Demokrasi Kentut

Tidak ada yang membahas epistemologi keburukan kentut ini secara detail meskipun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas itu bisa dibahas dari beragam sudut pandang: biologis, sosiologis, antropologis, syariah, siyasah, bahkan tasawuf.

Siapakah yang lebih bersalah daripada orang yang kentut di tengah kerumunan orang? Tidak ada. Semua aktivitas akan terhenti untuk bersama-sama mencari sumber bau dan suara kentut, menertawakan, mempersalahkan, atau malah menghukum si empunya kentut dengan makian. Kalau itu anak sendiri, maka hukumannya lebih bertubi-tubi. Dibilang tak beretika dan tak menguasai kontek sosio-kultur masyarakat yang menempatkan kentut sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Maka, jangan salah kalau banyak teks merasa perlu untuk menuliskan kata (maaf) dalam tanda kurung sebelum menulis kata ‘kentut’. Perlu juga menyebut kata ‘maaf’ itu ketika Anda sedang berbicara di podium kehormatan seolah-oleh kentut itu barang yang menjijikan.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat kentut itu patut dianggap sebagai sebuah ‘keburukan’? Apakah zat kentut itu yang bersalah dan layak dilarang? Ataukah proses membuat kentut itu yang keliru? Ataukah baunya yang berdosa –sehingga kalau tak bau maka boleh dan sah-sah saja melakukannya? Ataukah bunyinya yang mengganggu pendengaran –sehingga kalau tak berbunyi maka halal dilakukan di tempat umum? Ataukah situasinya di kerumunan orang yang menyebabkan kentut itu dikecam –sehingga jika kentut seorang diri itu hukumnya berubah dari haram menjadi mubah, bahkan wajib? Ataukah karena kentut diyakini sebagai hal yang membatalkan wudhu –yang dengannya pula membatalkan shalat, maka pada setiap yang membatalkan wujud sembah kepada Tuhan itu berarti sah keburukannya? Baca lebih lanjut

Salesman Nekad

Pernahkah rumah Anda didatangi oleh seorang salesman yang super nekad? Saya mengalaminya beberapa kali. Dulu. Sekarang sudah jarang ada salesman yang ‘bertamu’ ke rumah. Pernah, suatu ketika, saya melihat serombongan salesman melintas di depan rumah. Kalau sudah begitu, saya pasti mencoba untuk menyiapkan kalimat sopan untuk menolak tawaran mereka. Biasanya mereka tidak terlalu memaksa jika kita ‘sopani’. Dan benar dugaan saya. Tak berapa lama seorang lelaki muda mengetuk pagar. Kalimat sopan sudah saya siapkan dalam hati. Saya menduga, lelaki ini akan mengucapkan, “Selamat sore, pak”.Tapi, bukan itu yang saya dapat. Begitu dia melihat muka saya, dari kejauhan si lelaki langsung saja nyerocos dengan suara lantang seperti sedang menegur orang, “Pak! Pak! Tadi ada teman saya ke sini, nggak?”

Sembari agak terperanjat spontan saya jawab, “Nggak tuh. Ada apa?”

“Ini pak, saya mau menawarkan .. bla bla bla …,” tetap dengan suara lantang sementara saya belum sampai di depannya.

Semprul! Entah dimana dulu dia bersekolah jadi salesman: nekad dan tidak beradab.
Baca lebih lanjut