Jakarta yang Kesepian

Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan, tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang.

~ Sapardi Djoko Damono

Jakarta mengalirkan airmata, melepas kepergian satu demi satu kepingan
ada yang memutuskan untuk pergi dan tak kembali
ada pula yang hanya sekadar melepas rindu yang meletup
tetapi, ada pula yang bertanya: untuk apa ada di Jakarta?

Jakarta adalah kota, namun dia bisa disetubuhi dengan kata-kata
dia punya perasaan ketika seorang demi seorang meninggalkannya
meski dia sudah jatuh hati dengan orang-orang tersebut, memberinya napas
membagi makan kepada mereka yang jauh dari kota rantau
tetapi seakan mereka semua menyangkal: kami hanya mencoba mengadu nasib

Jakarta adalah kota, penuh hiruk-pikuk ketika magrib bukan sesuatu yang ditunggu
kemudian mereka yang dicintai oleh Jakarta satu per satu pergi
foya-foya, habiskan uang dalam sakunya yang diberikan oleh Jakarta
Jakarta tahu itu semua, dan dia merasa sedih. Patah hati.

Jakarta adalah tentang perasaan itu semua, di mana kamu pernah berada
ketika kamu membaca tentang surat yang hendak disampaikan Jakarta kamu tak ada di sini
dia sedang merasa kesepian, tak lagi ada macet kendaraan
tubuhnya tak lagi dijejali umpatan orang berjalan hingga orang yang lapar
Jakarta mungkin rindu, dia meneteskan airmata ketika kamu pergi
seorang demi seorang pergi, dan dia masih setia menunggu

Sudah kukatakan padanya, ini hanya sementara
Lebaran akan tiba, mereka hanyalah sekadar mudik
menjejali jalan-jalan di Pantura, membuat kemacetan di kota lain
mereka ingin membuatmu tahu apa arti rindu sesungguhnya
bukan membuatnya sedih. Ditinggal para pelacur, dilepas para kerah putih

Jakarta adalah kota, tapi dia punya perasaan
perasaan yang meredup ketika dia harus merasa terasing
ibarat cerita seorang anak yang durhaka kepada ayahnya
meminta warisan sebelum sang ayah wafat, kurang ajar
dan menjadi penggembala babi ketika uang itu habis
setelah habis, dia kembali kepada ayahnya
dan Jakarta seperti itu

dia akan menerimamu kembali, setelah kau berpesta di kampungmu
menafkahimu kembali, mungkin juga meluputkanmu

 

Jakarta, 4 Juli 2016 | 22.56
A

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s