Lorong yang Berdinamika

Salah satu rute yang saya gunakan ketika pulang kerja menuju rumah adalah melintasi gang sempit yang cukup padat menuju stasiun UI.  Bagi orang Depok, tentunya sudah familiar dengan gang tembus dari jalan margonda menuju stasiun UI ini. Lokasinya persis bersebelahan dengan es pocong yang cukup fenomenal.

Gang selebar tidak sampai 2 meter ini laksana sebuah lorong yang akan memerangkap dalam dunia lain. Lorong tersebut menjadi salah satu akses strategis bagi sesiapa yang dari dan menuju UI. Di sekitar jam 7 malam lorong penuh sesak dengan mahasiswa UI dan juga pejalan umum yang lalu lalang pulang dari beraktivitas. Di kanan dan kirinya dihiasi oleh para pedagang pernak-pernik, asesoris handphone, toko buku, souvenir kampus, kaca mata, sabuk, bahkan hingga cilok. Saya membayangkan seperti masuk ke dalam lorong pasar-pasar di Timur Tengah yang pernah ditonton di televisi atau mungkin seperti china town-nya Singapura kw tujuh. Hehehe. Baca lebih lanjut

Iklan

Dunia 1 Ubin

IMG_20141114_075510

Pukul 5 pagi adalah waktu paling maksimal mata saya tertutup dan terbuai mimpi. Bangun dalam kondisi seolah dikejar kereta membuat aktivitas pagi seperti lari maraton. Bukan tanpa alasan. Semenjak saya tinggal di Depok, perjalanan ke kantor tempat saya bekerja di kawasan MM 2100 Cibitung sana memang terasa sekali perjuangannya.

Beberapa kali saya trial dengan teknik dan rute yang berbeda-beda:

Pernah naik motor langsung dari rumah ke kantor. 80 menit di perjalanan, yang mana semangat ketika pagi berangkat, tetapi mengantuk di sore ketika pulang. hooaaammm…

Pernah naik motor sampai Pasar Rebo, titip motor di sana dan lanjut naik bus menuju rest area km 19 yang kemudian naik minibus antar jemput karyawan sampai ke kantor. Baca lebih lanjut

Jakarta dan Kultur Urban

Tak dapat ditampik, Jakarta dengan seribu wajahnya menampilkan janji yang cukup menggoda setiap insan untuk merengkuh pesona kelimpahan kapital.

Meski tentu wajah suramnya selalu hadir secara telanjang di jalanan, mal, bis kota, dan di tempat-tempat lain,tempat bermukimnya kaum miskin kota. Dengan beragam modus dan ekspresi, masyarakat Jakarta—dengan kultur urbannya—tampil bersolek. Berbagai ekspresi, baik etis, estetis, maupun politis, serentak berubah seiring formasi diskursif yang turut berkembang saat ini.

Persoalan ekonomipolitik pun turut memengaruhi perilaku budaya masyarakat saat ini.Bahkan, dalam arti tertentu, domain ekonomi dan politik lebih memengaruhi ketimbang beberapa dimensi di atas. Melalui narasi besar kapitalisme, industrialisasi mengalami tingkat ekstensifikasi diri hingga melampaui ruang dan waktu.Fenomena terebut kemudian membentuk kesadaran masyarakat ke dalam jejaring simulakra bertabur citra dan tanda.

Tak ada lagi batas teritori dan waktu. Semua seperti melintas cepat tanpa batas apapun. Apa yang dirayakan di Eropa, Amerika, dan belahan dunia manapun, kini bisa dirayakan dan disaksikan di sini dan saat ini. Kekinian atau kebaruan pun serentak menjadi satu tanda penting bagi pencitraan diri masyarakat saat ini. Baca lebih lanjut