Satrio Piningit dan Kaum Oposan

Semar. Sebuah lukisan karya V.A Sudiro yang dipamerkan di Museum Wayang, Kota Tua, Jakarta
Semar. Sebuah lukisan karya V.A Sudiro yang dipamerkan di Museum Wayang, Kota Tua, Jakarta

Sejak era reformasi bergulir yang ditandai dengan lengsernya pucuk pimpinan Orde Baru, media tiba-tiba rajin menulis ihwal Satrio Piningit. Tokoh ini tentu saja lahir dari literatur Jawa namun mampu mengusai isu nasional. Tersebutlah seorang sakti mandraguna yang saking saktinya sampai bisa memprediksi tentang akan datangnya seorang pemimpin yang cerdas, jujur, dan tingkah lakunya lurus dan benar.

Pasca amuk massa 1998, masyarakat rindu dengan pemimpin yang digadang-gadang hendak datang sebagai penyelamat kehidupan yang terlanjur sudah remuk. Ekonomi hancur, hukum doyong berderak-derak, pergaulan sosial memanas dengan konflik, dan lain-lain. Maka isu Satrio Piningit menemui titik didihnya yang paling massif.

Isu yang sangat empuk ini kemudian digoreng oleh media dengan cukup brutal. Dengan kalkulasi keuntungan yang menggoda dan tenaga pemberitaan yang bergenit-genit dengan tema dan materi, maka banjir deraslah kabar tentang pemimpin keren ini. Bagaimana tidak, Orde Baru yang waktu kerusuhan itu sah untuk dilekatkan kepadanya nama-nama busuk, bajingan, dan bangsat, adalah pembanding yang sempurna untuk melahirkan siapa saja yang dianggap lebih mulia untuk diangkat menjadi Satrio Piningit. Baca lebih lanjut

Iklan

Tiga Hal yang Membuat Saya Rindu dengan Bandung

Jujur saja, saya masih belum bisa move on dari Bandung meski sudah meninggalkan kota itu hampir setengah tahun dan kembali ke tempat saya berasal, Jakarta. Padahal waktu yang banyak semasa saya bersekolah di sana lebih banyak tersita di jalan-jalan Bandung. Bermain, nongkrong, hingga tersesat di kota Paris van Java itu. Sayangnya, tiga setengah tahun di sana belumlah cukup untuk mereguk seluruh keinginan saya tentang Bandung, seperti memiliki rumah di Jalan Hegarmanah atau memiliki kedai kopi di kawasan Braga. Well, memang itu semua tidak bisa ditempuh dalam waktu yang singkat sedemikian rupa, tetapi itu semua hanyalah alasan saya agar saya bisa kembali ke Bandung meski kini berada di Jakarta.
Baca lebih lanjut

Jakarta Harus Segera Istirahat

jakarta_rehat

Salah satu hal yang kerap saya syukuri adalah bahwa ibukota Indonesia tidak jadi pindah ke Bandung. Puji Tuhan untuk krisis ekonomi dunia yang membuat Belanda keteteran dalam dana. Anggaplah kantor pusat Pos, Telkom, dan Kereta Api sebagai pemerataan tak sengaja dari sebuah musibah rencana. Zaman yang bergegas—tak perlu jadi ibukota negara– kini menyeret Bandung menjadi kota yang—seperti juga Jakarta, ringkih dengan segala persoalan kontemporernya. Tapi karena skalanya belum terlalu luas, dan eskalasi konflik sosial masih tidak terlalu tinggi, maka saya masih bisa menyisakan beberapa rindu pada kota ini.

Tapi lihatlah Jakarta. Rindu macam apa yang bisa nyangkut di kota itu? Kanal-kanal program televisi diolah di Jakarta, lalu mengusai langit Nusantara. Gosip-gosip rumahtangga dianggap risalah mulia sehingga mesti tersebar di segenap tumpah darah. Jurnalis saling tuduh tentang siapa yang bermental “korang kuning”, tapi kita tahu bahwa berita bocah malang Angeline disajikan sedemikan rupa layaknya infotainment-infotainment teman ibu-ibu rumahtangga haus hiburan. Di tv, ulangtahun dan persoalan Jakarta dibahas berulang-ulang, ngana pikir orang-orang di provinsi lain butuh tahu? Toh, satu gerbong kereta api bernuansa Jakarta pun tak berarti apa-apa buat orang-orang di Atambua, yang untuk makan pun susah. Baca lebih lanjut

Jakarta dan Hal-hal yang (Tak) Terlupakan

Jujur saja, sebenarnya beberapa hari ini saya belum memiliki niat untuk menulis tentang Jakarta yang mana baru saja melangsungkan hajatan sederhananya setelah dia bertambah usia. Huh! Tambah tua saja kota ini. Itulah gerutu saya ketika kemacetan sedang mendera saya di tengah jalan, ketika baru saja pulang kantor dan orang-orang sedang sibuk membeli makan untuk berbuka puasa.

Memang benar kalau orang bilang ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Saya sudah membuktikannya. Ketika saya masih berada di Bandung, jarak tempuh dari tempat tinggal ke kampus masih bisa diprediksi. Sementara hidup di Jakarta, saya harus menambah durasi minimal satu jam untuk menempuh ke tempat tujuan, semisalnya saja kantor. Kadang saya berpikir, ini pula yang dilupakan oleh orang-orang yang hidup di kota besar seperti Jakarta: mereka akan menua di jalan-jalan Jakarta yang penuh sesak dan peluh ini.

Apalagi kota yang dipimpin oleh Ahok ini baru saja mendapatkan anugerah yang paling prestisius di dunia: Kota Termacet Sedunia. Tidak mengherankan apabila sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, Anda yang berjalan kaki juga akan ikut terkena macet. Awalnya, saya pikir ini hanyalah kesalahan manajemen dari pemerintah, tetapi setelah menjalaninya sendiri mungkin saya kehilangan satu jejak baru: masyarakat yang egois. Baca lebih lanjut

Selamat Ulang Tahun, Kota Kejam Kesayangan

Tirulah ke-pede-an pengendara roda dua di Jakarta. Di jalur sebelum masuk sebuah gang sempit, kaki mereka masih bisa berfungsi sebagai penanda bahwa ia akan belok. Padahal lampu sein tetap menyala dan kaca spion pun masih utuh. Bahkan ketika armadanya sedang mengangkut gembolan banyak sekalipun.

Untungnya kaki mereka hanya mengayun beberapa derajat saja. Bayangkan kalau sampai ahli kesehatan menganjurkan akurasi kaki yang baik saat berbelok adalah 90 derajat. Tentunya bakal banyak tontonan akrobatik di jalanan Jakarta. Ini terjadi bukan hanya di satu titik. Di marka dan jalan-jalan protokol bahkan hal serupa sering kita temui. Baca lebih lanjut