Suasana yang Begitu Jauh

Ini adalah Idul Fitri pertama saya di Indonesia sejak empat tahun terakhir. Saya sudah lupa seperti apa yang namanya takbiran. Beberapa hari sebelum lebaran, pasti saya sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta dengan tiket di tangan. Saya lupa seperti apa harumnya opor ayam buatan tetangga dan gema dari Masjid untuk Salat Ied. Entah, tahun ini memang saya sudah tidak lagi menginginkan meninggalkan Indonesia. Di negeri yang jauh, saya tak bisa lagi merasakan suasana lebaran yang semestinya.

Saya memang tidak pernah ikut berlebaran. Namun, saya selalu suka dengan suasana lebaran. Apalagi ketika saya tidak berada di Indonesia, suasana itu terasa begitu jauh. Saya suka berputar ke pasar tradisional dan membeli bungkus ketupat yang kosong. Tak saya isi, hanya saya mainkan saja. Saya juga sering menyaksikan orang yang melintas di depan rumah saya hanya untuk bertakbiran. Baca lebih lanjut

Iklan

Ramadan dan Mereka Yang Sudah Berpulang

ilustrasi_ramadanpulangAbukhori terduduk lesu di sudut teras yang berdekatan dengan sebuah toilet. Separuh hari baru saja ia lewati ketika azan zuhur berkumandang dari masjid yang jaraknya 300 meter. Hari begitu menyengat di pertengahan Ramadan ini. Tak ada makan siang, kepulan asap rokok, dan secangkir kopi sebagai pelepas penat sekaligus sumber tenaga baru. Lelap, ia pun tertidur di teras tersebut.

Sudah 25 tahun lebih ia berprofesi sebagai tukang di sebuah klinik swasta di bilangan Bekasi Barat. Jika dikalkulasikan usianya kala itu yang masuk di angka 50, berarti setengah umurnya habis untuk pengabdian dan loyalitas. Siapa yang mengenalnya bakal menyebut kalau ia manusia serba bisa. Ia bisa menginstalasi listrik, pemugar bangunan, peracik arsitektur, bahkan petugas parkir yang handal. Untuk keahliannya yang terakhir ia kerap jalani usai magrib tiba. Kala pengunjung klinik ramai-ramainya.
Baca lebih lanjut

Jacatra

jakarta_manggarai

Jakarta adalah kota yang merebut kemutakhirannya dengan mengintervensi bekas-bekas keusangannya.

Pada dini hari itu, saat para bhikku sedang berkemas menyiapkan Waisyak, saya nyangkruk di salah satu sudut Bundaran Hotel Indonesia (BHI). Angin tak begitu kencang, jalanan –seperti biasanya jika sudah dini hari—terlihat lebih sunyi. Sementara bulan tampil dalam sosoknya yang “penuh-seluruh”.

Situasi macam ini yang mungkin membuat Rendra bisa menulis sajak “Bulan Kota Jakarta”:

“Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya
….
Bulannya! Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
Bocah pucat tanpa mainan
….
Bulanku! Bulanku!
Tidurlah, sayang di hatiku!”

Baca lebih lanjut