Jakarta dan Hal-hal yang (Tak) Terlupakan

Jujur saja, sebenarnya beberapa hari ini saya belum memiliki niat untuk menulis tentang Jakarta yang mana baru saja melangsungkan hajatan sederhananya setelah dia bertambah usia. Huh! Tambah tua saja kota ini. Itulah gerutu saya ketika kemacetan sedang mendera saya di tengah jalan, ketika baru saja pulang kantor dan orang-orang sedang sibuk membeli makan untuk berbuka puasa.

Memang benar kalau orang bilang ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Saya sudah membuktikannya. Ketika saya masih berada di Bandung, jarak tempuh dari tempat tinggal ke kampus masih bisa diprediksi. Sementara hidup di Jakarta, saya harus menambah durasi minimal satu jam untuk menempuh ke tempat tujuan, semisalnya saja kantor. Kadang saya berpikir, ini pula yang dilupakan oleh orang-orang yang hidup di kota besar seperti Jakarta: mereka akan menua di jalan-jalan Jakarta yang penuh sesak dan peluh ini.

Apalagi kota yang dipimpin oleh Ahok ini baru saja mendapatkan anugerah yang paling prestisius di dunia: Kota Termacet Sedunia. Tidak mengherankan apabila sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, Anda yang berjalan kaki juga akan ikut terkena macet. Awalnya, saya pikir ini hanyalah kesalahan manajemen dari pemerintah, tetapi setelah menjalaninya sendiri mungkin saya kehilangan satu jejak baru: masyarakat yang egois.

Beberapa hari yang lalu, saya sedang berdiskusi dengan seorang klien saya di sebuah kedai kopi di kawasan Cideng. Kami memandangi macet bersama. “Saya belum mau pulang,” katanya. Lantas saya bertanya,”mengapa?” Jawabannya sederhana: macet. Huh, klise! Namun, saya juga tetap di dalam kedai kopi itu sampai larut malam. Sampai jalanan mulai lenggang dan tidak lagi terdengar teriakan klakson dari mobil dan motor. Semua mendadak tertib.

Sesampainya di rumah, saya langsung merebahkan tubuh saya tanpa mencopot sepatu. Malam itu, saya tidur dengan sepatu saking lelahnya. Bangun pun tak lagi bisa. Besok harus kembali ke kantor. Kadang saya berpikir, haruskah saya meninggalkan kota ini lagi untuk kembali hidup tertib dan tertata dengan baik seperti saya berada di Bandung. Semua bisa diprediksi, bahkan saya pun tidak perlu merasa lelah harus hilir mudik dari Bandung Utara hingga tersesat ke Cimahi.

Jakarta kejam? Ya. Saya setuju kalau Jakarta memang kejam. Namun, saya pun dihidupi olehnya secara tidak langsung. Uang berputar sedemikian cepat di kota ini. Namun, waktu yang berputar tak kalah cepatnya mendadak melenyap dan tiba-tiba saya merasa wajah saya mendadak lebih tua ketika berada di kota ini. Bisa saja suatu hari kota ini membuat kita merasa sakit, lahir maupun batin.

Atau mungkin kelak, saya ataupun Anda akan mati di kota ini. Kota yang disebut oleh seorang Ali Zaenal sebagai Kota Kejam Kesayangan.

ps: oh, ya, saya sengaja datang pagi ke kantor supaya bisa menulis soal ini (sebelum saya bertambah tua di jalan), hehehe…

Jakarta, 25 Juni 2015

Salam,

A

 

Picture source:  trekearth.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s