Kisah Dua Belas Marga: Depok Lama

Tak perlu menunggu lama lagi, dunia akan segera menjadi sangat seragam. Manusia akan menjalani hidup dengan cara yang sama. Vodka tidak lagi diminum di suhu minus, Coca-Cola sudah sampai ke Kampung Naga, Avanza terjual hingga pelosok Palopo, dan tiap seratus langkah di kota besar, pasti ada satu jendela dimana terdengar lagu Rihanna. Lebay sih, hehehe. Tapi sebagian memang benar. Proses karsa, cipta dan karya manusia nampaknya sudah cukup terseragamkan oleh apa yang disebut Globalisasi, dengan Kapitalisme dan Budaya Populer sebagai poin-poin utama dibantu oleh teknologi komunikasi yang makin mendekati ide connecting people dari Nokia.

Tak terkecuali di Indonesia. Budaya-budaya lokal nan unik hasil sejarah panjang harus berjuang keras untuk tetap eksis. Eksis secara organik nampaknya cukup berat, sehingga kebanyakan memerlukan konservasi, bahkan mistifikasi dan fusion, untuk tetap eksis.
Baca lebih lanjut

Memaknai Privilese Ibukota

255 juta jiwa sekian-sekian, saya tak lagi tahu pasti berapa penduduk Indonesia saat ini sejak Bang Rhoma vakum di kancah perdangdutan nasional hingga lebih memilih jalur eksis di dunia politik. Sekitar lima persen menjadi komuterian di Jakarta dari pagi hingga sore hari, dan tinggal tiga persennya saja yang benar-benar menetap, itu pun bukan masyarakat asli Betawi, alias sudah mengalami heterogenitas ras juga etnis.

Sejak awal abad ke-20 dan khususnya setelah Pengakuan Kedaulatan (1949), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi – dalam arti apa pun juga – tinggal sebuah minoritas. Pada tahun 1930 suku Betawi mencakup 36,2% dari jumlah penduduk Jakarta di waktu tersebut. Pada tahun 2000 mereka menjadi 27,6 persen saja. Semakin berkurang hingga tahun ini, terdesak ke pinggir, bahkan ke luar Jakarta. Baca lebih lanjut

Jakarta di Ujung September

Menjadi penghuni Jakarta yang numpang hidup, ternyata tak kalah galau dengan mereka yang secara resmi ber-ktp DKI.

Seumur hidup tidak menyukai Jakarta. Mulai jatuh cinta pada kota ini sejak 2012. Awal yang sederhana: ketika tahun baru bisa jalan kaki susur Sudirman-Thamrin dan melihat betapa sigapnya pasukan kebersihan berbenah. Lalu kebahagiaan demi kebahagiaan mulai muncul di kota ini: #Sungai bersih dan tempat2 umum relatif lebih bersih serta ada taman2 kota dan trotoar (maklum, pejalan kaki). Lalu mudah pergi kemana-mana pakai transportasi: TransJakarta, kereta, bajaj, ojek hingga taksi (lebih nyaman dan praktis). Melapor lebih cepat ditanggapi dan punya aplikasi lapor lagi. Kemewahan! bagi warga kota seperti saya yang puluhan tahun sering diabaikan oleh pemerintahnya sendiri. Baca lebih lanjut