Menuli(s)

“Lama gak nulis, otak gue bego,” seloroh seorang kawan lewat obrolan daring. Betul ternyata, dua bulan terakhir otak saya nyaris tumpul merangkai kalimat. Alasan klasik tentunya kesibukan pekerjaan yang bertubi-tubi. Tapi nampaknya saya naif ketika menjadi malas menulis di blog ini. Padahal banyak sekali momen yang sebetulnya sayang jika tidak ditorehkan menjadi sebuah catatan, minimal tentu saja untuk dikonsumsi sendiri sebagaimana tujuan blog keroyokan ini; jadi cendramata yang asik bagi penulisnya mengenang kota Jakarta. Ujar Abah Amin, mana tahu, tahun depan sudah berlabuh di kota atau negara lain. Amin, Abah.

Banyak hal yang ingin ditulis, mulai dari hal-hal serius di kegiatan komunitas, rencana melamar Isyana Sarasvvati, isu-isu sosial politik sepanjang tahun 2015, orang-orang yang asal tekan tombol share di media sosial,- istilahnya ‘sarsersor muncrat-muncrat’- atau hal-hal remeh soal dunia sepak bola atau fotografi. Ide-ide yang hanya membuncah di kepala, minta diledakkan.  Baca lebih lanjut

Oh Sapi Kamu Seksi Sekali

Saya sedang bingung, sedang menghitung-hitung pengeluaran untuk dibelanjakan pakaian. Bukan, ini bukan karena gaya hidup, eh apa bisa dibilang demikian ya? Tapi yang pasti baju-baju yang ingin saya beli ini bukan untuk saya. Ini semua gara-gara sensor TV. Beberapa sensor dilakukan terhadap gambar yang masuk dalam kategori ‘porno’ oleh Komisi Penyiaran Indonesia. Tujuannya seperti yang sudah sering kita dengar adalah untuk menyelamatkan bangsa agar tidak mudah berpikiran kotor.

Tentunya jika mengacu pada kata porno, dari kamus KBBI artinya 1. Pornografi 2. Cabul, sehingga membuat kita mau tak mau mengetik lagi dua kata ini pada mesin pencari.

por·no·gra·fi n 1 penggambaran tingkah laku secara erotis dng lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi; 2 bahan bacaan yg dng sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi dl seks

Oke.

ca·bul a keji dan kotor; tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan).

Baik, dimengerti.

Kira-kira gambar seperti apa yang bisa membangkitkan nafsu berahi? Belahan dada? Payudara? Rok mini dengan paha mulus? Bokong? Alat kelamin?

Hal lain pun tidak luput disensor oleh KPI yang tidak dalam kategori ‘pornografi’ atas alasan yang garis besarnya adalah agar tidak menimbulkan KEINGINAN, seperti adegan merokok disensor agar penonton tidak punya keinginan atau bahasa sunda gaulnya ‘kabita’ ngerokok. Baca lebih lanjut