JokoBowo

Aku melihat Joko ketika ia bersalaman dengan Bowo. Hangat, bahkan nyaris berpelukan. Itu pertama kali aku melihat mereka. Yang satu dengan perawakan kecil, satu lagi cukup besar meski usianya membujur ke cakrawala barat. Tidak ada yang istimewa, kecuali riuh-riuh kecil yang perlahan seperti bola salju yang menggelinding. Bertambah besar, bergemuruh.

Joko ikut duduk bersamaku di tepi kali sambil melempar pancing. Katanya, “Banjir ini menghanyutkan ikan ke lautan.” Aku tertawa, lalu membantah. “Jangan terlalu yakin, Joko.” Dia diam menatapku. Menunggu, barangkali. “Sampah di ujung sana, sebelum lewat jembatan kedua, sudah menghalangi ikan-ikan pergi ke lautan,” jawabku tanpa perlu ia bertanya. Lalu ia gantian tertawa.

Duduk kami berlama-lama, menikmati sore yang padam hingga gulita. “Kau tahu berapa traktor yang harus aku kerahkan untuk membuat sungai ini tak meluap?” Ia bertanya. Serius. Padahal, aku sudah siap beranjak menuju mushalla, karena adzan telah redup sejak setengah jam yang lalu.

“Kau tanya berapa?”

“Iya, berapa? Berapa pekerja yang aku butuhkan? Berapa banyak uang yang harus aku gelontorkan?”

Aku tertawa. Kutepuk pundaknya untuk membuka mata. “Kita sudah terlalu lama menunda panggilan Tuhan. Bahkan, Umar tak perlu ratusan, apalagi ribuan traktor untuk mencegah Nil meluap. Ia hanya butuh secarik surat. Dan Tuhan… diikatnya dalam aksara.” Aku menarik tangannya, berlari-lari kecil sambil berharap Tuhan belum menutup pintu maghrib.

Sehabis maghrib, Joko tak tampak lagi. Ia pergi tak berpamitan. Barangkali ada urusan penting, aku tak tahu. Yang aku tahu adalah Bowo yang duduk berlama-lama di tiang mushalla sambil memegang kalam -semacam lidi yang dipakai untuk menunjuk huruf saat mengeja Qur’an. Mukanya lelah, entah mengapa. Tapi, saat menyambutku datang, ia bergegas berdiri dan berucap, “Salam hormat, Saudaraku.”

Tidak aku tanyakan perihal apapun tentang duduknya sehabis maghrib, namun ia yang sukarela berucap. “Kau tahu kalam ini, kan?” Aku mengangguk. “Untuk apa?” Mengeja, kataku. Betul kan, tapi ia tertawa. “Kau mengeja dengan mulut, lidahmu sendiri. Tapi kau butuh tanganmu bergerak juga?”

“Kontrol,” jawabku lagi.

“Sejak kapan satu bagian tubuh mampu mengontrol bagian tubuh yang lain?”

“Sejak kau belajar mengeja, Bowo. Kau tahu lidahmu tak boleh lebih lekas dari jejarimu. Jejarimu tak boleh lebih lekas dari lidahmu.”

Dan sejak itu, aku tahu apa arti kebenaran dan kemunafikan.

***

Riuh di belakang semakin menjadi. Hari ini aku dengar lagi: sesatu gerombol berteriak nama Joko, sesatu gerombol lagi mengurai huruf B-O-W-O. Aku tak tahu lagi sejak pertemuan mereka yang pertama aku lihat, seberapa sering sekarang mereka berjabat.

Aku tak merindukan riuh. Aku memilih duduk di tepi sungai, lalu memegang kalam sehabis maghrib di mushalla. Meski hujan, meski badai. Karena aku tahu, Tuhan masih ada. Aku meminta upah dariNya, bukan dari sesiapa.

 

 

Jakarta, Mei 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s