Sayap yang Berguguran

Dulu, saya berpikir bahwa candaan sarkastik dan gunjingan hanya bersisa di lorong-lorong pemukiman padat. Setidaknya demikian yang melintas di kepala saya ketika harus melewati gang sempit antara Salemba dan Cikini nyaris setiap hari. Nyatanya tidak. Ruangnya semakin menggelembung, bahkan terkoneksi dari satu telepon ke telepon lain. Telepon pintar, smart phone, kata dunia industri. Hiruk pikuk belakangan menegaskan itu hingga terang benderang. Perdebatan, saling unjuk dada dan tuding jari di media sosial menjadi teramat dangkal, tidak melebihi esensi dari lapisan bedak yang melumpuhkan rasa malu. Baca lebih lanjut