Membebaskan Jemu

Seringkali, apa yang kita cari atau gilai saat ini nantinya hanyalah tinggal sisa-sisa memori. Nantinya akan hanya tinggal satu hal tak berarti dan rela saja ditinggal pergi. Bayangkan jika seseorang tidak memiliki rasa bosan, atau jemu, atau cukup. Betapa monotonnya dunia ini. Bayangkan semua di pandangan dan pengalaman kita sama saja dan tidak berubah. Tuhan.. rasanya tidak sanggup berada di dunia semacam itu. Bagaimana tidak, satu jam di dalam pesawat saja rasa seperti hendak meronta. Heran, tipis sekali sekat jemu di dalam kepala saya.

Ditilik dari asal katanya, “Jemu” diartikan sebagai; sudah tidak suka lagi (makan, melihat, dan sebagainya) karena terlalu sering dan sebagainya; boleh dikatakan penyebab seseorang merasa jenuh adalah perulangan. Sesuatu yang dirasai, dinikmati, dijumpai dengan kerap, sering, berkali-kali. Lantas kenapa sesorang bisa merasa cukup dengan sesuatu yang sering atau berkali-kali? Apa hal mendasar yang menyebabkan ini terjadi? Kalau diteliti melalui kaitannya dengan kinerja otak, atau perasaan orang, sudah pasti saya tidak tahu apa. Hanya saja saya coba telaah mengenai hal ini berdasar logika saja.

Cerita sederhana, saat kita punya sepeda pertama kali di masa kecil. Ingat masa-masa kita belajar mengayuh sepeda itu, mencucinya di depan halaman rumah, memolesnya di malam hari jelang pergi tidur seusai jam belajar. Apa saja yang bisa kita bongkar coba kita bongkar. Bahkan yang tidak bisa kembali kita pasang sekalipun. Singkatnya, sebanyak mungkin kita ingin ada bersama hal yang kita sayangi, kita ingin ada interaksi sebanyak mungkin dengannya. Karena dari interaksi itu kita saling berbagi energi positif yang mengugah rasa bahagia alami. Beberapa tahun kemudian kita lulus sekolah dasar, dan mulai berani merengek kepada bapak untuk diajarkan naik motor. Hari-hari mencuci sepeda dihalaman rumah berganti hari-hari kita belajar mengatur keseimbangan di atas jok motor. Membubuhi rantai dengan oli kemudian jadi lebih sering ketimbang memoles rangka sepeda yang mulai berkarat itu. Cerita kemudian kita bisa tahu, si sepeda berakhir di gudang, kemudian di tukang besi rongsok, kemudian pergi jauh ke dasar Laut Jawa. Atau mungkin sendok garpu yang kita gunakan tadi itu masih ada DNA dari sepeda kita dulu.

Tuntutan. Hidup yang terus berevolusi menuntut banyak perubahan, menuntut banyak yang harus tergantikan. Tapi kemudian timbul pertanyaan di benak saya, kenapa manusia tidak bisa mudah saja berganti segala hal yang padahal sudah tidak sesuai jaman atau kebutuhannya? Ambil contoh, berganti pasangan? Wah, kalau dibahas bisa panjang sekali ini. Jadi lupakan saja, setidaknya jangan contoh seperti itu. Tapi boleh juga kalau mau dipikirkan:)

Jemu. Rasa tidak suka lagi karena terlalu sering mengalami. Kok jadi terpikir lagi, bagaimana cerita orang yang begitu sering merasa jemu? Yang begitu sering merasa cukup dan tidak bergairah lagi? Karena saya yakin pasti banyak sekali orang seperti ini. Dan jadinya, apakah dia bisa survive atau layak berada di dunia yang mungkin baginya sangat menjemukan? Terbayang bagaimana beratnya perjuangan mereka mengalahkan jemunya. Bahkan juga untuk berbagai hal yang sudah merupakan aturan hidup, sangat mungkin orang-orang seperti ini merasa hidup yang tidak bisa dihidupi. Karena mungkin tidak bisa hidup tanpa norma, tanpa agama?

Ahh.. jadi banyak sekali tanda tanya disini. Siapa yang mau menjawab? Saya kan harusnya bercerita bukan banyak bertanya… :))

Tapi yang jelas, di satu celah entah dimana, saya melihat bahwa setiap kita sangat berhak atas kebebasan. Dalam bentuk apapun. Karena jiwa dan pikiran yang bebas adalah sumber bahagia paling utama. Hanya saja kebebasan sering banyak diasumsikan dengan perspektif yang tidak positif. Coba bayangkan, berada di hutan cemara di sisi gunung, sepanjang pandangan ke depan hanya barisan pepohonan dengan ujung panorama gunung, tengadah ke atas tidak ada batas visual, hanya langit biru dan semakin keatas semakin cerah. Lepas itu coba bayangkan berada di bilik 2×2 meter dengan satu pintu keluar selebar 1 meter. Untuk menuju keluar ruangan tempat udara bebas, kamu harus melalui pintu kecil, kemudian belok kanan atau kiri melewati banyak sekali sekat seperti labirin.

Jangan bohongi diri, kepala kamu saja sudah langsung tahu mau pilih yang mana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s