Cara Indah Menikmati Hujan di Jakarta

Saat hujan turun, kota ini kerap memainkan sisi melankolisnya.

Selain banjir, apa lagi hal yang sering diingat kala mendung menggantung di langit Jakarta?

Hampir tak bisa dibedakan lagi ketika berangkat dan pulang kerja menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Kemacetan bukan lagi  jadi momok yang menakutkan, tapi sudah jadi kebiasaan yang sudah tak pantas lagi untuk dikutuk dan dikeluhkan. Alih-alih mengumpat, yang ada justru malah membuang hal sia-sia. Apakah dengan mengutuk kemacetan lantas jalanan menjadi lancar seketika? Apalagi saat hujan turun di jam pulang kantor, laju akan terhambat karena banyak pengendara yang berteduh di bawah flyover. Jangan pernah bertanya mengapa mereka tak mempersiapkan diri dengan membawa jas hujan misalnya. Si pengemudi mungkin membawanya, tapi yang menumpang tak mau repot-repot karena tujuan mulanya toh hanya nebeng doang.

Ada hal yang dapat dinikmati di Jakarta saat hujan turun. Hujan kerap jadi pertanda apa-apa saja yang sedang dirasakan oleh para penghuninya. Suasananya, rintiknya, aromanya, dari air yang luruh dari langit. Kalau sudah seperti ini, Jakarta nampak melankolis.

Maka dari kaca jendela sebuah kopaja yang berpacu lambat, bayangkan orang-orang di rumah yang sedang menunggu kehadiran kita. Atau libatkan dan larut dalam sebuah obrolan urban di mikrolet yang terutup pintunya karena air yang meninggi. Pernah saya memperhatikan obrolan ibu-ibu dalam sebuah mikrolet M09 jurusan Tanah Abang-Kebayoran Lama. Satu rombongan keluarga yang saya tafsirkan mewakili tiga generasi: nenek, ibu, dan cucu. Mereka berjejer duduk di dekat sopir.  Di sudut paling ujung, ada ibu-ibu berpenampilan agak mencolok, dua-duanya berkacamata dengan ragam aksesoris dan tas bermerk. Sementara di depannya nampak seorang ibu hamil. Kelihatan masih muda. Sendirian. Di belakangnya lagi, nampak tiga perempuan dari dua generasi: ibu dan dua anak gadisnya yang terlihat panik karena beberapa kali menanyakan sebuah alamat pada sopir. Saya sendiri duduk membelakangi sopir.

“Ibu mau nyobain? Ambil aja nih gak bayar kok,” terang seorang nenek dari keluarga tiga generasi. Rupanya, ibu hamil di hadapannya beberapa kali melirik jambu air yang sedang asyik dikunyah cucu si nenek. Dengan malu, ibu hamil tadi sempat menolak walau akhirnya berujung, “Gak apa-apa nih saya minta?”

Satu persatu penumpang lainnya tiba di tempat tujuan. Dua ibu berpenampilan mencolok itu baru saja turun. Klakson mobil di belakang sempat mengundang sedikit kemacetan karena dua ibu itu tak ada uang pas, sementara sang sopir punya masalah serupa; tak punya kembalian. Kalau sudah begitu, kepanikan sopir angkot bisa dimaklumi dan jadi jawaban dari pertanyaan lawas, mengapa mereka suka ngetem seenak udel sih? Karena mereka dikejar setoran dan waktu, apalagi jika klakson dari arah belakang makin melengking-lengking.  Tak bisa dipungkiri, sulit menerima kenyataan untuk mencegah ruang pribadi dimasuki budaya publik yang tak punya perubahan. Saya merogoh kocek dari tas dan menemukan empat lembar lima ribuan yang akhirnya ditukarkan pada dua ibu tadi.

Sepintas kalau dinikmati, hujan di Jakarta selalu mengundang cerita menarik. Bagi sebagian tukang ojek payung, tentu hujan selalu dinanti. Namun ada juga yang suka hujan karena secepat kilat seperti punya ilham untuk update status media sosialnya. Seketika lantas menjadi penyair dengan hal-hal berbau galau membayangkan kisah percintaannya. Tapi pernah ada kutukan seorang teman, “Aku suka hujan. Tapi pas mau menggalau, eh malah berhenti”.

Kata sebagian orang, hujan itu pertanda rejeki bukan?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s