang anak kecil adalah peniru gerakan paling ulung.”

Jadi, jangan pernah main-main apalagi sengaja dengan mencekoki anak-anak dengan gambar atau tayangan yang tidak seharusnya. Apalagi tanpa pengawasan orang tua. Oke? Udah segitu dulu aja. Entar gue cerita lagi kepolosan gue lainnya.

Iklan

2 thoughts on “Dunia Anak dan Siaran Alay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s