Kolosal Maksimal

We’re just a million little Gods causin’ rain storms turnin’ every good thing to rust!

– Arcade Fire, Wake Up

Manusia. Makhluk dengan segala kehebatan indera dan akal yang ada di setiap inci tubuhnya. Kata Darwin, evolusi terjadi. Dari postur bungkuk dan berambut layaknya primata, hingga menjadi manusia tegak dan rupawan. Homo sapiens. Tercipta dari miliaran sel aktif yang terus melakukan regenerasi, terkumpul dalam suatu bentuk berupa jaringan, lalu menjadi organ yang berfungsi dalam sistem menjadi suatu orkestra yang begitu rapi dan terpola, diberikan otak sebagai pusat dari segala pemikiran dan perilaku, hingga sinkronisasi pun tercipta tanpa cela. Tubuh. Dalam wujud yang paling sempurna.

Lalu rasa diberikan sebagai penyeimbang logika. Ketika emosi pun muncul sejak membuka mata dan keluar dari rahim bunda. Baca lebih lanjut

Iklan

Membebaskan Jemu

Seringkali, apa yang kita cari atau gilai saat ini nantinya hanyalah tinggal sisa-sisa memori. Nantinya akan hanya tinggal satu hal tak berarti dan rela saja ditinggal pergi. Bayangkan jika seseorang tidak memiliki rasa bosan, atau jemu, atau cukup. Betapa monotonnya dunia ini. Bayangkan semua di pandangan dan pengalaman kita sama saja dan tidak berubah. Tuhan.. rasanya tidak sanggup berada di dunia semacam itu. Bagaimana tidak, satu jam di dalam pesawat saja rasa seperti hendak meronta. Heran, tipis sekali sekat jemu di dalam kepala saya.

Ditilik dari asal katanya, “Jemu” diartikan sebagai; sudah tidak suka lagi (makan, melihat, dan sebagainya) karena terlalu sering dan sebagainya; boleh dikatakan penyebab seseorang merasa jenuh adalah perulangan. Sesuatu yang dirasai, dinikmati, dijumpai dengan kerap, sering, berkali-kali. Lantas kenapa sesorang bisa merasa cukup dengan sesuatu yang sering atau berkali-kali? Apa hal mendasar yang menyebabkan ini terjadi? Kalau diteliti melalui kaitannya dengan kinerja otak, atau perasaan orang, sudah pasti saya tidak tahu apa. Hanya saja saya coba telaah mengenai hal ini berdasar logika saja. Baca lebih lanjut

Yang Fana Adalah Mantan, Kebaikan Abadi

Seorang kawan bertanya dalam sebuah kegiatan seminar, “Kamu beneran gak kenal sama Bapak itu? Dia tuh punya banyak aset properti, gelarnya udah Doktor, profilnya berberapa kali muncul di koran dan sering jadi pembicara deh setau gue di beberapa media televisi.”

“Oh iya? Hebat yak. Gue belum kenalan. Hehe.” saya jawab pakai tambahan cengengesan

Kata ‘hehe’ pada akhir kalimat saya coba analisis sendiri. Pertama [mungkin] semacam pernyataan bahwa saya kurang gaul sampai-sampai sinis dalam hati kalau tak mengakrabi media televisi di era sekarang itu adalah kesalahan fatal, yang kedua [mungkin lagi] adalah jawaban bahwa saya tidak peduli. Saya belum mengenalnya, dan tak tahu kebaikan apa yang pernah ia lakukan. Ini sarkastik. Baca lebih lanjut

Ada Apa dengan Basa-basi?

Beberapa teman bertanya, “Liburan gak kemana-mana, ‘dan?”

Aku jawab, “Engga.”

Sebagai seorang ceriwis, kayaknya kurang kalo ga menambahkan satu dua kalimat untuk memperjelas kondisi. Akhirnya diputuskan menambahkan, “Kapan lagi menikmati Jakarta di saat terbaiknya?”

Empat hari ini libur. Nikmat banget. Makan enak, istirahat cukup, dan melakukan banyak hal. Termasuk melakukan hal random seperti berkenalan dengan orang asing di kedai kopi atau festival film dan ngobrol panjang lebar.

Baca lebih lanjut

Kamu Anu, Tapi Anu

Suatu saat ada pertanyaan tentang demokrasi negeri ini –di mana posisinya? Saya bingung bukan kepalang. Saya bukan pengamat, apalagi pengkaji. Setidaknya, saya masih menjaga marwah –yang definisinya kerap salah kaprah– profesi  dan keilmuan. Karena hari ini orang bisa bicara apapun tentang kedokteran meski baru membaca buku populer kesehatan dan tulisan terasimilasi hoax di saluran maya. Cukup sampirkan jenggot dan sorban, didengarnya hafal dua-tiga hadits pun Anda akan dicium tangan bolak balik. Dipanggil Kiai. Yang tak suka pada istilah Kiai mungkin akan memanggil Anda ustadz –dan hebohlah Anda memenuhi jadwal wira-wiri. Lebih-lebih, corongkan kamera ke muka Anda dan bicaralah tentang korupsi dan laknat semua orang yang Anda anggap penuh muslihat, Anda akan dibilang penegak demokrasi dan pemegang tampuk suci kepemimpinan sampai mati. Begitu sialnya negeri ini, memang. Baca lebih lanjut