Delman, Riwayatmu Kini

Nampaknya matahari sedang berbahagia, cuaca terik dan udara panas kala itu menyinari kawasan Museum Fatahillah dan sekitarnya. Saya bersama teman-teman kampus berencana menghabiskan hari Minggu ini untuk membahas kegiatan organisasi. Kota Tua kita pilih untuk menjadi tempat bertemu, diskusi dan menuangkan isi kepala.

Saya bersama Putri (kawan satu kampus dan satu organisasi) menggunakan moda transportasi KRL sekitar hampir 2 jam perjalanan, ya harap dimaklum karena kita berangkat dari Ciputat, Tangerang Selatan. Lalu setelah sampai dan acara diskusi selesai untuk menghilangkan penat kita memilih berjalan-jalan dan menghampiri satu persatu pedagang.

Kawasan Kota Tua mulai ditertibkan tahun lalu oleh Satpol PP di masa kepemimpinan Pak Ahok. Para pedagang memilih untuk menjajakan dagangannya dipinggir trotoar. Mengais rezeki di tempat keramaian merupakan kesempatan emas yang diharapkan untuk mengumpulkan lembaran rupiah. Mulai dari pedagang makanan ringan, tas, cosplayer, serta mainan anak penuh sesak dari pagi hingga menjelang Magrib. Salah satu yang menurut saya agak nyentrik yaitu Delman. Bergegaslah kita mulai menghampiri Pak Kusir yang saat itu menggunakan baju Koko putih dan peci hitam untuk menanyakan ongkos yang ditawarakan. Baca lebih lanjut

Iklan

Petani-petani Kendeng dan Kebebasan

Siapa yang Sedang Terpasung? 

Aksi Dipasung Semen Jilid 2 dan  pro kontranya, menggelitik saya untuk bertanya, siapa yang (sebenar-benarnya) sedang terpasung? Dan siapa yang (sebenar-benarnya) paling bebas?

Semen yang membungkus kaki dan membatasi aktivitas para petani, aktivis, dan relawan yang ikut dalam aksi itu mengingatkan saya kepada tokoh dua tokoh dalam roman “Jalan Tak Ada Ujung” (1952) karya Mochtar Lubis. Sebuah roman yang begitu rapih menyusun jalur penjungkirbalikan perspektif tentang kebebasan. Guru Isa, yang semasa fisiknya bebas, justru begitu terpenjara jiwanya karena kepengecutannya sendiri dalam mengambil keputusan. Ia hampir tidak memiliki keberanian dan selalu gagal dalam mengambil tindakan-tindakan revolusioner untuk pembebasan diri. Sementara Hazil, dikisahkan sebagai seorang aktivis yang selalu bergerak penuh kebebasan. Hingga pada suatu akhir perjuangan kedua orang tokoh itu sama-sama terpenjara secara fisik, keadaan yang kasat mata terlihat sama, namun justru menghadirkan refleksi yang berbeda. Dibalik jeruji besi, Hazil merasa terpenjara juga jiwanya.. Sebaliknya, Guru Isa menganggap keterpenjaraan fisiknya sebagai proklamir bagi kebebasan jiwanya: secara fisik terpenjara, namun jiwanya merdeka. Baca lebih lanjut

Tragedi Pohon Jambu

Ci… Ci… Putri. Tembako lima koli…
Mak none… Mak none…
Si unyil minta apa? Minta ikan peda.
Pulang… Pulang… Dapet duda…

Gue akan usahain setiap tulisan, nantinya akan gue hadirkan nyanyian-nyanyian permainan jaman gue kecil dulu. Buat apa? Biarlah lo yang sok muda pada inget umur. Kali ini gue pengen cerita lagi kekonyolan masa kecil gue dulu. Sebagai anak angkatan 90-an dengan semangat Panji Manusia Almunium, gue punya segudang cerita konyol jaman dulu yang gue yakin anak sekarang pasti gak pernah ngerasain.

Kali ini gue akan bahas bagaimana seharusnya anak kecil diajarkan untuk paham pada sesuatu yang berbahaya. Oke! Banyak orang tua yang gak mau repot dengan mengatakan itu berbahaya dengan menakut-nakuti si anak, tapi tahu gak sih, ada dua kemungkinan yang akan terjadi dengan si anak. Pertama, anak itu akan mencoba dan yang kedua, si anak akan merasakan trauma. Dan hal ini lagi-lagi terjadi sama gue! Oke jangan dulu sok simpati. Kalau mau ketawa ya ketawa aja. Kalau ada yang nanya kok masa kecil lu saklek amat sih? Karena gue adalah anak sehat, tubuhku kuat, karena emakku rajin dan cermat, semasa aku bayi aku diberi ASI makanan bergizi dan pepes terasi. Oke skip! Malah nyanyi. Baca lebih lanjut

Hidupkan Imajinasi Dunia Belle

Sebagai anak dari generasi 90-an, saya cukup familiar dengan para princesses Disney ini. Sesuai gambar di atas, berurutan dari kiri ke kanan : Jasmine dari film Aladin, Rapunzel dari film Tangled, Snow White dari film Snow White and The Seven Dwarfs, Mulan dari film Mulan, Aurora dari film Sleeping Beauty, Cinderella-the main Disney’s princess-dari film Cinderella, Pocahontas dari film Pocahontas, Tiana dari film The Princess and The Frog, Belle dari film Beauty and The Beast, Ariel dari film The Little Mermaid, dan anggota baru geng putri Disney adalah Merida dari film Brave. Satu lagi ketinggalan, putri kekinian yang euforianya masih belum usai dari 2013 hingga 2017 ini, yaitu Anna dan Elsa dari film Frozen. Can you guess, who is my most favourit princess? And yaa, favorit saya adalah a nerd book with long brown hair and hazel eyes, Belle. Tahun 2015 berita Emma-Hermione-Watson dikonfirmasi memerankan karakter Belle pada Beauty and The Beast membuat ekspektasi saya terhadap adaptasi salah satu animasi Disney ini semakin tinggi.

Belle,-seorang gadis desa, yang dianggap odd and peculiar oleh semua tetangganya, tinggal bersama ayahnya, Maurice. Sebuah insiden mempertemukan mereka dengan Beast, pangeran angkuh yang terkena kutukan penyihir. Sesuai versi animasinya, adaptasi Beauty and The Beast adalah perjalanan Belle dan Beast menemukan cinta sejati untuk mematahkan kutukan sebelum kelopak mawar terakhir jatuh. Alur cerita sudah sangat familiar, tinggal menikmati bagaimana pengemasan film dengan CGI di mana-mana dan menikmati kecantikan Emma Watson, yang pastinya sangat bekerja keras belajar menari dan bernyanyi karena menjadi tokoh center sebuah drama musical. Baca lebih lanjut

Mereka yang Memburu Waktu

Suara adzan subuh sedikit demi sedikit mulai tersamar. Suara deru mesin dari dalam rumah terdengar lirih dan makin keras saat saya benar-benar keluar rumah. Kendaraan saling beradu kecepatan; seakan para pengendara tak ingin kalah antara pengendara satu dengan pengendara lainnya.

Kali ini saya ada tugas kantor cabang yang berada Kota Bogor. Saya mengawali perjalanan dari BSD menuju stasiun Rawa Buntu, Serpong, Tangerang. Dari BSD, saya memilih ojek online. Bukan karena saya ikut memboikot perilaku sopir angkot yang menabrak ojek online itu. Atau lantaran saya penggila ojek online. Bukan! Saya di sini sebagai pengguna segala fasilitas transportasi pada umumnya. Saya memilih ojek online—sebut saja Grab—ini karena efisien. Jika dari BSD menuju stasiun Rawa Buntu, bila naik angkot harus oper 2 kali. Karena alasan itulah saya naik ojek online. Nah, baru saat pulang, saya baru naik angkot. Baca lebih lanjut