Sayap yang Berguguran

Dulu, saya berpikir bahwa candaan sarkastik dan gunjingan hanya bersisa di lorong-lorong pemukiman padat. Setidaknya demikian yang melintas di kepala saya ketika harus melewati gang sempit antara Salemba dan Cikini nyaris setiap hari. Nyatanya tidak. Ruangnya semakin menggelembung, bahkan terkoneksi dari satu telepon ke telepon lain. Telepon pintar, smart phone, kata dunia industri. Hiruk pikuk belakangan menegaskan itu hingga terang benderang. Perdebatan, saling unjuk dada dan tuding jari di media sosial menjadi teramat dangkal, tidak melebihi esensi dari lapisan bedak yang melumpuhkan rasa malu.

Beruntung saya menonton “Birdman” untuk menemani kebosanan saya di pesawat selama 13 jam. Innaritu dan Keaton memenuhi segala kapasitas “Birdman “untuk mengkritik, mengoreksi, bahkan untuk sekadar menggunjing dan bersikap nyinyir –di luar keistimewaan artistiknya. Persis dengan apa yang disebut Riggan (diperankan Keaton –tokoh Batman masa lalu) tentang histeria manusia kepada film yang penuh ledakan. Apa yang sedap dipandang tanpa perlu mengerutkan dahi, itulah yang menggairahkan pemirsa. Ruang kontemplatif menyusut seiring makin surutnya kebersediaan untuk diskusi secara filosofis tentang apa yang diperdebatkan secara beramai-ramai di ruang publik. ‘Ledakan’ yang disukai adalah running titlemenghebohkan di media online yang tetiba menjadi media pewarta tanpa mengerti dengan baik bagaimana menyusun berita. Ledakannya semakin besar jika dibagikan dari satu jejaring ke jejaring lainnya.

Tak ada yang peduli pada atsar, riwayat, referensi dan sitasi. Biarkan saja itu ditinggal di ruang akademik, perpustakaan dan majelis ilmu. Media war, katanya, menjadi alasan paling logis untuk bertindak tidak ilmiah. Bahkan, pada beberapa kesempatan, menjadi gegabah karena mengandung fitnah. Mike Shinner (diperankan Norton) menjadi representasi bagaimana popularitas dan upaya menaikkan rating adalah “slutty little cousin of prestige”. Silly, tetapi sukses. Dan sayangnya, kita menyukai pendekatan itu.

Kini separuh dunia adalah hiburan –dan hampir sepenuhnya adalah bisnis, termasuk politik citra yang kian mengesampingkan batasan bagi negarawan yang sesungguhnya. Gemuruhnya adalah riuh pesta citra. Minim presisi tentang makna pengabdian dan kepemimpinan. Batasan itu semakin buyar dan kita menikmatinya tanpa gugatan, tanpa peduli lagi tentang dulu yang kita gagas sebagai visi dan misi. Kegagalan itu menegaskan komentar Tabitha tentang hilangnya marka filosofis sebuah peran. Dunia sosial hari ini berhasil menumbuhsuburkan selebritis, bukan tarung kepakaran pemimpin.

Apalah daya. Politik memang demikian, dan kita sudah begitu nyaman mengambil posisi komentator tanpa modal ilmu dan ketiadaan keasadaran untuk membangun logika. Kita merasa berhak membangun opini apapun, berebutan menempati ruang yang dulu hanya disinggahi oleh reporter berkelas dan mumpuni. Pun ia seorang ‘pakar’, semacam Tabitha, apakah ada kepantasan untuk mengatakan ini jelek dan itu bagus sesuai seleranya?

Muhammad tidak datang dengan cacian, meski ia disemburi seribu olokan. Pun tidak dengan kemarahan, meski ia ditimpuki bebatuan. Ia datang dengan ketegasan tauhid sambil mempertontonkan kesungguhan akhlak yang ia pelihara hingga tak lepas gelar “Al Amin” dari pundaknya. Siapakah tak mengenal Abdullah bin Ubay bin Salul –yang akibat kedatangan Muhammad, gelar raja yang semula akan direngkuhnya menjadi hilang? Ia pentolan kaum munafik, tapi Muhammad tidak melawannya dengan kemunafikan yang lain. Abu Suyfan adalah penentang utamanya yang bersorak saat Hudaibiyah, tapi tak satu kata cemoohan pun keluar dari mulut Muhammad saat Fathu Makkah. Khalid bin Walid adalah komandan Quraisy saat melumpuhkan Muhammad di Uhud, tapi Muhammad menaruh hormat padanya hingga terbitlah kesan mendalam yang membuat Khalid mendekat kepada Islam.

Hari ini kita kehilangan makna –semacam menegakkan fiqih tanpa akidah. Ruku’ sujud-nya tak mengekalkan ihsan –mengaburkan hakikat ‘kannaka taraahu’, bahkan ‘fainnahu yaraaka’. Kalaupun kemenangan yang pantas dicari, kurang layak apakah upaya Amr bin Ash merebut Alexandria? Padahal, tuntun Khalifah Umar, cukuplah mencari sunnah yang terabaikan selama ini. Dan Alexandria bebas tanpa perlawanan. Pasukan Romawi walk out.

Yang hilang dari tekunnya Imam Bukhari menelusuri sejauh asal riwayat hadits yang tak terekam secara fisik, barangkali itu yang perlu diperbaiki. Agar potensi merebaknya rantai berita palsu bisa semakin kita kikis. Karena itulah pembeda ilmu. Yang hilang dari jernihnya gagasan Imam Syafi’i yang menyelisihi gurunya sendiri, Imam Malik, barangkali itu yang perlu ditanamkan kembali. Agar ranting yang bercabangan tak meruntuhkan kokohnya dahan penghormatan dan persaudaraan.

Kalaulah kebenaran yang memang dipertaruhkan, pilihlah jalan Ja’far bin Abu Thalib. Ayahnya menolak tauhid, tapi Ja’far-lah yang menjadi pemimpin dalam ungsian hijrah pertama ke Habasyah. Kecintaannya kepada kebenaran telah ditutup dengan kesetiaannya merawat amanah memegang panji meski kedua tangannya tertebas pedang lawan. Syahid-nya adalah menjemput gelar Ath Thayyar –penerbang. Ia terbang, jauh melampaui jangkauan “Birdman” yang baru selesai dengan kritiknya. Ja’far membuktikan makna konsistensi kepada kebenaran, maka dua lengannya yang putus telah diganti dengan gelar Dzul Janahain –yang memiliki dua sayap. Ya, sayap yang kian hari kian berguguran.

Rotterdam, April 2016

**

Sumber gambar dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s