Dilarang Berkerut

Dilarang-berkerut

Rekan saya sedang mengeluh betapa susahnya menyusun kalimat pada paragraf pertama sebuah tulisan. Sebagai pekerja paruh waktu, ia kerap ditagih setoran artikel oleh atasannya yang bawelnya minta ampun. Padahal bukan kali ini saja ia mengalami hal serupa. Sejak surat kabar tempatnya bekerja beralih fungsi menjadi media daring pada awal November tahun lalu, ia menjadi kutu loncat sebagai kuli tinta di berbagai ranah. “Sekalian fokus nyelesein buku nih, bro,” ujarnya. Anehnya, keluhan soal paragraf pertama tersebut cukup lancar ia sampaikan lewat tombol-tombol papan ketik dari gawainya yang keren itu.

“Gila. Lu ngeluh sulit nulis di paragraf awal, sementara bilangnya aja lebih satu paragraf lewat WhatsApp,” hardik saya geram. Baca lebih lanjut

Iklan

Hidup (tidak) Serumit Pikiran Kita

hidup_ilustrasi

Sebagai manusia yang meniti karir di kota metropolitan, saya terkadang merasa hidup ini begitu rumit. Serumit itu, bahkan untuk menikmati akhir minggu dengan tenang pun saya merasa ragu karena harus menyiapkan pekerjaan di hari Senin. Segala pikiran mengenai apa yang harus saya lakukan di hari Senin selalu menyapa ketika saya terbangun di hari Minggu. Padahal, hal-hal tersebut pada akhirnya baru akan dikerjakan di hari Senin dan pada dasarnya apa yang saya lakukan di setiap hari Senin adalah pengulangan dari Senin-Senin sebelumnya. Jadi, untuk apa saya pusing di hari Minggu?

Kebanyakan dari kita sibuk memusingkan hal yang belum terjadi, kebanyakan dari kita mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. “Bagaimana jika di meeting hari Senin nanti saya dibantai oleh atasan?”, “Bagaimana jika data yang saya sajikan salah?”, “Bagaimana jika target saya bulan ini tidak terpenuhi?”, dan puluhan kekhawatiran lain selalu menyelimuti kita hampir di setiap hari, jam, menit, bahkan detik. Tidak bisakah kita duduk sebentar di teras depan rumah sambil ditemani secangkir teh atau kopi untuk menikmati akhir minggu tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi di hari Senin?

Tidak jarang juga kita dipusingkan dengan pemikiran orang lain. Kita sibuk mencitrakan diri supaya tidak dinilai buruk oleh orang-orang yang mungkin sebenarnya tidak sepeduli itu, kita sibuk menunjukkan kesibukan kita di media sosial, sibuk pula menunjukkan kebahagiaan yang kebanyakan hanya pencitraan supaya dinilai kita menikmati hidup kita. Untuk apa segala pencitraan itu jika pada akhirnya kita sendiri tidak menikmati? Baca lebih lanjut

Ojek

kurabatok

“Kota bukanlah hutan beton, kota adalah kebun binatang manusia” ~ Desmond Morris

Beberapa hari belakangan, saya kebanjiran kabar dari tiga orang rekan tentang sebuah layanan jasa transportasi ojek yang dikemas secara tak biasa. Para pengemudinya dibekali perangkat modern seperti GPS untuk mendeteksi lokasi tujuan. GPS yang dimaksud tentu saja perangkat layanan peta khas Google yang tertanam di setiap armadanya. Seringkali kita mengejek para tukang ojek dengan sebutan “GPS” itu sendiri.

Selain itu, masih kata rekan saya, pengojek tak biasa ini diseleksi secara ketat untuk memudahkan penumpang mengenal pengemudi yang akan memboncengnya. Tiga rekan saya bahkan sudah berlangganan jasa transportasi ini. Mereka tertarik karena selain jasa layanan antar jemput manusia, mode transportasi yang dikemas secara tak biasa ini juga mampu melayani aneka kebutuhan sehari-hari seperti mengambil barang dan aneka keperluan lainnya. “Saya sering minta dia beli obat ke apotik buat si kakak yang masih rawat rumah,” terang rekan saya yang saban hari pulang pergi ngantor Cipulir – Kuningan. “Enak sih, tinggal panggil di aplikasi ponsel,” terang rekan saya yang lain.

Lantas saya bertanya dalam benak, bagaimana nasib tukang ojek yang ada di setiap ujung gang? Baca lebih lanjut

Obrolan Sopir & Kernet; Grogol di Waktu Malam

kernetsopir

Hidup di rantau memang tidak pasti apalagi kalau orang tersebut tidak memiliki skill, yang tentu saja bisa diandalkan untuk bersaing. Namun kenyataan sehari-hari para urban di kota Metropolitan Jakarta tidak terlalu memusingkan soal keahlian ini. “Ah, kalau soal ahli, semua orang pasti punyalah,” celetuk saudaraku sebangsa, Parlindungan, yang sudah 5 tahun terakhir ini jadi sopir biskota. Sebelumnya, Parlin, panggilan akrabnya, ke Jakarta mau nerusin kuliah. Sayang, baru semester 5, dia drop-out karena among-nya (bapak) di kampung sana keburu dipanggil Yang Maha Kuasa.

“Ahli apanya yang Lae maksud?” tukas Si Soduon, kernet Parlin. “Bukankah keahlian itu didapat dari bangku sekolah?” lanjut Soduon, yang cuma tamat SMP.

“Betul kata kau… Tapi, keahlian dari bangku sekolah itu kan namanya keahlian teoritis. Tapi, yang utama adalah keahlian karena talenta yang kau punya?”

Baca lebih lanjut