Setapak Senyap Muhidin M. Dahlan

10922569_10203854435427428_7813537766879373254_n

Seorang kawan menulis, “Yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.” Ya, membaca memang selalu menyediakan ruang perenungan, ada jeda yang akhirnya bisa menakar ulang teks. Ini berimbas pada kehati-hatian ketika hendak melontarkan sesuatu. Bagi orang-orang yang mengkhidmati proses membaca, berkomentar sebisa-bisa ditimbang dengan matang agar tak jadi ucap prematur yang asal hambur.

Membaca yang kerap diikuti dengan menulis, di semesta dunia literasi memang tak bisa dipisahkan. Orang yang banyak baca, sekiranya dia menulis, pasti tulisannya ga jelek-jelek amatlah, begitu kira-kira. Dan sekali ini saya hendak menghamparkan satu kisah pendek, tentang seorang yang bergelut dan memilih jalan hidup sebagai pembaca dan penulis. Baca lebih lanjut

Iklan

Pamit

Source: here

Jumat pekan yang lalu, saya pulang cepat dari kantor. Memang pekerjaan di hari itu sudah habis, bahkan hampir separuh waktu saya di kantor malah dihabiskan untuk menulis makalah yang hendak saya lombakan, kuliah daring, hingga numpang tidur siang. Saya menemani teman saya yang harus mewawancarai seorang narasumbernya di mall seberang kantor. Pokoknya, di hari itu, saya benar-benar kosong melompong.

Namun, hari yang kosong itu tidak membuat pikiran saya kosong. Sewaktu meninggalkan kantor, tak jauh dari lokasi saya terjebak macet akibat kereta yang lewat, saya mendengar suara yang mengejutkan sekali. Baca lebih lanjut

Nebraska

Source: flip.it/nerbraskamovie
Source: flip.it/nebraskamovie

Berapa kilometer Anda pernah berjalan kaki tanpa arah dan tujuan seorang diri? Saya pernah mencicipinya dari Gelora Bung  Karno hingga depan gedung walikota Jakarta Selatan di sekitar Blok M sana. Juga pernah jalan kaki dari terminal Pondok Kopi hingga Perkampungan Industri Kecil di Penggilingan.  Keduanya dilakukan jelang matahari terbit dan terbenam.  Mulanya memang tanpa tujuan, tetapi dari situlah banyak hal yang saya temui hingga punya keinginan kuat untuk mendokumentasikannya suatu hari lewat tulisan maupun gambar-gambar.

Apa yang saya lakukan berbeda dengan seorang Woody Grant (Bruce Dern) Baca lebih lanjut

Ojek Bang!

image

Saya pengguna ojek, jauh sebelum perusahaan Gojek dan Grab Bike lahir. Saya lahir di Jakarta dan sudah merasakan Jakarta macetnya amit-amit dari mulai saya SMP di tahun 1997, bayangkan hari ini keadaan masih saja sama dan cenderung memburuk. Hingga pada akhirnya, ayah saya berhenti mengantarkan anak-anaknya ke sekolah dengan mobil akibat kemacetan yang membabi-buta, kemudian ia memanggil tukang ojek setempat untuk mengantar kami 3 kakak beradik ke sekolah setiap hari.

Saat diantar menggunakan motor, saya merasakan bahagia luar biasa, karena tadinya yang terjebak 1 jam di jalanan bisa dikorting hingga setengahnya. Baca lebih lanjut