Playmate

Kita semua tentu punya kawan bermain, teman sepermainan, atau bahasa kerennya playmate. Saya pun demikian. Namun, kalau boleh saya tanya, sejauh apa sih tali sepermainan itu masih terjalin hingga kini?

Mungkin saya boleh sedikit berbangga, karena tali sepermainan saya di Taman Kanak-kanak masih terbungkus baik sampai sekarang. Yup, di usia yang tidak lagi muda, silaturahmi dengan teman sepermainan dari TK hingga SMA masih terjaga. Saya hanya bisa berucap alhamdulillah.

Percaya atau tidak, pertemanan yang erat meski terkadang timbul-tenggelam, saya rasa tak akan lekang oleh waktu. Sekali lagi, boleh percaya atau tidak, lho. Karena itu yang saya alami. Rumah boleh berpindah, hobi bisa berubah. Tapi tali “sepermainan” tidak kenal semua itu. Baca lebih lanjut

Dari Menuntun Hingga Dituntun

Saya tidak mengenal masjid hingga Ayah yang memperkenalkannya. Tidak dengan gambar atau cerita, Ayah mengajak langsung ke masjid, menuntun saya di sisinya, menunjukkan tempat terbaik di shaf terdepan, dan mengajari saya bagaimana berlaku di dalam masjid. Seringkali Ayah shalat lebih banyak daripada pengetahuan saya tentang adab masuk masjid; juga lebih banyak sebelum meninggalkannya. Saya tak pernah dipaksa untuk melakukannya. Cukup mengerti bahwa ada kecintaan Allah pada setiap rakaat tahiyatul masjid dan sunnah rawatib. Itu saja cukup.

Shalat-shalat pertama saya bersama Ayah adalah serangkai shalat Jum’at yang berturutan tiap pekan. Sayangnya, semakin saya besar, semakin sulit diajaknya ke masjid kala itu, apalagi untuk shalat maghrib dan isya. Perkaranya sepele. Setiap ba’da maghrib selalu ada pengajian anak-anak dan saya tidak merasa nyaman bergabung di dalamnya. Pengajian anak-anak itu dibagi tiga kelompok dengan semacam strata masing-masing. Kelompok A adalah anak-anak yang masih belajar Juz Amma dan masih melancarkan bacaan, Kelompok B adalah anak-anak yang mulai lancar namun belum terampil, sedangkan Kelompok C adalah anak-anak menjelang remaja yang sudah lancar mengaji. Teman-teman sebaya saya ada di Kelompok A. Beberapa kali saya masuk dalam antrean barisan mereka, namun setiap kali Ayah melihat saya berada di situ, dipanggillah saya. Diambilnya tangan saya dan dituntun masuk ke Kelompok C. Duduk tepat di samping guru mengaji kala itu, Alm H Romli Zakaria. Menjadi yang paling kecil di tengah anak-anak sebaya kakak-kakak saya jelas membuat saya rikuh sampai akhirnya saya mundur perlahan. Jarang pergi ke masjid dan selalu mencari-cari alasan –yang paling sering adalah terlambat mandi karena asyik bermain bola sampai adzan maghrib berkumandang. Baca lebih lanjut

Sol Sepatu

Siapa berani telanjang kaki ke pesta pernikahan mantan atau gebetan?

Sejak awal peradaban, alas kaki memang menjadi penghias, pelindung, juga sebagai penunjuk status sosial seseorang.  Sepatu tertua diketahui publik ditemukan di Fort Rock Cave, Oregon, negara bagian Amerika Serikat, pada tahun 1938.  Sepatu dengan anyaman sederhana dari jerami tersebut menurut penelitian radio karbon, setidaknya berusia lebih dari 10.000 tahun.  Ketika manusia mulai berkembang, mulailah ada penambahan unsur hewan seperti bulu kelinci atau kulit-kulit binatang buas. Ini dipercaya karena sifat magis yang dapat menambah kecepatan dan keberanian pemakainya.

Para pelaut Fenisia yang terletak di pesisir laut wilayah Timur Tengah lain lagi. Untuk menopang pelayaran, alas kaki mereka biasanya dibuat dengan model hak tinggi, perpaduan kayu dan kain dengan hiasana aneka aksesoris. Modis seperti ini juga mewabah di kalangan Mesir Kuno, Romawi, India, China, dan Babilonia yang lebih dulu mengenal sandal sebagai alas kaki. Bedanya mereka suka menambahkan mutiara, wewangian, serta pernak-pernik identitas lainnya sebagai jimat. Di era Renaissance, seorang pelacur Venesia sempat mempopulerkan sepatu kayu dengan ketinggian 30 cm dan kembali jadi tren tahun 70 dan 90-an.  Bahkan sepatu yang kita kenakan hari ini, tak lebih hanya adaptasi modern dari gaya di masa lalu. Baca lebih lanjut